Selasa, 06 Oktober 2015

Esai 1 untuk Bojonegoro Youth Summit 2015



Membangun Pemuda Bojonegoro yang Sehat, Cerdas, Produktif dan Bahagia
Pendahuluan
Charles Taylor berpendapat bahwa filsafat bertugas menjadikan dunia keseharian manusia menjadi the enchanted world (dunia yang memesona), dunia dimana segala hal yang baik didalamnya adalah milik bersama, milik semua (Armanda, 2011:34). Filsafat dalam hal ini merupakan cara pandang kita terhadap kehadiran manusia yang bertanggung jawab menghadirkan dunia yang memesona; dunia yang dirawat, dipelihara, ditata dengan maksud menjadikan dunia tempat berdaya dukung berkelanjutan.
Mimpi yang sebegitu indahnya tentu tak bisa terwujud begitu saja. Ia adalah sebuah bentukan yang di-ikhtiarkan, dimana manusia merupakan subjek yang sangat memegang peran atau kontrol kualitas kehidupan yang diinginkan (bukan ilmu filsafatnya). Peran tersebut tak lepas begitu saja dengan apa yang disebut kualitas sumber daya manusianya yang secara sengaja melakukan usaha-usaha strategis memberdayakan diri agar tercapai keberdayaan yang ujungnya sanggup menciptakan suatu lingkungan yang “memesona” seperti yang dimaksudkan.
Sederhananya, dunia yang memesona akan datang dari adanya pribadi-pribadi yang juga memesona. Umumnya pribadi-pribadi yang memesona merupakan orang-orang yang muncul dari proses panjang pendidikan, baik formal maupun informal. Proses yang memungkinkan bukan hanya meluaskan pengetahuan, namun berbarengan dengan itu, mendalami pengetahuan itu sendiri.
Pribadi-pribadi yang unggul guna ikut menciptakan pembangunan dunia yang memesona dapat dimulai dari pengembangan generasi muda. Mereka umumnya masih memiliki energi yang prima, haus eksplorasi dan penggalian akan pengetahuan dan hal-hal baru. Hanya ada dua pilihan bagi pemuda di era yang jauh lebih menantang saat ini; lurus atau belok kiri. Ke arah lurus apabila pemuda diarahkan pada hal-hal yang mendukung kemajuan dan menunjang tumbuh kembang sehingga telah benar-benar siap dengan kualitas diri untuk kemudian bergabung dalam komunitas masyarakat dan ikut berkecimpung didalamnya sebagai pribadi unggul. Ke kiri apabila pemuda hanya didiamkan potensinya menguap begitu saja, dan bergabung dalam masyarakat luas hanya sebagai “ikan mati” yang hanya sekedar bisa mengikuti arus.
Esai ini ditulis sebagai usaha penulis berpartisipasi dalam forum Bojonegoro Youth Summit 2015. Judul yang dipilih terinpirasi dari jargon andalan Kabupaten Bojonegoro di gapura sebelum masuk kota yang berbunyi “Wong Jonegoro: Sehat, Cerdas, Produktif dan Bahagia”. Jargon ini terdengar sungguh memiliki power dan mencakup semua hal. Kata “wong/orang” kemudian diganti oleh pemuda agar tulisan lebih memiliki objek yang jelas untuk dititik-beratkan pada pembahasan.

