Senin, 01 Januari 2018

Pendakian Gunung Raung: Puncak Sejati 3344 mdpl




Ini adalah cerita tentang pendakian yang telah lama menjadi impian, impian terliar dari seorang anak lelaki yang ingin menaklukan dirinya pada pendakian gunung yang berpredikat sebagai puncak dengan pendakian paling berbahaya di Pulau Jawa. Gunung Raung, terletak di pinggiran pulau jawa bagian wetan tepatnya perbatasan antara Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso. Gunung yang dari namanya saja telah banyak membuat ciut nyali pendaki manapun karena kewingitan track pendakian yang terkenal terlampau ekstrim untuk didaki. Dan Puncak Sejati adalah puncak tertinggi pada gunung ini, 3344 mdpl yang telah diimpikan sejak lama-lamaaaa sekali, my wildest dreams!!
Semenjak lulus kuliah aku belum pernah mendaki gunung lagi. Diterima kerja di salah satu BUMN yang kemudian membuat banyak waktuku tersita oleh kesibukan hampir setahun lamanya, opportunity cost yang harus dijalani. Sampai waktunya tiba buat pegawai baru untuk ambil cuti. Aku dapat 8 hari cuti proporsional, sudah sejak laaaaama hari cuti ini dinanti-nanti. Jauh-jauh hari sebelum hari H, sudah kukabarkan pada teman rencana pendakian Raung. Aris dan ferdian bergabung dalam misi. Semua persiapan logistik juga bagaimana nanti pendakian termasuk cari guide dan penginapan, persiapan waktu tempuh atau medan-medan yang harus dilalui, tenda dll juga keperluan pendakian yang lebih spesifik seperti gear dan temalian semua Aris yang siapkan. Dia ini temanku yang amat sangat bisa diandalkan sekali banget kalau urusan pendakian. Junior di kuliah dan senior dalam pendakian. Teman ngopi dan berbagi cerita tentang buku-buku filsafat dan apapun atau puisi-puisi yang kami bacai dulu di jaman kuliah. Kami memilih reuni di gunung Raung. Kemudian ada Ferdian, teman ngopi dari kota asal yang juga sedang haus petualangan. Segala persiapan mengenai pendakian telah dipenuhi, persiapan fisik, mental dan finansial semua sudah oke. Tanggal pendakian telah ditentukan, hari cuti juga sudah dibuku, waktunya kita kemon...
Sabtu pagi, 11 Maret 2017 aku berangkat ke perempatan Sumberrejo untuk nyegat bus diantarkan ibukku. Ini kali pertama ibuk ngantarkan aku buat pendakian gunung yang diawali dengan pamitan ke ibuk, dan mungkin kali terakhir pendakian gunung sebelum vakum agak lama nanti. Dari perempatan Sumberrejo langsung ambil bus jurusan Bungurasih dan selanjutnya ke Malang. Aku harus ke Malang dulu untuk ngantarkan paspor simbah ke om dan bulik. Di jalan segera ku WA adekku si Uga yang kuliah di malang untuk pesankan tiket stasiun Malang-Kalibaru (Banyuwangi) karena ternyata pemesanan online lewat KAI Access belum bisa memfasilitasi untuk pemesanan dadakan. Uga juga kusuruh untuk belikan baju flanel untuk ndaki nanti. 
