Abintaraisme
Setiap perjalanan, setiap foto, perenungan, gelegar tawa, apapun itu akan selalu terselip sebuah cerita besar disana. Kita berhutang sebuah coretan bahkan pada secangkir kopi, tuliskan, abadikan. Kalau takut mati jangan jadi penulis, katamu? Menjadi mati adalah tak dikenang, dengan tegas aku menentang kalimat Pramoedya Ananta T. Mari berbagi...
Sabtu, 17 Januari 2026
Analisa Kritis Terhadap Pelanggaran Hak Asasi Manusia Akibat Tindak Pidana Korupsi
Kamis, 13 Februari 2025
Ziarah ke Baitullah
Tak pernah terbersit sekelebatanpun sebelumnya keinginan untuk dapat mengunjungi Masjidil Haram dan shalat di depan Ka’bah dalam waktu dekat, kecuali mungkin besok saat sudah tua dan berumur. Karena dulu kupikir Tuhan ada dimana-mana, dapat ditemui kapan saja. Rumah Allah ada di masjid manapun yang bisa dijumpai di setiap sudut kota dan daerah. Tak ada yang salah dengan anggapan itu, Allah memang maha besar. Menurut Agus Mustofa dalam buku beliau berjudul “Pusaran Energi Ka’bah”, kemaha besaran Allah meliputi segala bidang dan waktu, dari atom terkecil hingga jika dilihat dari ilmu perbintangan Bima Sakti hanyalah satu dari miliaran galaksi yang eksis di tata surya, dari masa lampau jauh sebelum Big Bang hingga saat ini sampai miliaran tahun ke depan, Dia tidak hanya bertahta di dalam Arasy tetapi Allah meliputi segala yang ada di alam ini, wallahu a’lam. Jadi kupikir waktu itu, tak ada urgensi mendesak untuk segera berkunjung ke Ka’bah, sekedar memikirkannya pun sama sekali tidak, yang penting shalat 5 waktu terjaga, kewajiban lain ditaati, berbuat baik ke sesama, seputar itu-itu saja cukup. Mau ke Allah tinggal membatin, “ya Allah lagi kesusahan ini, ya Allah lagi pingin ini-itu, ya Allah butuh bantuan…”, ngapain jauh-jauh ke Ka’bah yang justru malah menimbulkan sebut saja pamer, riya, flexing sudah pernah Umroh, keliatan religius dll, atau ngapain umroh mending uangnya dipakai kebutuhan lain yang lebih pokok. Namun Allah dengan kemaha perkasaan-Nya dan seluruh hak prerogatif yang melekat dalam sifatNya menghendaki siapapun yang hendak Dia undang untuk berkunjung ke Baitullah untuk beribadah, termasuk hambaNya yang lancang dan berkelimpahan dosa ini.
Madinah, seperti yang kita ketahui, adalah kota tempat Rasulullah hijrah dari Mekkah pada 622 M karena perlakuan buruk masyarakat Mekkah yang tak mau mengimani Islam. Di Madinah, dakwah Islam berpusat dan berkembang pesat hingga sekarang, di Madinah pula Rasulullah wafat, sehingga kota ini merupakan satu dari dua kota yang harus diziarahi sebab pernah tinggal manusia mulia disana yang berkat dakwahnya dapat menjadi pedoman dan cahaya bagi keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Madinah Al-Munawwarah secara harfiah berarti kota yang bercahaya, dinamai Rasulullah setelah hijrah, dari sebelumnya bernama Yatsrib. Di kota ini juga banyak tempat-tempat bersejarah yang menjadi saksi heroiknya perjuangan Rasulullah dan para sahabat menegakkan panji Islam. Kami berkesempatan melaksanakan shalat Jumat di masjid Nabawi, satu dari tiga masjid agung selain Masjidil Haram (Mekkah) dan Al-Aqsa (Palestina) yang menjadi impian setiap Muslim di seluruh dunia untuk dapat dirikan shalat di dalamnya. Pertama kali menginjakkan kaki di Masjid Nabawi langsung terenyuh dengan keagungan masjid pusat Rasulullah berdakwah. Arsiterkturnya khas timur tengah, di area luar terdapat payung ikonik masjid Nabawi yang dapat mengembang dan menutup otomatis, luassssss sekali kompleks masjidnya apalagi kalau sudah masuk didalamnya, tiang-tiang besar dengan kubah hitam putih khas masjid nabawi sejauh mata memandang. Didalam masjid terdapat Raudhah, makam Rasulullah, Allahumma shali alaa sayyidina Muhammad, bersama dengan makam Abu Bakar dan Umar, dua sahabat yang selalu tegak lurus mendukung perjuangan nabi dalam suka maupun duka. Dahulu, Raudhah adalah rumah tinggal nabi, dan sekarang terletak dekat dengan mimbar masjid.
Diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu Anhu, Rasulullah SAW bersabda: “Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik dari 1000 (seribu) kali shalat di masjid lainnya kecuali di Masjidil Haram, Makkah, dan sholat di Masjidil Haram lebih baik dari 100.000 (seratus ribu) shalat di masjid lainnya.” (HR Ibnu Majjah, dishahihkan oleh Al-Bani).
Tentunya banyak sekali pula tempat-tempat bersejarah di Madinah. Diantaranya masjid Quba, masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah SAW. Keutamaan dari masjid Quba seperti yang diriwayatkan oleh sahabat Ibnu Majjah dalam sebuah hadist Rasulullah, “shalat dua rakaat di dalam masjid Quba pahalanya senilai ibadah umrah”. Kemudian ada pula Jabbal Uhud, tempat terjadinya salah satu peperangan paling ikonik dan bersejarah bagi umat Islam yang terjadi pada 625M atau 3 tahun setelah hijrahnya Rasulullah. Salah satu tempat yang ingin sekali kukunjungi, ini pula yang membuat rangkaian ibadah umrah bersemangat. Aku menyenangi sejarah, dan bisa mengunjungi Jabbal Uhud rasanya seperti ditarik ke masa Rasulullah berperang melawan kafir Quraisy dimana saat itu beliau kehilangan paman yang disayanginya, Hamzah ra yang ditombak oleh budak bernama Wahsyi, kemudian jenazahnya diperlakukan dengan biadab oleh Hindun binti Utbah isteri Abu Sufyan, yakni dengan merobek dada syuhada Hamzah dan mengunyah jantungnya. Rasulullah, manusia paling penyabar dan mulia akhlaknya di seluruh alam sampai kehilangan kontrol atas kesabaran sebab kedukaan yang begitu mendalam atas kepergian sang paman yang melindunginya sebagai garda paling depan menegakkan dakwah Islam, hingga Rasulullah bersumpah akan memenangkan peperangan selanjutnya dan melakukan kejahatan terhadap musuh yang tak pernah dilakukan oleh bangsa arab sebelumnya, kemudian turun firman Allah yakni surah an-Nahl ayat 126-127, “Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Namun, jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang yang sabar. Dan bersabarlah (Muhammad) dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah dan janganlah engkau bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan jangan (pula) bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan.”
![]() |
| Masjid Bukhari |
![]() |
| Masjid Quba |
![]() |
| Masjid Abu Bakr |
Ibadah umroh berlangsung khidmat. First sight on Ka’bah just like love at the first sight, terharu, terkesima, merinding, mbliyut-mbliyut badan rasanya, takjub oleh kebesaran Allah. Doa-doa yang telah lama dipersiapkan mulai doa minta A sampai minta Z, semuanya luruh diganti “Ya Allah, mohon ampunannnnn…” Setelah Thawaf, lanjut lari kecil Sa’i antara Safa dan Marwah, kemudian bertahalul dengan mencukur beberapa helai rambut. Nikmat tiada tara bisa melihat dan shalat langsung di depan Ka’bah, tempat dimana lima waktu setiap muslim menghadapkan shalatnya ke arah kiblat. Atas kebesaranMu ya Allah, kami dapat tunaikan ibadah umrah dengan hikmat.