Pemuda Bojonegoro
Selayang pandang mengenai keadaan sosial pemuda Bojonegoro mungkin memang tak jauh berbeda dengan pemuda-pemudi dari kota tetangga seperti Lamongan, Nganjuk Ngawi, Tuban dll, namun akan sedikit kalah kualitas jika dibandingkan dengan kota-kota besar seperti Surabaya dan Malang. Dari intermezzo diatas penulis mencoba menebak dan merasa ada beberapa pemuda Bojonegoro yang telah mampu berpikir lebih maju, mereka kemudian berjejaring dengan sesama mereka yang juga berpikiran sama dengan tujuan untuk memantik perkembangan pemuda Bojonegoro. kemudian terciptalah forum Bojonegoro Youth Summit 2015 sebagai wadah pemuda menyampaikan gagasan perubahan menuju Bojonegoro yang lebih matoh (bahasa orang Bojonegoro untuk menggambarkan suatu hal yang hebat).
Pembangunan pemuda Bojonegoro yang sehat, cerdas, produktif dan bahagia harus dilakukan secara bersama-sama oleh berbagai elemen, termasuk pemerintah daerah sebagai penyelenggara pemerintahan yang berperan mendukung iklim pengembangan. Namun pada akhirnya semua pendukung iklim tumbuh kembang akan kembali lagi pada diri pemuda sebagai pelaku pengembangan diri. Berikut adalah gagasan yang dikemukakan oleh penulis:
a.       Peningkatan religiusitas.
Pada poin pertama ini penulis mencoba mengulik sisi kehidupan beragama di Bojonegoro. Agama tentu saja sebagai tempat sandaran vertikal sekaligus benteng moral bagi pemuda yang berfungsi layaknya kompas penunjuk arah. Peningkatan ukhuwah keberagamaan sangat perlu dilakukan guna menjaga kerukunan bermasyarakat. Perbaikan masing-masing individu pemuda bisa dimulai dari lingkungan terkecil yakni keluarga dan lingkungan sekitar sebagai penanam nilai-nilai. Kemudian agama sebaiknya jangan dilihat dari segi parsial, dikotak-kotakkan untuk kemudian digolong-golongkan. Perbaikan moral dan nilai melalui agama bertujuan untuk memantapkan individu pemuda dengan akhlak baik untuk kemudian bergabung dalam komunitas pemuda atau masyarakat yang lebih luas. Sebagaimana yang diyakini penulis, tujuan utama Tuhan mengajarkan agama kepada makhlukNya tak lain adalah untuk bermanfaat dan berbuat baik bagi sesama.
b.      Peningkatan minat baca buku
Parameter utama dari majunya sebuah peradaban dimulai dari banyaknya para pelaku peradaban yang membaca buku. Di Bojonegoro, sangat sulit menemukan perpustakaan, atau setidaknya toko-toko yang menjual buku-buku bagus dan lengkap seperti di kota-kota besar. Buku tampaknya tak begitu popular di kalangan pemuda-pemudi Bojonegoro. Akan sangat sulit menemukan seorang teman yang gemar membaca buku dari Bojonegoro. UNESCO menyatakan minat baca pemuda Indonesia berada pada rating 0,01, yang artinya bahwa tiap 1000 individu hanya 1 yang gemar membaca (Jawa Pos 12 Oktober 2015, hlm. 15). Peningkatan minat baca khususnya di Bojonegoro bukan hanya sekedar harus digalakkan, lebih dari itu, dipropagandakan secara massif dan bergelombang. Bukan hanya baliho-baliho politik pada musim pemilu, propaganda peningkatan minat baca pemuda Bojonegoro harus ditempatkan pada posisi yang sama pentingnya. Kita sudah sama-sama hapal diluar kepala bahwa bangsa-bangsa kuat diluar sana memulai pembangunan besar mereka dari buku-buku dan perpustakaan. Albert Einstein mengatakan lewat salah satu tulisannya, “Satu-satunya tempat yang tak boleh terlupakan adalah letak perpustakaan”. Kemudian salah satu bapak bangsa, Mohammad Hatta juga berpendapat sama mengenai betapa pentingnya buku-buku; “aku rela dipenjara asal bersama buku, karena bersama buku aku bebas!”
Diperlukan upaya yang ekstra kuat untuk penyebarluasan peningkatan minat baca. Parameter keberhasilan yang ditawarkan memang masih kabur, namun bayangkan betapa asyiknya jika suatu saat kita melihat banyak pemuda-pemudi Bojonegoro bersantai di alun-alun dan taman kota diwaktu senggang dengan menggenggam dan membaca buku. Propaganda peningkatan minat baca harus dikemas dalam promosi yang menarik, yang kemudian menjadi pekerjaan rumah kita bersama, sampai akhirnya nanti membaca buku benar-benar menjadi iklim dan budaya yang baku dalam usaha menjadikan pemuda Bojonegoro yang cerdas.
c.       Seni
Pramoedya Ananta (tokoh sastra nasional) dalam salah satu tulisannya menuliskan demikian; “orang bisa jadi mendapatkan gelar kesarjanaan apapun, tapi tanpa mencinta sastra, mereka hanya tinggal hewan yang pandai”. Pada poin ke-3 ini penulis mencoba membawa suatu hal yang bersifat abstrak yakni seni. Saat membahas seni, yang terlintas dalam pikiran orang adalah berupa sesuatu yang indah. Seni bagi penulis adalah sebagai wadah ekspresi, penghibur atau juga bahkan sebagai tempat pelarian yang baik. Seni dalam hal ini diartikan seluas-luasnya; melukis, musik, tari-tarian, rupa, kriya, sastra, puisi, fotografi, semua yang mengandung unsur keindahan. Seni dapat berperan sebagai penghalus moral, penjaga kelestarian budaya dan penyampai rasa. Mengenai seni, angkat semua yang ada di Bojonegoro untuk dikompilasi dan diperkenalkan juga secara massif pada pemuda dan warga Bojoneogoro umumnya agar mengenali kesenian asli bumi Angling Dharma. Mari berbudaya dan berkarya melalui kesenian menuju Bojonegoro bahagia.