 Tiket keberangkatan dari stasiun Malang menuju stasiun Kalibaru berada pada jam keberangkatan pkl 15.55 dengan harga Rp. 62.000,-, paspor kutitipkan adek, tak sempat bertemu om dan bulik yang masih dalam perjalanan karena rupanya jalanan Malang sedang macet. Ahh Malang, rindunyaaaa, kota tempatku berkembang dan belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa. Ferdian berangkat dari Bojonegoro menuju stasiun Surabaya dan bertolak langsung ke Kalibaru dari sana. Sedang Aris telah lebih dulu bertolak ke Jember mampir ke rumah eyangnya, dan hari itu juga dia telah menunggu di Basecamp sejak sore hari. Pkl 21.50 aku sampai di stasiun Kalibaru, Ferdian telah menunggu disana. Dengan raut muka yang sama-sama gambarkan kelaparan, kami mampir di warung emperan samping stasiun dan makan nasi goreng. Sudah kenyang, saatnya cari ojek dan langsung menuju basecamp pendakian bu Soeto yang disana Aris sudah menunggu. Harga ojek dari stasiun Kalibaru menuju Basecamp Rp. 35.000,-. Kami bertemu Aris dan bu soeto, setelah berckap-cakap (niatnya sebentar langsung tidur, tapi sudah bisa ditebak gimana kalo ketemu teman lama yang lama ndak ketemu dan ketemu orang baru bu Soeto dalam hal ini) kemudian langsung istirahat guna siapkan energi terbaik untuk pendakian. Rasanya malam itu lebih indah melek daripada tidur, karena tempat yang selama ini begitu diimpikan tak lagi dalam mimpi melainkan telah berada di depan mata. 
Minggu pagi sekali, 12 maret 2017, udara terasa teramat sejuk di kaki gunung Raung. Bu Soeto sedang memasak di dapur buat sarapan dan bekal pendakian kami. Kami bertiga telah mandi dan selesai berjamaah subuh. Usai perlengkapan dirapihkan dan pembagian logistik untuk disimpan di masing-masing keril, kami santai sejenak dan menikmati sarapan dan teh hangat sambil bersenda gurau seadanya, full tankkkkk. Datang kemudian bang Aldi menyapa kami. Bang Aldi adalah guide yang akan memandu pendakian Raung kami. Untuk pendakian Raung, pendaki diwajibkan untuk menggunakan jasa pandu guide, mengingat medannya yang sangat terjal dan ekstrim. Juga dari para guide inilah yang memandu kami kapan dan bagaimana gear pendakian harus digunakan. Biaya jasa guide di Raung adalah Rp. 300rb perhari. Bekal logistik dan tenda dari guide ditanggung oleh tim pendakian. Setelah semua siap, pastikan barang-barang tak ada yang tertinggal, kami berangkat menuju pos 1. Untuk menuju pos 1 (980 mdpl) pendakian Raung pendaki bisa menggunakan jasa ojek. Dari basecamp bu soeto ke pos 1 memakan waktu tempuh ojek 20-25 menit dengan biaya Rp. 50.000,- / pendaki. Menurutku alangkah lebih baik untuk menggunakan jasa ini, bukan perkara “pendaki kok ngojek” atau gimana tapi mengingat medan yang super berat menanti didepan sana, itung2 save energi dan bekal. Pos 1 ini berupa rumah terakhir dari salah seorang penduduk di kaki gunung Raung. Disini juga kita bisa pesan segelas kopi, dan juga bisa beli kopi khas Raung.