![]() |
| Allahu akbar! |
![]() |
| Para pencari Tuhan |
![]() |
| Every moslem dream! |
Hari-hari setelahnya kami menghabiskan waktu dengan banyak-banyak beribadah di masjidil Haram, mendengarkan kumandang adzan dan bacaan merdu imam besar memimpin shalat. Ada kisah menarik yang tak terlupakan. Pernah suatu ketika saat itu sambil menunggu Isya, perut rasanya keroncongan sekali. Mau balik ke hotel untuk makan, jauh dan tanggung. Akhirnya lanjut baca buku shirah nabawi karya Sheikh Al-Mubarakfuri sambil menahan lapar dan bergumam “andai di Indonesia, masjid-masjidnya banyak sekali makanan apalagi di bulan Ramadhan”. Tak sampai 5 menit kemudian, ada jamaah membagi-bagikan kurma. 3 butir kurma saja, yang memang merupakan sunnahnya nabi memakan kurma dalam jumlah ganjil, cukup untuk membuat perut berhenti keroncongan. Masya Allah.
Mungkin cukup sekian catatan kali ini, sebab sebagian besar pengalaman disana merupakan perjalanan yang tak bisa banyak dituliskan dengan kata. Maha besar Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, yang telah memperjalankan dan membimbing langkah kaki dan memudahkannya. Semoga Allah memanggil kami lagi di lain kesempatan, Bismillah bersama keluarga lengkap. Bismillah, Medina-Macca till we meet again…
![]() |
| Jabbal Rahmah alias bukit kasih sayang, tempat Adam as dipertemukan Allah kembali dengan Hawa |
![]() |
| Zam-zam tower di malam hari, simply mesmerizing! |
![]() |
| Bersua kembali dengan Dr. Hammis Syafaq di BNI Jembatan Merah untuk mengisi pengajian, beliau pemandu rombongan kami pada saat Umroh. Sehat selalu gurunda... |
![]() |
| Saat keberangkatan. Sengaja fotonya ditaruh paling akhir sebagai tanda doa untuk mengunjungi tanah suci bersama anggota keluarga lengkap. Semai rindu kami untuk kembali... |
Selasa, 09 Juli 2024
Pendakian Gunung Buthak (Ekspedisi Kedua)
Berawal dari “dikasih info mase” oleh kawan lama di bangku SMP dulu, bro Hendro, berupa ajakan camping ceria ke Lorokan, akhirnya setelah negosiasi yang berjalan tidak alot, tujuan dapat dibelokkan ke Gunung Buthak. 9 Juni adalah tanggal yang ditetapkan, izin cuti kantor telah didapatkan, tiket izin mendaki dari isteri berhasil diamankan, waktunya kita kemon.
Ahad, 9 Juni 2024, tiba juga waktunya, setelah 10 tahun lamanya menanti untuk kembali pijakkan kaki di satu-satunya gunung yang gagal kugapai puncaknya. Berangkat dari Sidoarjo ke basecamp Buthak di Batu sendirian untuk bertemu Hendro dan kawan-kawannya yang telah menunggu disana, terdiri dari: Azka, Mirza, Ardan dan Mega, kesemuanya teman dari temannya teman dan kemudian jadi teman.
Pendakian start pkl 13.00, datang agak terlambat sehingga tak sempat makan siang dulu, hanya shalat duhur ashar dijamak. Aku Hendro dan Mirza memutuskan ngojek sampai pos 3, sedangkan lainnya sampai pos 2. Mohon maaf karena harus menggunakan ojek karena mengejar waktu. Biaya ojek per pos dikenakan tarif 60rb, kali 3 berarti 180rb. Jasa ojek ini benar-benar dapat menghemat waktu yang sangat banyak, apalagi buat working class men seperti kami yang harus curi-curi waktu buat main sebentar. Bayangkan saja, mungkin waktu yang dibutuhkan kalau trekking kira-kira 2 jam/pos, bisa 8 jam bahkan lebih untuk sampai ke pos 4 Sabana. Dengan menggunakan jasa ojek gunung, waktu tempuh antas pos bisa jadi hanya 15-30 menit saja. Tapi buat mereka yang masih muda, punya banyak waktu dan energi, tak perlulah ngojek ke gunung. Lagipula semakin banyak ngojek, maka akan semakin rusak pula jalur pendakiannya oleh ban trail motor. Jadi kami harus meminta maaf lewat tulisan ini karena telah menggunakan ojek gunung, mohon dimaklumi. 2014 dulu belum ada jasa ojek gunung.
