Jumat, 02 Oktober 2015

Pendakian Gunung Merbabu (Via Cuntel)

Lama sekali ingin kutuliskan cerita pendakian ini, dari kemarin-kemarin tertunda sampai akhirnya tembus bulan 10. Aku memang punya masalah dalam penyimpanan pustaka, seperti foto dan buku catatan yang sering hilang. Untuk seri pendakian Merbabu, buku kecilku yang hilang, padahal di buku itu telah kutuliskan secara rinci dan ridgit mengenai pendakian kemarin, termasuk estimasi waktu, berapa biaya-biaya yang dikeluarkan, peristiwa seru apa saja yang terjadi, juga puisi-puisi yang tak sengaja kutulis saat pendakian kemarin. Ada juga puisi mas Rakih dibukuku, hilang. Aku sebenarnya bukan tipe orang teledor, justru sebaliknya, selalu siaga dan berjaga. Namun setelah banyak terjadi kehilangan pustaka, sepertinya insting spiderman-ku perlu diasah lagi wakaka. Oke langsung saja…
Pendakian Merbabu ini sebetulnya merupakan pendakian dadakan, pendakian pelarian, dan pendakian untuk menunggu. Dibilang dadakan karena rencana awal baru tercetus pada rabu, 25 Februari dan berangkat dua hari kemudian. Adalah Boyek yang jadi racun waktu itu, padahal dompet sedang nipis, tapi dengan lidah biawaknya yang menceritakan bumbu-bumbu keindahan Merbabu, gentar juga aku. Ceritanya si Boyek telah selesai Sempro (seminar proposal) dan skripsiku telah kuselesaikan, tapi masih nunggu Nanang selesaikan pembahasan skripsinya untuk bisa ngehadap kanjeng mami bu Fah dan bisa maju Semhas (Seminar Hasil) bareng. Lumayan kalau Semhas bareng kan, biaya makan dan syukuran bisa patungan wakaka. Pendakian pelarian untuk sejenak lari dari penat skripsi waktu itu. Malam sebelum keberangkatan telah kusiapkan segala gear dan kelengkapan guna pendakian besok.
Jumat sore setelah selesaikan tes TOEFL yang ndak bisa fokus samasekali dan juga setelah hadir di Sempro dan Semhas Ali (satu-satunya mahasiswa Fakultas Pertanian yang bisa sakti begini karena seminar digabung dalam satu sesi saja), aku dan Boyek berangkat dari terminal Arjosari Malang menuju terminal Bungurasih Surabaya. Seperti biasa saat sampai di daerah Lawang, gunung Arjuno selalu menyapa dari dari utara jauh. Arjosari ke Bungurasih dengan biaya Rp. 13 ribu, dari yang biasanya 2 jam molor jadi 3 jam lebih karena macet akhir pekan. Kemudian dari Bungurasih menuju Solo dengan biaya Rp. 85 ribu kalau aku ndak salah ingat. Kami sampai di terminal Tirtonadi Solo pada dinihari sekitar pukul 01.00 WIB. Setelah mengisi perut yang keroncongan di warung makan terminal, kami dijemput oleh teman Boyek yang kuliah di UNS, yakni Arika dan mas Rakih. Setelah ngopi sejenak dan kenalan kemudian ngobrol ngalor ngidul, kami menuju ke markas Nevada, kos kedua teman baruku yang tak lain teman lama Boyek.

Esok harinya, pada Sabtu 28 Februari pkl 09.00 setelah sarapan dan berkemas untuk pendakian Merbabu, kami berangkat. Ada satu tambahan personil dalam tim pendakian, yakni Hendy atau lebih akrab dipanggil “si Mbeng”. Kesemua temanku ini adalah geng Magetan-nya Boyek, kumpulan para outSIDer (fans band punk Superman is Dead) katanya. Baideway busway aku juga lumayan suka dengan music-musik SID. Kami menaiki bus jurusan Solo-Semarang untuk menuju Salatiga, dengan biaya Rp. 15 ribu tak sampai sejam perjalanan. Kondektur bus yang sudah hapal karena seringnya jalur ini digunakan banyak pendaki Merbabu secara otomatis menurunkan kami di pasar Sapi, Salatiga. Dari perempatan pasar Sapi, kami naik bus kecil menuju pos pendakian Cuntel di taman wisata Kopeng dengan biaya Rp. 5 ribu saja dengan waktu tempuh 30 menit. Disinilah awal pendakian kami dimulai.
 