d.      Olahraga
Menjadi pemuda yang baik tentu saja tak hanya ditunjang dari otak cerdas dan hati yang halus, melainkan juga berdasarkan jasmani yang sehat. Melalui idiom mensana in corporesano, dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat, kita akan sama-sama membentuk pemuda Bojonegoro yang kokoh fisiknya. Keadaan di Bojonegoro masih sangat baik dalam bidang keolahragaan. Tak seperti di kota-kota besar, di Bojonegoro masih banyak sekali tersedia lapangan dan ruang terbuka bagi pemudanya berkumpul dan berolahraga terutama pada sore hari.
Hal yang perlu dilakukan adalah untuk meningkatkan level olahraga dari pemuda, khususnya di desa-desa. Para pengambil kebijakan bisa mendata desa-desa yang membutuhkan alat-alat olahraga seperti misalnya bola sepak atau voli, jaring net, atau apapun tergantung keadaan wilayah dan kegemaran spesifik pemuda pada tempat tertentu, kemudian diperbantukan. Hal ini dirasa sangat perlu. Olahraga di sore hari atau di hari libur misalnya, akan sangat dapat membawakan manfaat. Pemuda dapat saling berinteraksi dengan teman-teman sebayanya yang kemudian dapat menumbuhkan jiwa gotong-royong dan kerukunan, bersenda gurau, meningkatkan sportifitas dan menguatkan mental, dan masih banyak manfaat lain. Dan dengan berolahraga lapang, pemuda tak akan menjadi canggung dan kuper. Seperti yang kita ketahui bahwa saat ini begitu marak permainan-permainan online lewat gadget. Tak masalah sebenarnya, tapi penulis merasa permainan seperti ini lebih banyak membawa dampak negatif. Pemuda tak lagi senang bersosialisasi dengan kawannya, tak lagi memliki rasa greget kompetitif seperti yang pernah dirasakan pemuda dulu-dulu. Dengan menggiatkan olahraga juga, kita bisa menangkal munculnya “generasi merunduk”, generasi yang gadget-sentris karena selalu terpusat pada gadget masing-masing. Pemuda Bojonegoro harus sehat dan kuat jasmani maupun rohaninya. Meminjam jargon pak Soeharto, Bojonegoro mempemudakan olahraga dan mengolahragakan pemuda. Salam olahraga!
e.      Beladiri
Mempelajari beladiri sama pentingnya bagi penguatan mentak maupun fisik pemuda. Penulis pernah dengar celetukan seorang ibu-ibu penjual kopi di warung saat sedang bersantai; “le ati-ati jaman saiki ora kaya biyen, bocah sekolah saiki wi lo sik kalah sopan karo wong ngarit jaman biyen. Saiki akeh wong pada gampang nge-cilakani wong liye, mula kowe kudu ati-ati ngger…” zaman sekarang banyak orang mudah mencelekakan orang lain hanya untuk kepentingannya, seperti itu inti omongan ibu-ibu penjual kopi. Kalimat tersebut memang dirasa tepat. Mudah saja membuktikannya, saat kita melihat televisi pasti mudah kita dapati berita-berita kriminal dan sebagainya. Beladiri, sebagai usaha pemuda untuk menjaga dan melindungi diri dari hal-hal yang tidak diinginkan dirasa sangat tepat untuk dimunculkan dalam gagasan ini. Mengenai beladiri, penulis pernah menuliskannya di blog dan dapat dibaca disini; abintaraisme.blogspot.co.id/2014/09/tips-bela-diri-praktis.html?m=1
Ada banyak pilihan baladiri yang bisa ditekuni seperti contohnya Pencak SIlat, Karate, Taekwondo, Kungfu, Wushu, dl jenisnya. Untuk beladiri, penulis memberi kredit khusus kepada Pencak Silat, karena Pencak Silat merupakan seni beladiri asli dari Indonesia. Bukan bermaksud mendiskreditkan jenis beladiri lain, namun memang silatlah beladiri non-impor yang ketangkasan beladirinya masih tetap prima. Bahkan pemeran film The Raid, Yayan Ruhiyan berani menyatakan; “kami tidak berusaha mengenalkan silat kepada dunia, karena dunia sudah tahu bagaimana kualitas beladiri para pesilat. Kami justru ingin mengenalkan Silat kepada pemuda-pemuda Indonesia, karena silat sedikit demi sedikit mulai tidak lagi diminati generasi muda negeri ini”.
Keberadaan Silat sebagai beladiri asli Indonesia memang kian meredup dikarenakan berbagai faktor. Penulis mengamati beberapa perguruan Silat di Bojonegoro sering terlibat tawuran antar perguruan. Dampak dari tawuran ini adalah munculnya stereotipe di masyarakat bahwa Silat hanya memunculkan perkelahian demi perkelahian. Memang tak sepenuhnya salah, tapi tak sepenuhnya juga benar. Kalau diamati lebih dalam, setiap perguruan Silat mengandung ajaran-ajaran yang justru sangat baik bagi para pesilatnya. Gagasan yang ditawarkan adalah dengan memunculkan wawasan menjaga perdamaian yang disiagakan oleh aparat penjaga keamanan yakni TNI dan Polri. Gerakan TNI-Polri masuk latihan dan memberikan nasihat juga wawasan hukum mengenai untung rugi belajar beladiri dan perkelahian dirasakan adalah solusi yang baik. Tentu saja dibutuhkan kerjasama dan pengawalahan dari pihak-pihak terkait. Semoga Pencak Silat khususnya dan beladiri umumnya tumbuh subur dan makin jaya di bumi pendekar, Bojonegoro.
f.        Traveling
Berpergian atau traveling memang bukan hal yang mencolok untuk tumbuh kembang pemuda, namun tetap sedikit banyak akan membawa manfaat. Mereka yang sering berpergian biasanya memiliki wawasan yang luas, makin mudah bergaul dan supel, pandai menyesuaikan dengan kondisi bahkan disaat situasi tak terduga, dan berjiwa petualang. Seperti salah sebuah bait dalam syair Imam Syafi’I; “orang berilmu tidak tinggal diam di kampung halaman, berpergianlah seperti anak panah yang meninggalkan busur”. Adalagi puisi dari Jalaluddin Rumi; “berplesiran membawa kekuatan dan cinta kembali pada jiwa setiap insan yang berpikir”. Jadi, tidak ada salahnya berpergian ke suatu tempat asalkan membawa manfaat. Ke museum, ke pantai, gunung, wahana atau tempat-tempat indah lainnya. Jadilah traveler yang bijak dan rasakan kemudian manfaatnya. Penulis ingin berbagi sedikit dengan pembaca yang budiman mengenai salah satu pengalaman kecil dalam usahanya mengenal Bojonegoro lebih dalam, bisa dilihat disini; abintaraisme.blogspot.co.id/2015/08/bojonegoro-social-adventure.html?m=1
g.       Iklim wirausaha
Salah satu parameter dari negara maju yakni minimal 20% dari total penduduknya berwirausaha. Di Indonesia jumlah penduduk yang berwirausaha belum lebih dari 5%. Mohon maaf tak dapat mencantumkan sumber karena keterbatasan memori di otak.
Mendorong pemuda-pemuda yang mempunya jiwa wirausaha sangat perlu dilakukan di era globalisasi seperti saat ini, terlebih dalam usaha kita bersama menyambut zona dagang bebas Asia Tenggara (MEA). Ada banyak alternatif di bidang wirausaha. Pemuda dapat mengembangkan produk inovasi kreatif, yang pada saat ini dapat dengan mudahnya dipasarkan melalui banyak sosial media. Sayangnya untuk wirausaha penulis tidak mempunya basic yang kuat sehingga hanya dapat menyampaikan kulit dari inti gagasan yang lebih spesifik. Pekerjaan rumah yang akan disongsong pemuda Bojonegoro dalam pertemuan Bojonegoro Youth Summit 2015.
h.      Berjejaring
Membangun jaringan atau networking antar sesama pemuda mengandung nilai manfaat yang sangat besar. Pembentukan komunitas-komunitas penunjang tumbuh kembang pemuda akan membantu pemuda-pemuda mengeksplorasi dan mendalami bidang-bidang yang diminati. Dalam komunitas nantinya pemuda akan saling berbagi pengetahuan, saling menguatkan dan mengoreksi kekurangan-kekurangan yang belum disempurnakan dari tiap bidang yang diminati.
Berjejaring, bertemu dan saling membantu bersama teman-teman untuk menjadi lebih baik tentu akan sangat seru dan mengasyikkan.