Singkat cerita perjalanan dari pos 3 ke pos 4
memakan waktu kira-kira 2-2,5 jam. Medan trekkingnya bervariasi, cenderung
banyak landai tapi seringkali juga terjal. Buthak sering disebut miniatur
Argopuro, karena medan trekkingnya yang memang mirip, landai-landai agak
sedikit membosankan (saat trekking) tapi juga seru, dan cakupan kanopi antara
dedaunan di pohon yang sangat lebat, membuat Buthak nyaman sekali untuk tempat
nyepi. Sampai di pos 4 sekitar pkl 16.45, langsung cari spot buat dirikan
tenda. Pos 4 berupa sabana rumput yang luas, banyak burung-burung bercuitan,
gemericik air sungainya tak usah ditanya lagi merdunya, beresonansi langsung ke
kalbu untuk menenangkan, ceilehh… Tapi begitulah adanya, syahdu! Malam itu kami
menghabiskan waktu dengan bercerita, bercanda ria, camilan-camilan hangat dan
secangkir kopi menghangatkan jiwa, apalagi yang dibutuhkan pria-pria yang penat
dengan pekerjaan masing-masing ini selain suasana malam yang ramah? Malam
berlalu dengan cepat, kami puas tertawa-tawa.
Esok harinya, subuh, Hendro membangunkanku, sambil membawa segelas kopi ditangannya, “nyoh ombe-en sik, gawe anget-angetan ben ra ngantuk…” dengan logat khas jenogoro-nya. Gokil, dia sudah bangun, sudah bikin kopi, sudah rapi dan siap summit, sementara aku dan Mirza masih kriyip-kriyip. Hanya kami bertiga yang summit, lainnya pilih bersantai di tenda, sebab mereka sudah pernah ke Buthak sebelumnya. Hendro juga begitu, 3x ini dia ke Buthak, tapi salut, dia mau temaniku dan Mirza untuk summit ke puncak, subuh-subuh pula jadi yang pertama bangun untuk kejar sunrise. Biasanya mereka yang sudah pernah pasti akan malas-malasan, Hendro tidak. Tak taulah aku kalau tak ada Hendro mungkin akan gagal lagi sampai ke puncak Buthak. Thanks ndro, my man!
Jalur menuju puncak ternyata terjal, dengan panjatan bebatuan besar dan sesekali dijumpai temalian untuk berpegangan dan menarik tubuh ke atas. Dijalan kami berjumpa bule perempuan yang mendaki sendirian, berulang kali hampir tersesat jalannya. “Miss, left miss, left…” teriak Hendro coba mengingatkan. Dia berterima kasih, dan gabung dengan tim kami untuk sampai ke puncak. Namanya Astrid, datang jauh dari Norwegia ke Indonesia setelah dari Nepal, sendirian menikmati tempat-tempat indah dunia. Sesampainya di atap langit Buthak, jangan tanyakan indahnya! Rona merah tipis di horizon jauh langit Indonesia sejauh mata memandang, dari gelap menuju terang, kemudian datang gumpalan awan tipis dan lama-kelamaan makin berduyun datang. Tak bisa dijelaskan dengan bergelondong-gelondong kalimat indah, cukup dinikmati sambil bergumam “Älhamdulillah, so grateful that we are alive to be able to stare this magic with our very own eyes…”
Setelah puas menikmati langit Buthak, kami pun turun. Astrid masih bersama kami untuk ke tenda, ternyata teman-teman penjaga tenda telah membuatkan hidangan bagi kami. Woww, what a great squad! Nasi sudah jadi, pentol, kornet, kentang goreng, telor, gokil dah ini kaya piknik udah, tak lupa kopi pun sudah siap disruput. Kami berbincang-bincang hangat, bercerita dengan teman-teman dan Astrid, aku sibuk jadi penerjemah. Astrid bercerita tentang Norwegia, dan tempat mana saja yang ingin ia kunjungi di Indonesia. Mulai dari Semeru (gagal karena ditutup), Bromo, Ijen, Rinjani, Pulau Alor dan NTT-NTB. Just wow! Uangnya darimana ya kira-kira? Sepertinya tak perlu bertanya