 

Sampai pada pkl 12.32, kami makan dulu di warung dekat pos perizinan dan bawa bekal makan ke atas. Biaya perizinan murah saja, Rp. 5 ribu per orang. Di pos Cuntel ini para penjaganya suuuuuper ramah-ramah sekali, juga terdapat penjualan aksesoris seperti stiker, masker, kopi, sarung tangan, tabung kompor gas mini dan juga berbagai keperluan minor pendakian lainnya. Pkl 13.29 kami memulai pendakian.
Ada 4 pos yang harus dilalui para pendaki Merbabu untuk dapat sampai di puncak. Tiap posnya memakan waktu tempuh antara 2-3 jam. Jarak dari pos perizinan Cuntel ke pos 1 (Watu Putut 2145 mdpl) adalah yang terpanjang, yakni 3,5 jam pendakian langkah santai (namun serius). Waktu itu boyek baru 20 menit jalan, baru sampai digerbang rimba, sudah mintak makan bekal yang dibawa, padahal baru saja makan di warung tadi, wakakakakaka yek-boyek. Kami sampai di pos 1 pkl 17.02, waktu itu sedang hujan gerimis-gerimis cinta. Setelah beristirahat, lanjut kami berjalan menuju pos 2. Dari pos 1 menuju pos 2 hanya memakan waktu 42 menit, dan kami sampai pkl 17.53. Pos 2 merupakan tanah yang lumayan lapang, cukup untuk mendirikan 5-6 tenda, namun tak disarankan untuk nge-camp di tempat ini karena banyak sarang tawon. Pemandangan dari pos 2 Kedokan (2300 mdpl) terbilang cukup asyik, kami makan bekal dan nikmati tenggelam matahari dari tempat ini.
 
 
 
 

Puas beristirahat, kami lanjutkan perjalanan menuju pos 3. Dari pos 2 ke pos 3 Kergo Pasar (2458 mdpl) memakan waktu sekitar 1 jam 30 menit. Pos 3 merupakan padang savana yang cukup luas, namun karena pada waktu itu hari sudah gelap, tak begitu jelas pemandangan yang ada disana. Setelah istirahat sejenak kami langsung lanjut berjalan lagi menuju tujuan di hari pertama, pos 4 pemancar. Pos 3 menuju pos 4 memakan waktu 2 jam 15 menit. Kami sampai di pos pemancar (2883 mdpl) pada sekitar pkl 23.00, kemudian langsung mendirikan tenda untuk tempat bermalam. Sebelum tidur, kami masih sempat bersenda gurau dengan riangnya. Teman-teman dari Magetan ini punya selera humor yang super ultra, dan mereka ramah sekali, rasanya bisa langsung klop. Kami membahas pula banyak hal, terutama mas Rakih yang paling jadi bahan banyolan. Aku ingat Boyek bilang ndak mau beli obat racikan Rakih gegara sampai saat itu (mas Rakih semester 14) belum lulus-lulus juga dari kuliah farmasi. Juga ada TV aneh di kamar kos mas Rakih, setelah diteliti lebih tajam ternyata TV-nya bermerk “Amsun”, namun ditambahi coretan belepotan abjad S diawal dan G diakhir hingga jadi SamsunG. Kami ketawa kepingkal-pingkal dan misuh-misuh puas mbahas TV Amsun ini. Cuk, mas Rakih, aku kangen tipimu wakakaka. dan tulisan ini segera terselesaikan karena dorongan dari kiriman puisi mas Rakih kemarin, nuwun mas…
 
 
 
 
 
 
 
 

 