Penutup
Demikian gagasan-gagasan yang diungkapkan diatas, semoga membawa manfaat walaupun masih terlalu luas. Penulis pernah menuliskan sebuah esai dengan tema yang hampir mirip pada kompetisi menulis esai merayakan 70 tahun UNESCO. Tulisan tersebut dapat dibaca disini; abintaraisme.blogspot.co.id/2015/06/project-beacon.html?m=1
Tulisan dalam esai ini adalah hasil kontemplasi yang kemudian terkristal dalam susunan kata per kata dan kalimat. Penulis pribadi merasa tulisan ini terkesan sedikit absurd dan bias, dengan fokus yang pecah kemana-mana. Namun demikian tulisan ini merupakan gagasan paling jujur dan orisinil yang mampu ditulis oleh penulis guna ikut berpartisipasi dalam pembangunan dunia yang lebih baik dan Bojonegoro khususnya sebagai seorang pemuda. Salam…

Sabtu, 03 Oktober 2015

Menaruh Hati

Sang penjaga hati tidak akan meninggalkanmu baik dalam kasih sayang maupun kekejaman, juga dalam kekafiran maupun persaksian. Kemanapun kau tautkan hatimu pada sesuatu, keperkasaan-Nya akan merobekmu...
Wahai hati, jangan taruh dirimu di sembarang tempat, jangan!

Jalaluddin Rumi [11949-11950]

Jumat, 02 Oktober 2015

Pendakian Gunung Merbabu (Via Cuntel)