Perjalanan dari pos 1, menuju pos 2 adalah yang paling panjang tracknya. Dimulai pkl 7.20, pada awalnya tumbuhan di samping kiri kanan didominasi oleh perkebunan kopi milik warga. Dari keterangan bang Aldi, masih sering ditemui spesies kucing hutan atau macan tutul di sekitaran kebun kopi ini. Perjalanan makin lama kian rimbun dan lumayan menanjak, vegetasi pun berubah berganti vegetasi hutan. Pkl 11.08 kami sampai di Pos 2 (1431 mdpl), hampir 4 jam perjalanan. Pos 2 berupa hamparan lahan yang cukup luas, dan banyak sekali seresah (guguran daun di tanah), disini kami rehat sejenak untuk makan siang. Cuaca telah semakin buruk, diperjalanan kami seringkali kehujanan. Kabut seringkali datang dan hinggap. Setelah cukup kami sandarkan kaki dan mengisi energi, lanjut lagi perjalanan menuju pos 3. Ada 2 jalur yang bercabang, dan disinilah tugas guide untuk memandu kami memilih jalan yang benar menuju puncak, karena jalan satunya adalah jalan yang dibuat penduduk sekitar menuju perkebunan kopinya. Dari pos 2 ke pos 3 tak memakan waktu banyak, sekitar 1 jam saja.  Pos 3 (1656 mdpl) tak lebih luas dari pos 2. Kami singgah hanya sebentar saja disini sekedar untuk mampir minum. Perjalanan dilanjutkan menuju pos 4. Memakan waktu lumayan lama untuk sampai di pos 4, sekitar 2 jam dan pada pkl 15.34 kami sampai di pos 4 (185 mdpl).
Pos 2 (1431 mdpl)
Pos 3 (1656 mdpl)
Setelah rehat sejenak di pos 4, jalan menuju pos 5 mulailah sangat curam. Walau tak memakan waktu lama, yakni sekitar 45 menit saja untuk sampai di pos 5, pendaki harus berhati-hati pada track jalan mulai dari pos 5 ke atas. Dari pos 5 (2115 mdpl) kami langsung lanjutkan pendakian menuju pos 6 yang memakan waktu lebih singkat lagi namun dengan track yang jauh lebih curam, 30 menit dari pos 5 untuk sampai di pos 6 (2285 mdpl). Kami banyak beristirahat di tiap pos, keletihan akibat tanjakan curam nya benar-benar menguras energi. Pendaki harus berhati-hati dalam menentukan pijakan kakinya. Dari pos 6 ke pos 7 memakan waktu tempuh 1 jam, dan sekitar pkl 21 kami sampai di pos 7 Pondok Rasta (2541 mdpl), tujuan kami di hari pertama pendakian tercapai. Pondok Rasta merupakan tempat yang luas, dan merupakan tempat strategis untuk bermalam dan mendirikan tenda, biasa digunakan pendaki untuk serbuan puncak. Selamat malam selamat beristirahat, esok hari penting sekali.
 Pkl. 02 senin dini hari, 13 Maret 2017, alarm Aris berbunyi. Dia ingatkan kami untuk segera bersiap. Molor 1 jam mengingat udara yang kelewat dingin diluar tenda, juga keletihan yang awet sekali mendera. Pkl 03 lebih banyak menit, kami baru bisa paksakan mata dan seluruh badan untuk bangun. Dengan tubuh yang terasa amat berat juga melawan rasa pegal dan dingin yang menusuk-nusuk, kami harus bersiap. Bangun pagi untuk serbuan puncak ini yang bagiku dan  mungkin juga pendaki lain jadi momen terberat saat pendakian, karena di dalam tenda adalah jebakan zona nyaman yang seolah jadi tempat teraman di dunia saat pendakian, dan diluar tenda adalah tempat yang amat berbahaya. Benar saja, baru resleting tenda dibuka dan udara gunung yang super dingin menyelinap di sela-selanya hampir saja merontokkan nyali kami. But damn we talk to ourselves it is now or never, the show must go on. Raung summit attackkkkkkkkkk!!
 