Minggu, 1 Maret 2015. Pos 4 bisa juga disebut puncak pemancar, satu dari tujuh puncak yang ada di gunung Merbabu (puncak Watu Gubuk, Pemancar/Watu Tulis, Geger Sapi, Syarif, Ondo Rante, Kenteng Songo, dan puncak Merbabu atau Triangulasi). Pantas sekali jika Merbabu masuk dalam tujuh gunung paling sulit didaki di pulau Jawa, trek yang dilalui lumayan berbatu dan nanjak, cukup melelahkan untuk sampai di puncak, bahkan pada saat turunpun. Tapi tentang keindahannya? Tak perlu diragukan lagi, Merbabu memanjakan sejauh pandangan mata. Dari pos 4 saat kami bangun pagi, hangat matahari pagi sudah menyambut dari timur jauh. Kemudian di barat ada deretan gunung Sindoro dan Sumbing. Pagi sambil minum kopi di puncak pemancar bersama candaan riang teman-teman, nikmat Tuhan mana lagi hendak kami dustakan?
 
 

Trek setelah puncak pemancar didominasi bebatuan lumayan terjal. Untuk sampai ke puncak selanjutnya, kami harus melalui puncak geger sapi terlebih dahulu. Tapi dalam pendakian kemarin ternyata kami melewatkan puncak geger sapi dan jembatan setan (jalur berbahaya yang disebut demikian oleh pendaki lain). Kami sadar setelah sampai di persimpangan antara puncak Syarif dan puncak Kenteng Songo, harusnya melewati puncak geger sapi, tapi yang mana puncaknya kami ndak tahu. Dari persimpangan, jalan setapak ke kiri adalah puncak Syarif dengan waktu tempuh 10 menit. Aku boyek dan mas Rakih pilih explore puncak Syarif, sedang Arika dan Mbeng pilih istirahat di persimpangan. Puncak Syarif memiliki ketinggian 3119 mdpl, berupa puncak yang memiliki permukaan datar yang lumayan luas. Kami sampai pkl 10.04, banyak pendaki juga yang telah sampai disini sebelum kami.
 
 
Bersama pendaki lain di Puncak Syarif

Selanjutnya yakni menuju puncak Kenteng Songo. Dari persimpangan menuju puncak Kenteng Songo memakan waktu sekitar 40 menit. Trek pendakian berfluktuasi, kadang datar tapi banyak nanjaknya. Ada sebuah titik trek yang disitu bikin kami benar-benar merinding. Pendaki harus merayap disamping tebing untuk sampai ke atas. Jarak cuma tak lebih dari 5 meter, tapi benar-benar ngeri. Kami sampai di puncak Kenteng Songo pada pkl 11.22. puncak Kenteng Songo memiliki ketinggian 3142 mdpl. Dari sini terlihat puncak Triangulasi, puncak tertinggi gunung Merbabu, namun karena kelelahan, kami cukup dari sini saja merasakan Merbabu. Waktu itu rasanya begitu emosional, mengingat perayaan selesainya skripsiku yang sudah kukerjakan berbulan-bulan. Walaupun toh belum semhas dan sidang, tapi perjuangan diri kemarin rasa-rasanya layak mendapatkan apresiasi lebih. Dan inilah dia, hamparan samudera awan tepat berada di depanku. Di puncak kuambil waktuku sejenak, memikirkan mengenai apa-apa saja yang telah kulakukan dan kumenangkan semasa kuliah. Kemudian kuajak berbincang teman baikku si boyek, sampai akhirnya aku sampai pada kesimpulan: MASA MUDAKU TERSELAMATKAN!
 
 

 
Kiri-Kanan: Mbeng-aku-Arika-Boyek-mas Rakih 
 
 
Mba-mba yang baru ndaki gunung, yeayy selamat atas first summitnya *peluktaskeril*

Kami sungguh bersyukur diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menikmati kebesaran-Nya berupa indah pemandangan yang terhampar dari puncak Merbabu. Meskipun kemudian cuaca berubah berkabut, samasekali tak mengurangi keanggunan dan kecantikan gunung Merbabu. Merbabu berasal dari kata “Meru“ yang berarti gunung dan “babu” yang artinya wanita (sumber: internet). 