Lama sekali ingin kutuliskan cerita pendakian ini, dari kemarin-kemarin tertunda sampai akhirnya tembus bulan 10. Aku memang punya masalah dalam penyimpanan pustaka, seperti foto dan buku catatan yang sering hilang. Untuk seri pendakian Merbabu, buku kecilku yang hilang, padahal di buku itu telah kutuliskan secara rinci dan ridgit mengenai pendakian kemarin, termasuk estimasi waktu, berapa biaya-biaya yang dikeluarkan, peristiwa seru apa saja yang terjadi, juga puisi-puisi yang tak sengaja kutulis saat pendakian kemarin. Ada juga puisi mas Rakih dibukuku, hilang. Aku sebenarnya bukan tipe orang teledor, justru sebaliknya, selalu siaga dan berjaga. Namun setelah banyak terjadi kehilangan pustaka, sepertinya insting spiderman-ku perlu diasah lagi wakaka. Oke langsung saja…
Pendakian Merbabu ini sebetulnya merupakan pendakian dadakan, pendakian pelarian, dan pendakian untuk menunggu. Dibilang dadakan karena rencana awal baru tercetus pada rabu, 25 Februari dan berangkat dua hari kemudian. Adalah Boyek yang jadi racun waktu itu, padahal dompet sedang nipis, tapi dengan lidah biawaknya yang menceritakan bumbu-bumbu keindahan Merbabu, gentar juga aku. Ceritanya si Boyek telah selesai Sempro (seminar proposal) dan skripsiku telah kuselesaikan, tapi masih nunggu Nanang selesaikan pembahasan skripsinya untuk bisa ngehadap kanjeng mami bu Fah dan bisa maju Semhas (Seminar Hasil) bareng. Lumayan kalau Semhas bareng kan, biaya makan dan syukuran bisa patungan wakaka. Pendakian pelarian untuk sejenak lari dari penat skripsi waktu itu. Malam sebelum keberangkatan telah kusiapkan segala gear dan kelengkapan guna pendakian besok.
Jumat sore setelah selesaikan tes TOEFL yang ndak bisa fokus samasekali dan juga setelah hadir di Sempro dan Semhas Ali (satu-satunya mahasiswa Fakultas Pertanian yang bisa sakti begini karena seminar digabung dalam satu sesi saja), aku dan Boyek berangkat dari terminal Arjosari Malang menuju terminal Bungurasih Surabaya. Seperti biasa saat sampai di daerah Lawang, gunung Arjuno selalu menyapa dari dari utara jauh. Arjosari ke Bungurasih dengan biaya Rp. 13 ribu, dari yang biasanya 2 jam molor jadi 3 jam lebih karena macet akhir pekan. Kemudian dari Bungurasih menuju Solo dengan biaya Rp. 85 ribu kalau aku ndak salah ingat. Kami sampai di terminal Tirtonadi Solo pada dinihari sekitar pukul 01.00 WIB. Setelah mengisi perut yang keroncongan di warung makan terminal, kami dijemput oleh teman Boyek yang kuliah di UNS, yakni Arika dan mas Rakih. Setelah ngopi sejenak dan kenalan kemudian ngobrol ngalor ngidul, kami menuju ke markas Nevada, kos kedua teman baruku yang tak lain teman lama Boyek.

Esok harinya, pada Sabtu 28 Februari pkl 09.00 setelah sarapan dan berkemas untuk pendakian Merbabu, kami berangkat. Ada satu tambahan personil dalam tim pendakian, yakni Hendy atau lebih akrab dipanggil “si Mbeng”. Kesemua temanku ini adalah geng Magetan-nya Boyek, kumpulan para outSIDer (fans band punk Superman is Dead) katanya. Baideway busway aku juga lumayan suka dengan music-musik SID. Kami menaiki bus jurusan Solo-Semarang untuk menuju Salatiga, dengan biaya Rp. 15 ribu tak sampai sejam perjalanan. Kondektur bus yang sudah hapal karena seringnya jalur ini digunakan banyak pendaki Merbabu secara otomatis menurunkan kami di pasar Sapi, Salatiga. Dari perempatan pasar Sapi, kami naik bus kecil menuju pos pendakian Cuntel di taman wisata Kopeng dengan biaya Rp. 5 ribu saja dengan waktu tempuh 30 menit. Disinilah awal pendakian kami dimulai.
 
 

Sampai pada pkl 12.32, kami makan dulu di warung dekat pos perizinan dan bawa bekal makan ke atas. Biaya perizinan murah saja, Rp. 5 ribu per orang. Di pos Cuntel ini para penjaganya suuuuuper ramah-ramah sekali, juga terdapat penjualan aksesoris seperti stiker, masker, kopi, sarung tangan, tabung kompor gas mini dan juga berbagai keperluan minor pendakian lainnya. Pkl 13.29 kami memulai pendakian.
Ada 4 pos yang harus dilalui para pendaki Merbabu untuk dapat sampai di puncak. Tiap posnya memakan waktu tempuh antara 2-3 jam. Jarak dari pos perizinan Cuntel ke pos 1 (Watu Putut 2145 mdpl) adalah yang terpanjang, yakni 3,5 jam pendakian langkah santai (namun serius). Waktu itu boyek baru 20 menit jalan, baru sampai digerbang rimba, sudah mintak makan bekal yang dibawa, padahal baru saja makan di warung tadi, wakakakakaka yek-boyek. Kami sampai di pos 1 pkl 17.02, waktu itu sedang hujan gerimis-gerimis cinta. Setelah beristirahat, lanjut kami berjalan menuju pos 2. Dari pos 1 menuju pos 2 hanya memakan waktu 42 menit, dan kami sampai pkl 17.53. Pos 2 merupakan tanah yang lumayan lapang, cukup untuk mendirikan 5-6 tenda, namun tak disarankan untuk nge-camp di tempat ini karena banyak sarang tawon. Pemandangan dari pos 2 Kedokan (2300 mdpl) terbilang cukup asyik, kami makan bekal dan nikmati tenggelam matahari dari tempat ini.
 