 Berbekal perlengkapan seperlunya dan logistik kami berangkat. Masih ada 2 pos lagi di depan. Untuk sampai di Pos 8, kami harus melewati beberapa punggungan bukit dan juga sesekali melipir di samping bukit. Waktu itu masih pagi dan kami butuh bantuan headlamp. Namun tak perlu waktu lama bagi headlamp bekerja karena sejurus kemudian sinar matahari perlahan temani langkah kaki kami. Sekitar 1.5 jam kami berjalan menuju pos 8 (2876 mdpl). Mampir shalat subuh dan istirahat sejenak. Summit terasa jauh lebih enteng karena beban berat pada tas keril kami tinggal di tenda. Setelahnya memakan waktu kurang lebih 1 jam untuk sampai di pos 9. Pos 9 (3023 mdpl) adalah pos terakhir yang bisa digunakan pendaki untuk mendirikan tenda. Disini pula kami mulai memakai gear pendakian, bang Aldi memandu kami dengan baik bagaimana cara mnggunakan gear yang baru kami kenal ini seperti carabiner, webbing, harmest dan tali karmanel dll. 
 
 

Pos 9 (3023 mdpl), Perlengkapan perang dipasang
 Dari pos 9 menuju Puncak Bendera memakan waktu hanya sekitar 20-30 menit saja. Disini pula batas vegetasi hutan dilalui. Setelah melewati batas Vegetasi, semua yang terpampang di depan adalah perpaduan keindahan sekaligus keperkasaan dari gunung Raung. Puncak Sejati terlihat di jauh sana, puncak yang selama ini ingin kuciumi pasirnya. Sampai di Puncak Bendera kami tak ingin membuang banyak waktu dan hanya singgah 5 menit saja. Lanjut menuju puncak selanjutnya, Puncak 17. Untuk menuju puncak 17 harus melalui titik ekstrim 1, di titik ini kami harus memanjat pelipiran samping bukit dengan pijakan batu yang keras dan licin. Di titik ini pula aku benar-benar merasakan adrenalin yang luar biasa. Tidak bisa tidak karena salah sedikit pijakan saja bisa langsung terjun bebas ke jurang. Disinilah fungsi dari gear pendakian yang dibawa oleh guide Raung, gear ini dapat meminimalisir kemungkinan buruk itu terjadi. Hebatnya lagi bang Aldi melewati ekstrim 1 tanpa temalian. Dia tancapkan dulu anchor untuk tempat tali kami mengantung, baru kemudian satu persatu dari kami memanjat bukit. Sungguh sebuah sensasi ketakutan yang tak akan terlupakan. Tak cukup disitu, untuk sampai di puncak 17 kami harus mendaki sebuah tembok bukit yang sekitar 90 derajat tegaknya. Bang Aldi lagi-lagi menunjukkan kecakapannya berteman dengan gunung Raung. Mendaki tembok bukit ini perlu tenaga yang super, tangan dan aki bekerja. Tangan menarik tubuh dan kaki mencari-cari pijakan yang tepat agar bisa sampai di atas. Kembali sebuah sensasi yang rasanya meledak-ledak kegembiraannya sesaat setelah berhasil sampai di Puncak 17 (3108 mdpl), pkl. 8.39 wib.
Habbhul wathan minal iman, Wabil khusus Indonesia baldatun thayyibatun, Al-Fatihah...
 
 
Waktu si Aris perutnya nyantol di Batu

Setelah lewati pelipiran titik ekstrim 1
"If your dreams doesn't scare you, they are not BIG ENOUGH!"
- Darriel Pujols
 

Setelah melepas lelah, lanjut kami berjalan menyusuri keperkasaan gunung Raung. Ada lagi titik ekstrim yang menanti di depan. Titik ekstrim 3, tak jauh selepas kami meninggalkan puncak 17, berupa pijakan tanah yang sangat tipis sekali namun padat, berbentuk seperti jembatan, dan kami menyebutnya jembatan Shirat. Harus ultra fokus untuk melewati jembatan ini, selain menurun, juga perhatikan batuan atau kerikil yang menjadi pijakan. Tak sampai full menyebrang, dan kemudian turun di sebelah kanan. Ada lagi di ekstrim 4 yang harus menggunakan temalian untuk lewatinya. Titik ekstrim 4 kami harus menuruni sebuah bukit dengan menggunakan tali, yang pada ujung bukitnya langsung berhadapan dengan jurang. Banyak turunan yang harus kami lalui untuk sampai di Puncak Sejati, untuk selanjutnya full nanjak seakan tiada ujung medan bebatuan.
 
"Ihdinast shiraatal mustaqim"Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.
(QS. Al-Fatihah 1:5)

Jalur pendakian legend, banyak disebut pendaki lain dengan sebutan jembatan Shiratal Mustaqim. Untuk mencapai Puncak Sejati memang harus ekstra waspada lewati jembatan ini, dengan lebar cuman beberapa hasta saja. Ngguling? Jurang!
But if we're not having fun, we are not doing it right...
.
Lesson learned:
Begitu dekat dengan kemungkinan terburuk mengajarkan untuk selalu hati-hati dan waspada ekstra. Angin kencang yang nabrak dari samping, faktor keletihan, kesandung kerikil dan lain-lain bisa buat pendaki "gugur" dalam gapai apa yang dituju. Begitu pula dalam kehidupan di dunia yang jarene simbah "urip mung sakklebatan mripat". Shiratal mustaqim pula adalah jembatan yang nantinya bakal dilewati dalam hari penentuan. Manusia yang baik akan dapat lewati jembatan Shirat dengan cepat dan mulus. Pribadi jahat akan jatuh dan terpanggang. Lha kalo kita yang masih Amar ma'ruf "nyambi" munkar gimana?