Setelah puas mensyukuri nikmat Tuhan, kami memutuskan untuk turun gunung. Kami memilih jalur Selo. Jalur ini terdapat 4 pos. dari puncak Kenteng Songo ke pos 4 Sabana 1 memakan waktu sekitar satu setengah jam. Jalan turunnya begitu menjurang, kadang juga licin, harus ekstra hati-hati. Dari pos 4 turun lagi ke pos 3 Batu Tulis dan memakan waktu sekitar satu jam. Pos 3 menuju pos 2 Pandean sekitar 30 menit. Kemudian dari pos 2 menuju pos 1 Dok Malang sekitar 2 jam dan terakhir dari pos 1 menuju basecamp Selo sekitar 1 jam. Kami sampai basecamp Selo pada malam hari pkl 22.00. mampir sejenak makan di warung sambal minum es joshua. Malam ini kami berniat nginap di rumah pak Nardi, seorang supir mobil angkutan pick up. Di jalur Selo ini tidak ada angkutan umum, daji pak Nardi dan teman-temannya yang biasa menyewakan jasa angkutan dari basecamp Selo menuju jalan raya Boyolali. Kalau aku tak salah ingat, waktu itu satu angkutan di kenai biaya rp. 100 ribu dibagi per kepala teman-teman. Kami nginap di rumah pak Nardi bersama rombongan pendaki asal Jakarta. Pak Nardi ini orangnya sangat ramah dan baik. Barangkali kalian mau ndaki Merbabu, nih nomor pak Nardi angkutan pendaki basecamp Selo 081393121405.
Pada senin, 2 Maret 2015 pagi hari setelah berkemas-kemas, kami meninggalkan rumah pak Nardi. Melalui mobil pikep pak Nardi, kami diantarnya sampai jalan raya kecil Boyolali. Terimakasih tumpangan juga kebaikan hatinya pak, semoga bisa bertemu kembali. Dari jalan raya kecil Boyolali ini kami naik bus kecil menuju terminal Boyolali yang memakan waktu 1 jam perjalanan dan biaya Rp. 10 ribu. Di terminal kami naik bus jurusan Semarang, dan turun di Solo (dekat kos Nevada mas Rakih cs) yang emakan waktu 1 jam 30 menit dan biaya Rp. 12 ribu. Sampai di kos kami semua langsung istirahat total.


Malam hari itu tiba waktunya aku dan Boyek pamitan. Kami pilih bus travel langsung menuju Arjosari Malang, dengan biaya Rp. 125 ribu. Sebelumnya kami diajak minum di warung kopi legend. Dalam perjalanan kami dikenalkan tempat-tempat keren di Solo. Dari secangkir gelas kopi, lagi-lagi kami bercerita banyak hal. Sampai berjumpa lagi di dunia perkopian selanjutnya mas Rakih, Arika dan Mbeng, salam…

Main ke Museum “House of Sampoerna” Surabaya

Selasa, 29 September jadi hari terakhir si Ali di Malang. Hari itu Diangkutinya barang-barangnya dari kamar kos, yang juga kamarku. Kami sejak sebulan setengah yang lalu jadi teman sekamar, karena waktuku di rumah kontrakan lama telah habis. Sembari nunggu wisuda dan jadi tempat istirahat di Malang, Ali tawari aku untuk sekamar dengannya. Dan hari itu, kamar yang dipakainya berteduh selama di Malang, beserta semua perabotannya, terlebih lagi semua kenangan selama berada disana, harus pula diangkutya pulang ke Surabaya. Aku dan Nanang tahu benar mendung di mata si Ali. Sahabat kami hari itu harus menjalani kenyataan untuk selangkah jadi lebih dewasa menatap fase hidupnya kedepan. Biarkan saja si Ali bercericau kesedihan sesukanya, nikmati waktu-waktu terakhirmu li…
Setelah selesai semua barang dikemasi, aku dan Nanang ikut serta ke Surabaya untuk menghadiri jobfair di kampus ITS, maklum pemburu kerjaan wakaka. Ternyata waktu tak mencukupi untuk sampai di ITS tepat waktu. Ali kemudian nyeletuk “ayo halan-halan wae yokk, mumpung ning Suroboyo rekk…” dan kami tanpa komando langsung seiya-sekata. Ali mengajak kami ke museum rokok :"House of Sampoerna”, sepertinya seru karena kami semua smoker (hadduh isin aku ngaku smoker)…
House of Sampoerna terletak tak jauh dari kawasan Jembatan Merah atau kawasan “kota tua” di Surabaya. Di Kanan-kiri banyak terdapat bangunan-bangunan berarsitektur kuno, terlihat begitu anggun dan megah. Disepanjang perjalanan aku ndelongop seperti bocah ndeso lihat pemandangan kanan-kiri gedung yang keren-keren, Lha pancene aku ndeso.
Masuk Museum Sampoerna tidak dikenai biaya sepeserpun. Kami disambut ramah oleh mba penjaga. Sebelumnya disamping gedung utama museum terdapat rumah pribadi milik owner PT Sampoerna saat ini, Putera Sampoerna. Di halaman rumahnya berjejer 2 mobil antik Rolls Royce, keren sekali. House of Sampoerna terdiri dari dua lantai, dan aroma wangi tembakau dan cengkeh bersemerbak memenuhi ruangan. Di lantai pertama terdapat 3 ruangan. Ruangan pertama berisi replika sebuah warung bernuansa ndeso milik pendiri PT Sampoerna, Liem Seeng Tee. Terdapat juga berbagai macam tembakau dan cengkeh dari Jawa, Madura Bali dan lain-lain.
 