 
 
 

Puas beristirahat, kami lanjutkan perjalanan menuju pos 3. Dari pos 2 ke pos 3 Kergo Pasar (2458 mdpl) memakan waktu sekitar 1 jam 30 menit. Pos 3 merupakan padang savana yang cukup luas, namun karena pada waktu itu hari sudah gelap, tak begitu jelas pemandangan yang ada disana. Setelah istirahat sejenak kami langsung lanjut berjalan lagi menuju tujuan di hari pertama, pos 4 pemancar. Pos 3 menuju pos 4 memakan waktu 2 jam 15 menit. Kami sampai di pos pemancar (2883 mdpl) pada sekitar pkl 23.00, kemudian langsung mendirikan tenda untuk tempat bermalam. Sebelum tidur, kami masih sempat bersenda gurau dengan riangnya. Teman-teman dari Magetan ini punya selera humor yang super ultra, dan mereka ramah sekali, rasanya bisa langsung klop. Kami membahas pula banyak hal, terutama mas Rakih yang paling jadi bahan banyolan. Aku ingat Boyek bilang ndak mau beli obat racikan Rakih gegara sampai saat itu (mas Rakih semester 14) belum lulus-lulus juga dari kuliah farmasi. Juga ada TV aneh di kamar kos mas Rakih, setelah diteliti lebih tajam ternyata TV-nya bermerk “Amsun”, namun ditambahi coretan belepotan abjad S diawal dan G diakhir hingga jadi SamsunG. Kami ketawa kepingkal-pingkal dan misuh-misuh puas mbahas TV Amsun ini. Cuk, mas Rakih, aku kangen tipimu wakakaka. dan tulisan ini segera terselesaikan karena dorongan dari kiriman puisi mas Rakih kemarin, nuwun mas…
 
 
 
 
 
 
 
 

 

Minggu, 1 Maret 2015. Pos 4 bisa juga disebut puncak pemancar, satu dari tujuh puncak yang ada di gunung Merbabu (puncak Watu Gubuk, Pemancar/Watu Tulis, Geger Sapi, Syarif, Ondo Rante, Kenteng Songo, dan puncak Merbabu atau Triangulasi). Pantas sekali jika Merbabu masuk dalam tujuh gunung paling sulit didaki di pulau Jawa, trek yang dilalui lumayan berbatu dan nanjak, cukup melelahkan untuk sampai di puncak, bahkan pada saat turunpun. Tapi tentang keindahannya? Tak perlu diragukan lagi, Merbabu memanjakan sejauh pandangan mata. Dari pos 4 saat kami bangun pagi, hangat matahari pagi sudah menyambut dari timur jauh. Kemudian di barat ada deretan gunung Sindoro dan Sumbing. Pagi sambil minum kopi di puncak pemancar bersama candaan riang teman-teman, nikmat Tuhan mana lagi hendak kami dustakan?
 
 

Trek setelah puncak pemancar didominasi bebatuan lumayan terjal. Untuk sampai ke puncak selanjutnya, kami harus melalui puncak geger sapi terlebih dahulu. Tapi dalam pendakian kemarin ternyata kami melewatkan puncak geger sapi dan jembatan setan (jalur berbahaya yang disebut demikian oleh pendaki lain). Kami sadar setelah sampai di persimpangan antara puncak Syarif dan puncak Kenteng Songo, harusnya melewati puncak geger sapi, tapi yang mana puncaknya kami ndak tahu. Dari persimpangan, jalan setapak ke kiri adalah puncak Syarif dengan waktu tempuh 10 menit. Aku boyek dan mas Rakih pilih explore puncak Syarif, sedang Arika dan Mbeng pilih istirahat di persimpangan. Puncak Syarif memiliki ketinggian 3119 mdpl, berupa puncak yang memiliki permukaan datar yang lumayan luas. Kami sampai pkl 10.04, banyak pendaki juga yang telah sampai disini sebelum kami.
 
 
Bersama pendaki lain di Puncak Syarif

Selanjutnya yakni menuju puncak Kenteng Songo. Dari persimpangan menuju puncak Kenteng Songo memakan waktu sekitar 40 menit. Trek pendakian berfluktuasi, kadang datar tapi banyak nanjaknya. Ada sebuah titik trek yang disitu bikin kami benar-benar merinding. Pendaki harus merayap disamping tebing untuk sampai ke atas. Jarak cuma tak lebih dari 5 meter, tapi benar-benar ngeri. Kami sampai di puncak Kenteng Songo pada pkl 11.22. puncak Kenteng Songo memiliki ketinggian 3142 mdpl. Dari sini terlihat puncak Triangulasi, puncak tertinggi gunung Merbabu, namun karena kelelahan, kami cukup dari sini saja merasakan Merbabu. Waktu itu rasanya begitu emosional, mengingat perayaan selesainya skripsiku yang sudah kukerjakan berbulan-bulan. Walaupun toh belum semhas dan sidang, tapi perjuangan diri kemarin rasa-rasanya layak mendapatkan apresiasi lebih. Dan inilah dia, hamparan samudera awan tepat berada di depanku. Di puncak kuambil waktuku sejenak, memikirkan mengenai apa-apa saja yang telah kulakukan dan kumenangkan semasa kuliah. Kemudian kuajak berbincang teman baikku si boyek, sampai akhirnya aku sampai pada kesimpulan: MASA MUDAKU TERSELAMATKAN!
 
 

 
Kiri-Kanan: Mbeng-aku-Arika-Boyek-mas Rakih 
 
 
Mba-mba yang baru ndaki gunung, yeayy selamat atas first summitnya *peluktaskeril*

Kami sungguh bersyukur diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menikmati kebesaran-Nya berupa indah pemandangan yang terhampar dari puncak Merbabu. Meskipun kemudian cuaca berubah berkabut, samasekali tak mengurangi keanggunan dan kecantikan gunung Merbabu. Merbabu berasal dari kata “Meru“ yang berarti gunung dan “babu” yang artinya wanita (sumber: internet). 