Loc: jembatan Shirat, Raung
 
Di tengah keletihan yang sebentar lagi mungkin akan melewati ambang batas toleransinya, bang Aldi memekikkan semangat pada kami “Puncak 10 menit lagiiiiiii”, sontak kami kembali bersemangat seolah dapat secercah ilham. Aris malah berlari setibanya sampai di medan datar yang menghubungkan puncak Tusuk Gigi dan Sejati, tangisnya pecah sesaat sampai di Puncak Sejati. Lucu sekali mendengar ceritanya yang sempat dipandang sebelah mata oleh penduduk sekitar dan juga teman-temannya karena gemuk, mentalnya sempat down, dan selalu kami kuatkan sepanjang perjalanan. Ferdian duduk bersantai di atas batu sambil kehabisan kata. Bang Aldi dari raut wajahnya berbicara puas dan senang telah berhasil antarkan kami sampai di Sejati. Aku sama dengan Ferdian, hanya bisa duduk terdiam setelah sujud syukur. Pkl 11.09, 3344 mdpl, puncak yang selama ini begituuuuuuuu ingin kucumbui pasirnya, akhirnya telah sampailah kami dengan selamat sentosa. The wildest dream, java’s most dangerous mount to climb. RAUNG GENTLEMAN’s TOP: RAUNG MERAUNG-RAUNGGGGGG!!!!
 
 
  
Lihat penampakan?
"Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki..."
(QS. Ar-Rad 13:13)

Kemudian seseorang bertanya: "Tuhanku, apa yang akan terjadi jika gemuruhMu menggelegar dalam dada?"
.
WILDEST DREAM:
Java's most dangerous mt. to climb, Raung gentleman's top.
Raung meraung-raungggggggg!! Hraaaaawrrrrrrr
.Loc: Puncak Sejati, Raung 3344 mdpl
"Dialah (Allah) yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah ke segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepadaNya (Allah) tempat kembali."
- QS. Al-Mulk 67:15
Loc: Puncak Sejati, Raung 3344 mdpl

Membelakangi kaldera gunung Raung setelah pendakian terberat pulau Jawa. Kaldera Raung merupakan Kaldera kering terluas di pulau Jawa, kedua terluas di Indonesia setelah gunung Tambora, Nusa Tenggara Timur. Kawahe wingit surem banget, raiku ndak kalah wingit. Ya Allah ya Lord, thank you for the power and the energy, it was a suuuuuper cool experience to standing tall back there. Praise Allah, the Rahman and Rahim.
Life is too short to not enjoy it (in the right path), and that's that: LET ME TAKE A SELFIE!!
"It's not the mountain we conquer, it's our (damn) self!!"
- Sir Edmund Hillary, first climber to kiss mt. Everest's top
Impianmu wis tekan endi, le? Raung meraung-raunggggg ,Alhamdulillah
 
Semai rinduku untuk kembali...

Aris berfoto dengan buku hasil karyanya. Senior dalam pendakian dan penggalian makna kehidupan.
Tag your squad!
 