Ruangan kedua berusaha mengenalkan ke pengunjung mengenai orang-orang yang menjabat di direksi PT Sampoerna. Ada juga lukisan-lukisan yang mengesankan betapa rokok telah melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia sejak zaman dulu. Juga ada foto pak Soekarno, Soeharto dan Sultan Hamengkubuwono (yang lupa keberapa) juga tokoh-tokoh besar lain sedang ngudut rokok dengan nikmatnya. Disini juga terdapat brankas penyimpanan barang berharga zaman dulu. Brankasnya terbuat dari kayu yang tebal sekali, dan juga sangat kokoh. Aku Ali dan Nanang tak henti-henti ngerubuti brankas ini, mencoba-coba dan menebak-nebak betapa kokohnya brankas buatan Belanda zaman kolonial dahulu. Mungkin brankas ini lebih berharga dari barang berharga yang disimpan didalamnya, hahaha…
 
 

Di ruangan ketiga kami disuguhi dengan penampakan berbagai mesin pengolahan rokok zaman dulu, juga ada berbagai produk rokok legend milik Sampoerna tempo doeloe. Juga terdapat miniatur peta Indonesia yang berisikan tempat dimana saja pabrik Sampoerna beroperasi.
Naik ke lantai atas, merupakan tempat penjualan suvenir. Sebelumnya di tangga menuju ke atas tergantung berbagai foto unik dan antik yang membikin suasana tembakau makin melekat di museum ini. Ada banyak yang dijual disini, ada rokok, miniatur becak dan patung. Dijual juga berbagai baju batik tangan asli dengan harga jutak-jutak wakaka. Di lantai ini sebenarnya bisa juga pengunjung menyaksikan betapa ulet dan terampilnya pekerja milik PT Sampoerna dalam produksi rokok. Sayangnya waktu itu sudah sore, para pekerja telah berada di luar jam operasional kerja.


Keluar museum biar lebih afdol mengenal Surabaya, sebenarnya Ali ngajak kami untuk keliling Surabaya menggunakan bus dari museum Sampoerna, sayangnya kembali lagi kendala waktu yang kesorean. Tak apalah, kami telah banyak melihat-lihat isi museum. Mohon maaf karena batere hp yang saat itu kurang prima, foto yang terjepret tidaklah banyak.

Sepulang dari museum, seolah tak cukup untuk menikmati waktu-waktu terakhir kami bersama dalam dunia perkuliahan, juga perpisahan dengan Ali, kami sepakat untuk lebih lama menikmati malam kota Surabaya dengan secangkir kopi dan berselimut obrolan hangat


SEDUH KOPIMU, TEMAN…

Puisi dari Mas Rakih

Degradasi Paradigma

Wayang bergerak dengan tangan dalang
Watak orang Tuhan yang merancang
Wayang bergerak ditonton banyak orang
Manusia tertindas orang yang menonton malah ikut senang

Modern ini merubah sudut pandang
Dahulu tersayang sekarang terbuang
Dahulu termarjinalkan sekarang tertinggikan
Entah apa isi manusia dalam kenyataan

Dahulu anak-anak hormat pada sang tua
Menyapa salam senyum, menundukkan kepala
Apa yag kurasa jaman yang katanya surga
Hilang sudah rasa terkubur nada

Ahh… Celotehan sang tua itu bak angin
Anak anggap semua itu hanya membuat nyeri pada hati yang dingin
Anak surga tetap pilih antiaspirin
Ibu dan bapak menunduk melihat telapak kaki yang semakin licin

Hilangkah dongeng itu ketika malam menjelang?

Rakih Yusma R. (Pkl 22.00, 1 Oktober 2015)


Kemarin malam saat sedang asyik dengar lagu-lagu nostalgia di radio, hapeku tiba-tiba bunyi, ternyata ada bbm dari mas Rakih disana. Kenang-kenangan katanya, dan disuruhnya aku untuk tuangkan puisinya dalam coretanku. Mas Rakih ini partner pendakian gunung Merbabu yang kemarin, teman dari teman baikku boyek yang kuliah di UNS (Universitas Negeri Surakarta) ngambil disiplin ilmu Farmasi. Dia orang yang suuuuper jenaka, banyolannya selama pendakian kemarin bisa buat kami sedikit lupakan rasa lelah yang hinggap. Setelah ngobrol panjang lebar, kalimat penutup dari mas Rakih adalah “mari ngopi dari kejauhan, mas!” Siap, segera seduh dan racik kopinya tuan, dan mari ngobrol ngalor-ngidul baik berbobot maupun tidak untuk ngomongkan kehidupan. Salam damai selalu untuk teman-teman di Surakarta…

Jumat, 25 September 2015

Tribute to Boyek dan Ali

Rabu 9 september aku maksa balik ke Malang dari jenogoro naik bus cuma buat nyempatkan minum kopi malam itu sama boyek dan teman-teman. Malam itu berubah melankolis, itu malam terakhir kami ngopi dengan boyek dalam kehidupan perkuliahan kami. Sebab boyek teman terbaik kami besok akan berangkat cari nasi dan naik level satu tingkat dalam kehidupannya. Selamat menjalankan aktivitasmu diseberang pulau sana yek, kami doakan baik-baik selalu dan mari berjumpa kembali dilain kesempatan. See you on top, sukses konsorsiuuuummm!

Kemudian si Ali, yang pada 12 september menjalankan wisuda. Skripsi dan yudisium selesai duluan aku tapi kesalip pas ditikungan, lancang sekali kau mendahuluiku wisuda. Selamat atas wisudamu mas bro, maaf tak bisa hadir di momen sakralmu karena kesibukan yang bertumpuk. Kudengar tak ada  pendamping dalam wisudamu kemarin ya, itu wisuda atau ngambil rapor SD? Wakaka... Tapi tak masalah, sepertinya nasibku juga akan sama dengan kau. Tak ada pendamping wisuda bukan berarti kehidupan kuliah kita tak seru bukan? Malah mungkin sebaliknya, bebas lirik sana-sini sembari fokus pantaskan diri buat calon istri solehah dan anggun kita nanti, begitu kan li?
Sukses buat kita semua, teman...