Setelah puas mensyukuri nikmat Tuhan, kami memutuskan untuk turun gunung. Kami memilih jalur Selo. Jalur ini terdapat 4 pos. dari puncak Kenteng Songo ke pos 4 Sabana 1 memakan waktu sekitar satu setengah jam. Jalan turunnya begitu menjurang, kadang juga licin, harus ekstra hati-hati. Dari pos 4 turun lagi ke pos 3 Batu Tulis dan memakan waktu sekitar satu jam. Pos 3 menuju pos 2 Pandean sekitar 30 menit. Kemudian dari pos 2 menuju pos 1 Dok Malang sekitar 2 jam dan terakhir dari pos 1 menuju basecamp Selo sekitar 1 jam. Kami sampai basecamp Selo pada malam hari pkl 22.00. mampir sejenak makan di warung sambal minum es joshua. Malam ini kami berniat nginap di rumah pak Nardi, seorang supir mobil angkutan pick up. Di jalur Selo ini tidak ada angkutan umum, daji pak Nardi dan teman-temannya yang biasa menyewakan jasa angkutan dari basecamp Selo menuju jalan raya Boyolali. Kalau aku tak salah ingat, waktu itu satu angkutan di kenai biaya rp. 100 ribu dibagi per kepala teman-teman. Kami nginap di rumah pak Nardi bersama rombongan pendaki asal Jakarta. Pak Nardi ini orangnya sangat ramah dan baik. Barangkali kalian mau ndaki Merbabu, nih nomor pak Nardi angkutan pendaki basecamp Selo 081393121405.
Pada senin, 2 Maret 2015 pagi hari setelah berkemas-kemas, kami meninggalkan rumah pak Nardi. Melalui mobil pikep pak Nardi, kami diantarnya sampai jalan raya kecil Boyolali. Terimakasih tumpangan juga kebaikan hatinya pak, semoga bisa bertemu kembali. Dari jalan raya kecil Boyolali ini kami naik bus kecil menuju terminal Boyolali yang memakan waktu 1 jam perjalanan dan biaya Rp. 10 ribu. Di terminal kami naik bus jurusan Semarang, dan turun di Solo (dekat kos Nevada mas Rakih cs) yang emakan waktu 1 jam 30 menit dan biaya Rp. 12 ribu. Sampai di kos kami semua langsung istirahat total.


Malam hari itu tiba waktunya aku dan Boyek pamitan. Kami pilih bus travel langsung menuju Arjosari Malang, dengan biaya Rp. 125 ribu. Sebelumnya kami diajak minum di warung kopi legend. Dalam perjalanan kami dikenalkan tempat-tempat keren di Solo. Dari secangkir gelas kopi, lagi-lagi kami bercerita banyak hal. Sampai berjumpa lagi di dunia perkopian selanjutnya mas Rakih, Arika dan Mbeng, salam…

Main ke Museum “House of Sampoerna” Surabaya

Selasa, 29 September jadi hari terakhir si Ali di Malang. Hari itu Diangkutinya barang-barangnya dari kamar kos, yang juga kamarku. Kami sejak sebulan setengah yang lalu jadi teman sekamar, karena waktuku di rumah kontrakan lama telah habis. Sembari nunggu wisuda dan jadi tempat istirahat di Malang, Ali tawari aku untuk sekamar dengannya. Dan hari itu, kamar yang dipakainya berteduh selama di Malang, beserta semua perabotannya, terlebih lagi semua kenangan selama berada disana, harus pula diangkutya pulang ke Surabaya. Aku dan Nanang tahu benar mendung di mata si Ali. Sahabat kami hari itu harus menjalani kenyataan untuk selangkah jadi lebih dewasa menatap fase hidupnya kedepan. Biarkan saja si Ali bercericau kesedihan sesukanya, nikmati waktu-waktu terakhirmu li…
Setelah selesai semua barang dikemasi, aku dan Nanang ikut serta ke Surabaya untuk menghadiri jobfair di kampus ITS, maklum pemburu kerjaan wakaka. Ternyata waktu tak mencukupi untuk sampai di ITS tepat waktu. Ali kemudian nyeletuk “ayo halan-halan wae yokk, mumpung ning Suroboyo rekk…” dan kami tanpa komando langsung seiya-sekata. Ali mengajak kami ke museum rokok :"House of Sampoerna”, sepertinya seru karena kami semua smoker (hadduh isin aku ngaku smoker)…
House of Sampoerna terletak tak jauh dari kawasan Jembatan Merah atau kawasan “kota tua” di Surabaya. Di Kanan-kiri banyak terdapat bangunan-bangunan berarsitektur kuno, terlihat begitu anggun dan megah. Disepanjang perjalanan aku ndelongop seperti bocah ndeso lihat pemandangan kanan-kiri gedung yang keren-keren, Lha pancene aku ndeso.
Masuk Museum Sampoerna tidak dikenai biaya sepeserpun. Kami disambut ramah oleh mba penjaga. Sebelumnya disamping gedung utama museum terdapat rumah pribadi milik owner PT Sampoerna saat ini, Putera Sampoerna. Di halaman rumahnya berjejer 2 mobil antik Rolls Royce, keren sekali. House of Sampoerna terdiri dari dua lantai, dan aroma wangi tembakau dan cengkeh bersemerbak memenuhi ruangan. Di lantai pertama terdapat 3 ruangan. Ruangan pertama berisi replika sebuah warung bernuansa ndeso milik pendiri PT Sampoerna, Liem Seeng Tee. Terdapat juga berbagai macam tembakau dan cengkeh dari Jawa, Madura Bali dan lain-lain.
 