sebab negara-negara Skandinavia di Eropa Barat memang memiliki tingkat rata-rata kemakmuran tertinggi di planet Bumi. Satu kalimat yang menarik darinya adalah “you guys look so fresh, like the burden in the shoulders gone, and you guys seems to less stare at your phone. Feels good to meet people like you guys!” Benar sekali, salah satu tujuan pendakian kami adalah pelarian sejenak dari penat pekerjaan dan dunia yang makin serba digital, dunia dimana aliran informasi membanjiri tanpa bendung dalam hitungan detik, dunia yang makin terasa sangat cepat dan demanding. Di gunung kami bebas, lepas dari segala keterikatan itu, tak ada sinyal, tak ada telfon berdering, tak ada sosial media, sebaliknya, duduk bersantai bercanda dengan teman, menikmati udara yang begitu bersih, langit biru dan bentang alam yang membuaikan, perfect day to enjoy! Tak lupa kubilang pada Astrid untuk panggil namaku di Rinjani agar dewi Rinjani memanggil (hanya kiasan). Ternyata setelah beberapa waktu dia mengirimkan pesan lewat Instagramnya: “here is some Rinjani shoots for you, I bet you’re soon there yourself!”.
![]() |
| There she goes, Rinjami summit! I'll be there soon too... |
Sedikit cerita dari Buthak untuk menjadi
kenangan, terima kasih Allah SWT atas kesempatan yang telah dianugerahkan
selama ini. Ditutup dengan kalimat dari William Wallace dari film Braveheart, every men dies but not every men really
lives!
Salam Lestari…
Senin, 17 Juni 2024
Mohon Tidak Membawa Anak Kecil Ke Dalam Masjid
"Jika pada suatu masa kalian tak mendengar gelak tawa anak-anak gembira riang berlarian diantara shaf-shaf shalat di masjid-masjid, maka harus takutlah kalian pada datangnya kejatuhan generasi masa itu!"
(Muhammad Al-Fatih)
Rabu, 01 November 2023
Surat Terbuka Untuk Shaladdin
Kalau dibandingkan dengan siang-siang kemarin, siang awal November ini sedikit lebih sejuk. Ayah makan siang di pujasera samping kantor, penyetan legend mak Ranty menu iwak teri+telur dadar tempe penyet, delicioso, sambil dengarkan live orkes penyanyi dangdut tipis-tipis yang lagunya mendayu-dayu, menemani tiap kecapan lauk yang terasa ikut berdendang di lidah. But Son, suddenly daddy doesn’t feel easy at all... Kau tahu nak, per hari ini sejak serangan Israel 7 Oktober lalu, 8.525 orang telah syahid di negeri para nabi, Palestina, negeri yang begitu dimuliakan Allah. Memang tak semua yang meninggal adalah muslim, tapi fakta bahwa rumah tempat tinggal mereka, masjid mereka, gereja, sekolah, dihujani siang malam oleh bom pesawat-pesawat Israel, dan bagaimana mereka harus hidup tanpa air bersih, listrik, tanpa bahan bakar, tanpa koneksi internet atau tanpa perawatan kesehatan yang memadai, they’re totally blackout devoured by zionist flames. Bahkan banyak berita menyebutkan bahwa korban di Gaza harus dioperasi tanpa anastesi atau obat bius, termasuk para ibu yang melahirkan Caesar. Betapa banyak rumah, gedung-gedung publik yang menjadi rata dengan tanah akibat bom-bom zionis Israel, betapa banyak anak-anak tua muda yang tertimpa reruntuhan, atau bahkan terkena bom itu sendiri. Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi mengatakan bahwa tiap 10 menit ada 1 anak-anak Palestina gugur akibat agresi Israel. Hanya membayangkan kengerian tersebut seandainya terjadi disekitar kita, atau membayangkan andai anak-anakku yang terkena ledakan, sudah cukup membuat mata terkaca-kaca.
Betapa bengisnya zionis Isreal itu, mereka tah henti membombardir jalur Gaza dengan tembakan artileri dan meriam. Teman-teman sebayamu balita, bayi, anak-anak, perempuan, tua-muda, banyak yang tewas oleh hantaman rudal mereka. Dihadapan PBB para bedebah itu berkata bahwa mereka sedang memerangi manusia-binatang, savage. Tapi mereka salah besar nak, mereka tak tahu betapa mulianya penduduk Palestina. Para penduduk Palestina ini mewakafkan diri mereka untuk menjaga Masjid Al-Aqsa, kiblat pertama umat Islam dari cengkraman zionis. Sungguh bagi mereka, debu al-Aqsa lebih disenangi dari dunia seisinya dan segala kelezatan yang ditawarkan. Dengan menjaga Al-Aqsa, mereka muslim Palestina sedang menyelamatkan kita semua muslim dunia dari menanggung dosa dan malu dari kehilangan Al-Aqsa. Mereka orang-orang Palestina itu nak, sebaik-baik ummat muslim saat ini, mereka tabah bahkan menyambut ujian tersebut dengan gagah dan riang gembira, seperti saat kamu minta diajak jalan-jalan dengan motor ayah, atau seperti bahagianya kakakmu saat ayah belikan es krim. Entah terbuat dari apa hati mereka, muslim Palestina... Dan satu yang harus kita semua tahu bahwa bangsa Palestina-lah negara pertama yang mengakui kedaulatan NKRI dan mengucapkan selamat atas kemerdekaan yang telah berhasil kita raih, tepatnya pada 06 September 1944 yang disampaikan oleh seorang Mufti besar Palestina, Syekh Muhammad Amin Al Husaini. Mereka mengakui dan mendukung kita, bahkan sebelum proklamasi kemerdekaan RI.
Maka dengan demikian, ini adalah surat terbuka untukmu, nak. Mau jadi apapun kelak, itu adalah hidupmu, asalkan bermanfaat bagi agama dan bangsa. Tapi, andai nanti kau putuskan untuk mewakafkan dirimu dalam perjuangan pembebasan Al-Aqsa di Palestina, maka ayah akan ridho ikhlas-seikhlasnya, sepertinya bundamu juga demikian. Sebab, nama “Shaladdin” di aktamu ayah sematkan sebagai doa untukmu agar bisa turut serta berjihad dalam misi mulia tersebut. Nama itu diambil dari pahlawan agung, Salahuddin (Shaladdin) Al Ayyubi, sultan dari dinasti Ayyubiyah yang berhasil membebaskan Baitul Maqdis di kota Yerusalem dari cengkraman tentara Salib lewat perang Hattin pada 1187 M, 836 tahun yang lalu. Kisah kepemimpinan dan kepahlawanannya telah mahsyur melegenda, sosoknya juga menjadi inspirasi bagi Muhammad Al-Fatih dari kesultanan Ottoman dalam pembebasan Konstantinopel pada 1453 M. Alkisah dalam sebuah riwayat disampaikan bahwa sultan Shaladdin bernah ditanya para sahabat kenapa jarang tersenyum, dan beliau menjawab “Bagaimana bisa aku tersenyum sementara Al Aqsha dijajah? Demi Allah, aku malu untuk tersenyum sementara di sana saudara-saudaraku disiksa dan dibantai...”, Mentalitas ini yang harus mulai sekarang kita tempa nak, karena saudara Palestina kita tidak sedang baik-baik saja.
Allahumma aidzal Islama wal muslimin (Dear Allah, gloify Islam and muslimin)
Wa adila syirka wal
musyrikin (and humiliate disbelieve &
disbelievers)
Wa dammir a’da aka
addiin (destroy Your enemies whome enemies
of Islam)
Allahummasdudu wa ta’ataka
alal kuffari Yahudi Israil, aa syuraka ihim, ya Allah...
(Dear
Allah, harden Your footing over those disbelievers of Israel Jews and their
allies...)
Ttd
Ayahmu yang (juga) berjuang!



.jpeg)

.jpeg)


.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpg)
.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)




