Selasa, 15 September 2015

Teman Rebel



Bulan kemarin aku hanya bisa apload satu tulisan saja, karena memang sibuk wiri-wiri dengan aktivitas yang cukup menyita waktu. Satu yang cukup melelahkan yakni harus bolak-balik Bojonegoro-Malang untuk berbagai keperluan, angkut barang, temui banyak teman, siapkan wisuda dan lain-lain. Insting menulisku sepertinya makin tumpul, untuk menulis tulisan ini saja aku bingung harus mulai darimana. ya intinya tentang teman, teman-teman baikku di Malang. Awalnya dalam anganku tulisan ini akan jadi tulisan yang megah, akan aku kenalkan teman-teman baikku satu persatu biar dikenang dalam blog ini sampai nanti, ternyata salah. Sempitnya waktu buatku harus menulis ini dengan tergesa-gesa. Langsung saja ya, kelamaan intermezzo akan bikin gabut juga.
Aku punya beberapa teman baik di Malang. Salah satu yang paling berat untuk tinggalkan Malang yakni karena kenangan dengan para cecunguk-cecunguk ini. Banyak hal yang telah kami lakukan, mulai dari perkopian, permbolangan, perkampusan, perduniamalaman, dari yang baik-baik sampai yang nakal-nakal (tapi aku gak patio nakal wakaka). Sengaja sebagian kupilihkan foto-foto jadul agar terlihat lebih klasik. Karena foto-foto terbaru telah banyak ter-apload juga di sosial media lain seperti Instagram. Mungkin akan sangat memalukan karena tulisan ini akan menjadi mello, tapi maafkan. Kan sudah bilang, aku suka menceritakan kenangan!
Boyek adalah teman pertama dan terbaikku di Malang. Seperti Gol D Roger dan Silvers Rayleigh yang merupakan kedua orang pertama dalam kru yang kelak dikenal sebagai raja bajak laut di seantero lautan dalam kartun One Piece, boyek adalah first mate-ku. Kami telah banyak melewatkan waktu bersama, mulai dari dulu awal semester 1 sampai semester 10 (lulus kuliah pada-pada telat e sisan). Ada banyak pula tulisan-tulisan dalam blog ini yang membahas tentang boyek. Dalam ucapan terimakasih skripsi kami, kusadari nama masing-masing dari kami tersebut paling awal dalam ucapan terimakasih. Boyek adalah seorang teman yang baik, kami tak pernah sungkan berbagi cerita. Boyek, cheers…
 
 
 
 
Ali, seorang teman baik yang sungguh aku tak tau sampai dimana batas kecerdasannya saat berurusan dengan analisis ekonomi dan lain-lainnya yang berhubungan dengan grafik atau SPSS. Hidupnya selalu berkutat dengan laptop, angka, buku berangka-angka, aplikasi hape terkini. Ali adalah orang futuristik dan sering mengikuti kegiatan-kegiatan hebat. Kalau aku jadi Ali, pasti aku ndak mau berteman dengan Sentot. Meskipun kulihat dia ini orang yang cenderung kuper, tak punya banyak teman ternyata orangnya sangat asyik. Tak punya banyak teman maksudku dia jarang punya teman yang sangat dekat. Maklumlah, orang pandai biasanya benar-benar menyeleksi lingkaran pergaulannya. Kami saling kenal saat didapuk menjadi pengurus Center for Agriculture Development Studies (CADS), sebuah organisasi di kampus. Sampai saat ini dan insyaAllah sampai embah-embah nanti, kami akan tetap menjadi sahabat baik…
 
 
Syarief, lebih akrab dipanggil Ashe, teman baikku yang juga kukenal dari semester 1. Aku ingat dulu karena nomor absen yang letaknya berdekatan, akhirnya kami sering masuk dalam satu kelompok. Ashe ini jago dalam hal per-komputeran. Segala aplikasi, game, film, dan lain-lain dia selalu up to date. Ashe juga salah satu teman terbaik dalam perjalananku, kami sudah pergi ke banyak tempat bersama-sama. Sayangnya di sisa-sisa semester 10 ini kami jarang bersua dan ngopi bareng. Waktu itu aku sedang sibuk dengan project skripsi dan juga berbagai kegiatan ndak jelasku, sedang Ashe karena sudah punya pacar (baru punya wakaka) jadi sibuk sendiri. Tapi okelah, terimakasih ngopi koplaknya selama ini se, ayo guyon bareng maneh dan terus…





Nanang, baru kukenal saat semester 8. Waktu itu ternyata kami satu dosen bimbingan skripsi, bu Fahriyah. Koplake maneh, lha kok topik skripsinya mirip-mirip mbahas diversifikasi pangan haduhhh. Nanang adalah teman yang keren, melek fashion dan punya hobi memancing yang lumayan akut. Nanang juga pandai masak, sering sekali saat main ke kosnya aku dimasakkan makanan. Sekarang aku Nanang dan Ali satu kosan, untuk sebulan kedepan buat tunggu wisuda. Tingkahnya memang koplak, dan di skripsinya berdoa semoga besok kami (sepertongkrongan Rebel) kelak dimasa depan bisa menjadi besan. Mattaneeeeeeee, wakaka…
 
Aku masih punya banyak teman, banyaaaaaak sekali. Favian, seorang teman yang mungkin sedikit pemalas, dan sering ungkapkan impian utopis. Terakhir aku bertemu si doi, dia bilang punya teman di penerbitan, siapa tahu tulisan-tulisan diblogku mau dibukukan. Kupisuhi mukanya sambil ketawa, karena tulisan-tulisan di blog ini masih sangat tak bermutu wakaka. Sukses dan maju terus untuk Thesisnya kawan, semoga impianmu tak collapse. Ary Romadhona atau baiknya dipanggil Ardon, satu-satunya teman dalam hidupku yang anehnya ndak karu-karuan. Gimana ya, mau ngomong tentang Ardon itu susah sekali, dia sangat aneh, saking anehnya sampai-sampai aku dan boyek sepakat menasbihkan Ardon menjadi raja kami, raja dalam hal kekoplakan. Kemudian ada Jemni, teman dari Sumbawa sana. Penyuka futsal lebih dari siapapun di pertongkrongan kami. Kami dulu sering main futsal bareng, dan di Gagak Lapar FC kami menyabet juara 3 Dekan Cup Fakultas Pertanian. Sampai saat ini kami sedang sama-sama berjuang untuk segera wisuda. Ada Askik, teman yang wihh luar biasa hebatnya dalam menggambar. Lukisan di tulisan “Edelweiss Layuku” adalah buah karya ciptaannya. Sekarang dia buka usaha lukis sketsa wajah. Sudah banyak yang mengakui kekerenan lukisannya. Segera selesaikan skripsimu skik, jangan terlena! Ada Rifqy, penjaga gawang Gagak Lapar FC yang selalu baik hati. Dijuluki “mendem cao” amergo bocahe nek ngomong seperti orang mabuk, ndak jelas wakaka pisss rippp. Dan maaaaaasih banyak teman baik lain di kampus Brawijaya yang ndak bisa diceritakan satu-satu dua.
Tak lupa juga teman-teman kontrakan asal Bojonegoro, Piteriya dan Jun Ardi, yang total full selama 10 semester menemaniku tinggal di Malang. Meskipun begitu, sepertinya kami tak begitu dekat. Tak begitu dekat apabila dibandingkan dengan teman-teman di kampus. Mungkin karena kesibukanku, juga preferensi aktivitas anehku yang membuat kami tak begitu saling bertukar pikiran dengan lancar. Tapi teman, tetap saja, kenangan bersama kalian selalu ada disini. Terutama saat kita santai-santai di atap kontrakan sambil hisap sebatang rokok dan bercerita keluh kesah mengenai berbagai hal baik yang berhubungan dengan kampus maupun diluar kampus.
Sungguh sulit hendak menutup tulisan ini, karena mungkin masih buwanyaaaaaak teman-teman baik yang belum disebutkan. Ada dari organisasi, dari permbolangan, wah pokoknya buwaaaaanyakkkkk. Maafkan aku, dilain kesempatan pasti kuapload tufoto-foto kalian. Teman adalah sebuah rezeki yang dianugerahkan Tuhan kepada kita, dan Tuhan anugerahkan padaku teman-teman yang keren.. Aku ingat ada kalimat keren di sebuah buku tetralogi Pulau Buru, buku 4 Rumah Kaca, demikian bunyinya:
"Tak ada yang lebih baik daripada persahabatan yang ikhlas, teman-temanku yang kukasihi. Terimakasih atas kebaikan kalian. Tak ada manusia hidup tanpa persahabatan dan kebaikan, karena yang bukan demikian bukan manusia. Selamat tinggal..." (hlm. 195)
Sampai berjumpa kembali di masa depan, see ya on top.
UNTUK TEMAN-TEMANKU SEMUA, BERJAYALAH!!!!!!!!!!!!!