Ruangan kedua berusaha mengenalkan ke pengunjung mengenai orang-orang yang menjabat di direksi PT Sampoerna. Ada juga lukisan-lukisan yang mengesankan betapa rokok telah melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia sejak zaman dulu. Juga ada foto pak Soekarno, Soeharto dan Sultan Hamengkubuwono (yang lupa keberapa) juga tokoh-tokoh besar lain sedang ngudut rokok dengan nikmatnya. Disini juga terdapat brankas penyimpanan barang berharga zaman dulu. Brankasnya terbuat dari kayu yang tebal sekali, dan juga sangat kokoh. Aku Ali dan Nanang tak henti-henti ngerubuti brankas ini, mencoba-coba dan menebak-nebak betapa kokohnya brankas buatan Belanda zaman kolonial dahulu. Mungkin brankas ini lebih berharga dari barang berharga yang disimpan didalamnya, hahaha…
 
 

Di ruangan ketiga kami disuguhi dengan penampakan berbagai mesin pengolahan rokok zaman dulu, juga ada berbagai produk rokok legend milik Sampoerna tempo doeloe. Juga terdapat miniatur peta Indonesia yang berisikan tempat dimana saja pabrik Sampoerna beroperasi.
Naik ke lantai atas, merupakan tempat penjualan suvenir. Sebelumnya di tangga menuju ke atas tergantung berbagai foto unik dan antik yang membikin suasana tembakau makin melekat di museum ini. Ada banyak yang dijual disini, ada rokok, miniatur becak dan patung. Dijual juga berbagai baju batik tangan asli dengan harga jutak-jutak wakaka. Di lantai ini sebenarnya bisa juga pengunjung menyaksikan betapa ulet dan terampilnya pekerja milik PT Sampoerna dalam produksi rokok. Sayangnya waktu itu sudah sore, para pekerja telah berada di luar jam operasional kerja.


Keluar museum biar lebih afdol mengenal Surabaya, sebenarnya Ali ngajak kami untuk keliling Surabaya menggunakan bus dari museum Sampoerna, sayangnya kembali lagi kendala waktu yang kesorean. Tak apalah, kami telah banyak melihat-lihat isi museum. Mohon maaf karena batere hp yang saat itu kurang prima, foto yang terjepret tidaklah banyak.

Sepulang dari museum, seolah tak cukup untuk menikmati waktu-waktu terakhir kami bersama dalam dunia perkuliahan, juga perpisahan dengan Ali, kami sepakat untuk lebih lama menikmati malam kota Surabaya dengan secangkir kopi dan berselimut obrolan hangat


SEDUH KOPIMU, TEMAN…

Puisi dari Mas Rakih

Degradasi Paradigma

Wayang bergerak dengan tangan dalang
Watak orang Tuhan yang merancang
Wayang bergerak ditonton banyak orang
Manusia tertindas orang yang menonton malah ikut senang

Modern ini merubah sudut pandang
Dahulu tersayang sekarang terbuang
Dahulu termarjinalkan sekarang tertinggikan
Entah apa isi manusia dalam kenyataan

Dahulu anak-anak hormat pada sang tua
Menyapa salam senyum, menundukkan kepala
Apa yag kurasa jaman yang katanya surga
Hilang sudah rasa terkubur nada

Ahh… Celotehan sang tua itu bak angin
Anak anggap semua itu hanya membuat nyeri pada hati yang dingin
Anak surga tetap pilih antiaspirin
Ibu dan bapak menunduk melihat telapak kaki yang semakin licin

Hilangkah dongeng itu ketika malam menjelang?

Rakih Yusma R. (Pkl 22.00, 1 Oktober 2015)


Kemarin malam saat sedang asyik dengar lagu-lagu nostalgia di radio, hapeku tiba-tiba bunyi, ternyata ada bbm dari mas Rakih disana. Kenang-kenangan katanya, dan disuruhnya aku untuk tuangkan puisinya dalam coretanku. Mas Rakih ini partner pendakian gunung Merbabu yang kemarin, teman dari teman baikku boyek yang kuliah di UNS (Universitas Negeri Surakarta) ngambil disiplin ilmu Farmasi. Dia orang yang suuuuper jenaka, banyolannya selama pendakian kemarin bisa buat kami sedikit lupakan rasa lelah yang hinggap. Setelah ngobrol panjang lebar, kalimat penutup dari mas Rakih adalah “mari ngopi dari kejauhan, mas!” Siap, segera seduh dan racik kopinya tuan, dan mari ngobrol ngalor-ngidul baik berbobot maupun tidak untuk ngomongkan kehidupan. Salam damai selalu untuk teman-teman di Surakarta…