Puncak Tusuk Gigi
Setelah puas habiskan waktu di puncak sejati, tiba saatnya kami harus berpamitan dengan puncaknya. Lagipula, kabut tebal dari kejauhan mulai merangsek naik, tanda cuaca telah berubah menjadi tak menentu. Sebelum turun, kami sempatkan mampir dulu di Puncak Tusuk Gigi. Rasanya bagaikan berada di planet kripton, tempat Superman si manusia baja berasal. Kami harus terun dan menyusuri jalur berangkat tadi, termasuk di titik-titik ekstrim. Perbedaannya hanya di titik ekstrim 2 saja dari yang awalnya seperti menaiki tembok, karena pulangnya tak mampir di Puncak 17 maka langsung melipir lewat samping, namun demikian tetap saja pelipiran ini masuk kategori ekstrim dan wajib hukumnya untuk menggunakan temalian. Dengan perjuangan yang cukup ekstra sama seperti fokus saat pendakian awal, kami sampai di puncak Bendera. Disini awan telah berubah menjadi hitam pekat, pertanda sebentar lagi akan curahkan airnya ke bumi. Kami harus bergegas. Dan benar saja, hujan duuuweras turun. Untung saja kami berjarak 1 jam turun menuju tenda. Total sampai di tenda pkl 15.42 dalam keadaan basah kuyup. Untungnya sesampai kami di tenda, tak lama kemudian hujan berhenti dan cuaca berganti cerah. Setelah bersihkan diri dan ganti pakaian kering, tiba waktunya untuk kami masak. Aris menjadi chief yang handal. Perbekalan memasak yang dia bawa sangatlah lengkap, termasuk bahan bumbu dan peralatan memasak. Tak beberapa lama kemudian datang beberapa pendaki sampai di pos 7 dan mereka mendirikan tenda di sebelah tenda kami dengan wajah yang pastinya tampak keletihan, mereka langsung tidur. Kami lanjut memasak, Aris dan aku memasak sayur dan lauknya, bang Aldi dan Ferdi masak nasi. Sungguh super masakan yang dibawa Aris, ada usus goreng, telur, tempe, dan beberapa sayur-mayuran untuk kembalikan kekuatan kami yang telah terkuras habis oleh serbuan puncak. Saking gurihnya bumbu masakan yang kami masak, sampai tetangga sebelah kami jadi batuk-batuk ciumi bumbu yang kami goreng. Dengan seringainya si Aris nyeletuk ke aku, “kapok mereka, aku kalo masak di gunung jahat mas, suka aku dengerin orang batuk-batuk di tenda sebelah akibat bumbuku hahaha...” *evilfacemodeon*. Singkat cerita setelah semua masakan siap, kami makan bersama dengan nyekoh, lahap, sambil berbincang tentang serunya serbuan puncak yang hari itu telah berhasil kami menangkan kesejatiannya. Setelah makan tak banyak yang kami lakukan alias langsung meringkuk dalam sleeping bag dan tidur menunggu pagi. Di luar udara makin menjadi-jadi dinginnya, kami tidur dengan lelap.
Pagi hari, selasa 14 Maret 2017, sunrise nya indah sekali. Dari Pos 7 kami bisa memandang dataran rendah dengan pemandangan yang luas, sambil sarapan dan bersenda gurau bersama tim. Namun tiba saatnya bagi kami untuk turun. Tentunya sebagai pendaki yang belajar baik, tak lupa kami bawa turun sampah-sampah baik plastik atau apapun yang tak bisa terurai dengan cepat oleh tanah, sisa dari bekal logistik kami. Ada kelebihan air mineral dalam botol, kami tingalkan di pos untuk dapat dimanfaatkan bagi pendaki yang memerlukan.
 
 Perjalanan Pulang
 
 Singkat cerita, sesampainya di Pos 1, kami hubungi pangkalan ojek Raung untuk menjemput rombongan kami. Dari pos 1 turun ke basecamp apalagi waktu itu sedang hujan derasnya, sewaktu dibonceng naik motor sensasinya lebih seru dan asyik daripada naik roller coaster. Pkl 06 sore kami sampai kembali di basecamp bu soeto dengan selamat dan membawa kemenangan yang hanya bisa kami rasakan. Nikmat mana lagi yang hendak kami dustakan setelah ini? Alhamdulillahi Rabbil alamiin...
Kami menginap semalam lagi di basecamp bu Soeto untuk pulihkan kondisi badan. Malamnya bu soeto membuatkan kami makan dan teh hangat, kemudian datang bang Aldi bergabung menambah keceriaan, sambil bercanda riuh kami mengobrol, syahduuuu. Oiya ini kontak bang Aldi 087715866623, dan follow juga akun ig @mt.raung_basecampbusoeto untuk informasi sekitar gunung Raung atau sekedar buat nikmati indah dan perkasanya Raung. Pagi harinya langsung kami menuju stasiun Kalibaru menaiki ojek. Ferdian langsung kembali ke Surabaya dan kemudian ke Bojonegoro. Aku dan Aris berkereta api ke Malang, ada teman yang harus kusambangi, juga dengan suasana kota Malang yang selalu dirindukan.
Bu Soeto dan Bang Adi, Ojek roller coaster

Ya Allah Tuhan yang maha besar, sungguh ini kemenangan yang nyata, terimakasih...
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar