Kamis, 10 Desember 2015

Sentot: Sang “Napoleon Jawa”



Alkisah dulu sering dapat ejekan dari teman-teman baru perihal nama yang memang terdengar aneh: Sentot. Banyak pelesetan-pelesetan yang sepertinya suka sekali digunakan teman-teman buat kalahkan membuat lucu namaku. Aku masih ingat dulu saat di perolok nama selalu marah sama teman-teman baru, sampai suatu ketika saat sedang belajar ngaji pernah kupukul muka si Sobirin sampai keluar darah hidungnya, hahaha memori masa kecil. Tapi benar apa-apaan ini nama Sentot, apa coba motivasi orangtuaku kasih nama jelek yang tak sedap diucapkan untuk panggilan begini.
Malu dengan nama yang disandang berlanjut terus dari kecil, MI, SMP, SMA bahkan sampai awal-awal kuliah. Sering sekali saat kenalan dengan teman baru, kusebutkan nama “Sentot” dan mereka balik bertanya: “nama aslinya siapa mas?” Lohh ndess, lha iku pancen jeneng asliku piye to. Hal yang seperti ini kan memang bikin malu dan minder. Memang terjadi di awal-awal perkenalan saja. Setelah itu umumnya teman mulai terbiasa kemudian.
Pada awalnya memang aku tahu arti nama Sentot, dia diambil dari nama seorang Panglima perang zaman kemerdekaan. Dulu aku tak begitu paham mendetail, walaupun sering juga diceritai simbah cerita panglima tersebut. Orang-orang kampung dulu waktu kecil juga sering momong dengan sebutan “Mas Sentot Alibasah Prawirodirjo”, kadang nanya mau kemana? Kemudian aku mulai suka mbaca buku, terutama tulisan-tulisan dan susatra klasik. Disana banyak kujumpai nama “Sentot”. Siapa to Sentot ini?
Sampai pada suatu ketika waktu sedang ada acara pengabdian desa dari organisasi ekstra kampus ke Desa Kalitekuk, Donomulyo, Malang, aku berjumpa dengan pak Trimo, bapak pemilik rumah tempat kami nginap. Aku masih ingat betul saat itu sedang nongkrong malam-malam di dapur rumah, hanya ada aku, ashe dan pak Trimo sedang lainnya tidur karena kelelahan, kami bikin kopi khas Kalitekuk sambil ngobrol. Pak Trimo tanya “namine njenengan sinten mas?” kujawab: “Sentot pak, hehe, agak aneh pak ya?” Diluar dugaan pak Trimo njawab panjang lebar ceritakan bahwa itu nama pahlawan ini, lahir disini, belajar disitu, perang disana, dan wafat dimana, kemudian pak Trimo lanjut cerita panjang lebar mengenai nama anaknya, Supriadi, yang diambil dari nama pahlawan pemberontakan PETA di Blitar, Syodanco (pangkat dalam militer) Supriadi. Supri diambil dari kata supreh yang artinya mencari, sedang adi dari adhi berarti kebaikan, kebajikan, kebenaran, dsb, jadi Supriadi adalah orang yang mencari kebenaran dalam hidupnya. Kemudian pak Trimo melanjutkan cerita dongengnya panjang lebar sampai kantuk menyerang kami… Aku sendiri ndak nyangka, petani dan orang desa yang tinggal sederhana macam pak Trimo ini paham benar mengenai sejarah, keren!
Pada suatu ketika aku berjumpa rekan baru, mas Ravi. Saat kukenalkan diriku dengan nama Sentot, dia langsung kaget. Tapi baru kali ini kujumpai orang yang saat kusebut namaku bukan kaget niat olok tapi malah kasih pujian, yooo tapi ambe ngenyek sitik sisan se mas Ravi kampret haha.
Pembacaan bukuku makin kulanjutkan, makin lama nama Sentot banyak muncul terutama di buku Pramoedya tetralogi Pulau Buru dan Max Havelaar. Sampai akhirnya aku browsing dan nemu disini http://abiddeandalucia.blogspot.co.id/2011/12/sentot-ali-basya-sang-napoleon-jawa.html, yeayyy lumayan keren tulisannya, dan catatan ini harus segera kuakhiri, dadi intine ojok ngenyek aku sing nduwe jeneng aneh iki cah, wacaen iki dhisik :p

Sentot: Sang “Napoleon Jawa”
Sentot, atau nama lengkapnya ialah Sentot Ali Basya Abdullah Mushtofa Prawirodirjo, salah satu buyut dari Sultan Hamengku Buwono 1 (dari garis keturuna ibu). Ia merupakan komandan pertempuran dari pasukan-pasukan pelopor pada saat Perang Dipenogoro. Gelar basya atau pasya adalah gelar yang diilhami oleh para panglima perang di Turki yang di zaman itu menjadi kebanggaan bagi umat Islam di seluruh dunia.
Sentot Ali Basya adalah panglima perang pangeran Diponegoro yang meskipun usianya ketika dilantik oleh pangeran Diponegoro sebagai panglima besar masih berusia sekitar 17 tahun, namun kecakapannya dalam bertempur dan keberaniannya sangat mengagumkan musuh. Belanda sendiri mengakuinya seperti apa yang tertulis di dalam buku “De Java-Oorlog Van 1825-1830” oleh E.S. De Klerek jilid IV yang menyebutkan; “telah menjelang saatnya bahwasanya ia (Sentot) akan mencengangkan para lawannya dengan suatu manuver (gerakan pasukan) yang dijalankan dengan kemahiran dan keberanianya yang luar biasa bahkan panglima-panglima perang yang berpengalaman sekalipun dapat merasa mujur jikalau mereka dapat memperhatikan tindakan yang demikian.
Belanda memasang perangkap dengan menggunakan saudara Sentot Ali Basya, yaitu Prawirodiningrat, bupati Madiun yang mengajak damai karena Belanda ingin membicarakan cita-cita dan tujuan perang Diponegoro seperti lainnya, setiap perjanjian perdamaian didahului oleh gencatan senjata atau penghentian pertempuran. Sentot Ali Basya mengajukan menyanggupi dengan mengajukan syarat, harus dijemput oleh panglima Belanda sendiri dan juga pasukannya yang 1000 orang itu harus tetap menyandang senjata dan tetap memakai jubah dan surban.
Bupati Madiun itu menerima tawaran Belanda untuk mengadakan perundingan seperti di uraikan cita-cita perang Diponegoro melalui Haryo Prawirodiningrat, kakak kandung Sentot Ali Basya. Tentu latar belakang keinginan Belanda yang sebenarnya tidak lain disebabkan terlalu payah menghadapi perang Diponegoro. Satu-satunya keinginan Belanda ialah segera mengakhiri perang melalui jalan apapun dan itu tak lain adalah tipu muslihat untuk menangkap “Napoleon Jawa” itu.
Sentot Ali Basya terlalu percaya kepada sang kakak dan lebih lagi terlalu percaya akan “senyum” kolonialisme. Tentunya juga tidak bias dipungkiri terdapat pertimbangan politis: Perang terlampau mahal, penderitaan rakyat suatu ketika melampaui batas ketahanannya. Jika ada jalan lain dan lebih pendek dengan sedikit resiko misalnya penyelesaian di meja perundingan, apa salahnya?!
Panglima Sentot menerima tawaran Belanda, ia memasuki kota Yogyakarta dengan mendapatkan upacara militer penuh sebagai seorang jendral tepat pada tanggal 24 oktober 1829. Tetapi ada perasaan aneh menyelinap dalam hatinya, mengapa hanya pembesar kraton yang menyambutnya? Mengapa tidak satu perwira tinggi belanda menampakkan diri? Dimana jendaral De Kock yang dijanjikan hendak menyambutnya untuk berjumpa di meja perundingan setelah upacara penyambutan secara militer usai?
Sentot Ali Basya masuk perangkap belanda, ia disergap kemudian dijadikan tawanan perang. Napoleon Jawa itu dipaksa belanda untuk bertempur menghadapi Imam Bonjol yang sedang mengorbankan perang kemerdekaan di sumatera barat. Lagi-lagi belanda menjalankan siasat kolonialismenya “farriq tasud” alias “divide et impera”. Sentot Ali Basya dipaksa berangkat ke sumatera barat tanpa pasukannya, akan tetapi ia memperlihatkan sikapnya bagaikan seekor singa garang yang tak bisa dijinakkan. Di sumatera barat ia secara cerdik mengadakan kontak dengan anak buah Imam Bonjol, ia menggabungkan diri ke dalam pasukan paderi yang sedang mengahapi perang kemerdekaan dan merencanakan suatu kerja sama untuk suatu ketika dapat mengusir belanda dari seluruh sumatera.
Namun pada akhirnya Belanda mencium rencana tersebut, Sentot Ali Basya yang masih dalam status tawanan perang belanda dikucilkan dari kawan-kawannya dan pada suatu ketika ia ditangkap dan dikirim ke Batavia. Di Batavia ini Gubernur Jendral Belanda mengeluarkan beslit (surat keputusan) sebagai tawanan perang dan diasingkan ke Bengkulu.
Empat tahun ia telah terpisah dengan pangeran Diponegoro pemimpin besarnya, empat tahun ia berjuang menetang kekafiran dan kedzaliman penjajah, ia bertempur di garis depan menentang maut yang disebar oleh kaki tangan musuh yang membuntuti gerakan-gerakan militernya. Akan tetapi ia seorang panglima perang yang paling ditakuti komandan-komandan belanda dari segala lapisan, bahkan Jendral De Kock sendiri mengakuinya.
Sentot Ali Basya seorang panglima kepercayaan pangeran Diponegoro yang telah terpisahkan oleh jarak jasmani ribuan kilo meter dari medan pertempuran yang langsung dipimpin oleh pangeran Diponegoro, akan tetapi secara rohani ia tetap dekat dengan sang pangeran dan sahabat-sahabatnya dalam jihad perang kemerdekaan. Selama 26 tahun Sentot Ali Basya hidup sebagai orang tawanan perang dan setelah 22 tahun hidup sebagai orang buangan di Bengkulu. Disanalah pada tanggal 17 april 1855, Napoleon Jawa itu wafat sebelum mencapai umur 50 tahun, jauh dari Madiun kota asalnya…

(KH. Saifuddin Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam Dan Perkembangannya di Indonesia, hal. 549 - 553. Penerbit Al Ma’arif Bandung, 27 Juli 1979)

Menjadi Lelaki Masa Depan



Artikel ini kudapat dari sebuah akun pemberitahuan di Line, sayang sekali kalau tak dibagikan. Lakik wajib baca, sungguh amat sangat keren sekali banget. Sama sering-sering juga melototin akun ig @dailymanly, greget…
When a man turns into a gentleman!

#OneDayOneMessage23
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Lelaki Masa Depan
oleh: Wahyu Awaludin (FIM 17)
“Are you man enough?” Jon Lipsey, Daily Star, September 15, 2005
👩Marian Salzman lahir di New York. Menghabiskan masa kecilnya di wilayah Bergen Country, New Jersey, dia kemudian melesat menjadi mahasiswa Sosiologi di Harvard. Kini, dia menjabat sebagai presiden Euro RSCG Worldwide PR cabang Amerika Utara. Selain itu, dia juga menjadi direktur Bob Woodruff Foundation, adviser Berlin School of Creative Leadership, dan anggota Brown University’s Women in Business.
📔Pada tahun 2005, Marian Salzman, Ira Matathia, dan Ann O’Relly, menerbitkan sebuah buku yang kelak akan menggemparkan para lelaki: The Future Men. Tiga orang itu melakukan riset mendalam untuk menjawab pertanyaan, “seperti apa lelaki masa depan itu?” Akhirnya, setelah melakukan penelitian yang melibatkan lebih dari 20.000 orang, buku itu menasbihkan bahwa lelaki masa depan adalah para lelaki uberseksual.
❓Apa itu lelaki uberseksual? Apakah mirip dengan homoseksual? Tidak ada hubungan antara homoseksual dan uberseksual. Makna uberseksual lebih dekat dengan metroseksual. Seperti yang kita tahu, lelaki metroseksual adalah lelaki yang stylish. Mereka adalah pria yang mengikuti mode, rutin ke salon atau gym, dan rela menghabiskan ratusan ribu rupiah demi menjaga penampilannya agar tetap keren dan cool. Ngomong-ngomong, istilah metroseksual ini diciptakan juga oleh Marian Salzman, tetapi Salzman pula yang “membunuhnya”. Dia berkesimpulan bahwa era metroseksual sudah tamat. Kini, dan masa depan, adalah era para lelaki uberseksual.
Jadi, apa itu lelaki uberseksual? Istilah ini berasal dari bahasa Jerman “uber” yang berarti “segalanya, unggul, superior” dan bahasa Latin “sexus” yang artinya “gender”. Contoh penggunaan kata “uber” bisa kita lihat pada semboyan Hitler, Deutchland uber alles (Jerman di atas segalanya). Berarti, arti lelaki uberseksual kurang lebih adalah “lelaki yang mempunyai karakter-karakter unggul dan superior”.
Wordspy.com mendefisikan “uberseksual” sebagai “A heterosexual man who is masculine, confident, compassionate, and stylish.” Sedangkan Macmillan English Dictionary mendefinisikannya sebagai “a heterosexual male who is both confident and compassionate and has a strong interest in good causes and principles.”
👦“Lelaki uberseksual”, kata Marian Salzman, “Adalah pria yang menggunakan aspek positif maskulinitas, seperti kepercayaan diri, kepemimpinan, dan kepedulian terhadap orang lain di kehidupannya. Pria uberseksual sangat peduli pada nilai-nilai dan prinsip hidupnya. Pria jenis ini lebih memilih untuk memperkaya ilmu dan wawasannya di sela-sela waktu kosong yang ia miliki.”
🔆“Dunia”, lanjutnya, “jauh lebih berharap kepada pria yang menghabiskan waktunya untuk membaca buku dan mengikuti banyak pelatihan, mencermati perkembangan terakhir yang ada di dunia ini, dan menganalisis berbagai peristiwa daripada mereka yang sibuk berhura-hura, pergi ke salon, menata rambut, mempermak wajah, dan memperkaya aksesorisnya.
🐝Saat ini dunia membutuhkan seorang pria yang peduli akan lingkungannya, kepada permasalahan bangsanya, ketimbang pria yang menghabiskan uangnya untuk mempercantik kulitnya,"  tegas Salzman.
💎Pria uberseksual mengetahui mana yang baik dan buruk dan berani mengambil keputusan tegas di tengah hujan kritik. Mereka juga mempunyai rasa percaya diri yang kuat, cerdas, tanpa kompromi, dinamis, maskulin, atraktif, stylish, serta memiliki komitmen kuat melakukan hal berkualitas di semua lini kehidupan.
Ya, mereka juga stylish. Salah jika kita mengira bahwa kesibukannya memikirkan umat manusia melalaikan dia dari merawat dirinya sendiri. Oleh karena itulah, penulis mengungkapkan di atas bahwa uberseksual dekat dengan metroseksual. Namun, ada perbedaan yang mencolok antara keduanya. Ilustrasinya sebagai berikut.
Bayangkanlah di pojok ruangan ada seorang lelaki metroseksual sedang berdiri di depan cermin. Sambil menyisir rambut dan menghisap rokok mahal, ia bersenandung, “aku adalah lelaki yang tak pernah lelah mencari wanita”, sementara di pojok lain ada lelaki uberseksual yang berbaju rapi sedang duduk di depan laptopnya.
Ia sedang memantau berita-berita terbaru tentang perkembangan kasus korupsi di Indonesia, kemiskinan di Afrika, sekaligus memantau perkembangan bisnisnya. Wajahnya rileks tapi matanya memancarkan keseriusan. Sambil membaca artikel-artikel terbaik di TIME.com, selasar.com, startupbisnis.com, entrepreneur.com, ataupun mashable.com dengan tempo tinggi, mulutnya senantiasa menyenandungkan lagu-lagu favoritnya.
Pria uberseksual adalah tipe “macho” dan “dewasa” dari pria metroseksual. Mereka menyisir rambut mereka dan memakai baju rapi, tetapi mereka juga menganggap persoalan korupsi di Indonesia jauh lebih penting dibanding sekadar meributkan baju mana yang cocok untuk hari ini.
Jika pria metroseksual ingin menarik perhatian para wanita, pria uberseksual sangat menghormati wanita. Namun, uniknya, meskipun pria uberseksual misalnya saja memiliki teman wanita yang sudah seperti “saudara kandungnya” sendiri, mereka lebih memilih pria sebagai sahabat-sahabat terdekatnya. Saat mereka memiliki masalah pun, mereka akan bercerita dengan sahabat-sahabat pria mereka.
Jika pria metroseksual membelanjakan uangnya untuk ke salon atau bersenang-senang di mall, pria uberseksual menginvestasikan uangnya di bisnis, lembaga sosial, keagamaan atau berbagai kegiatan lain yang mambawa manfaat. Jika pria metroseksual lebih nyaman berada di gym untuk membentuk ototnya, pria uberseksual lebih senang menjejakkan kakinya ke lumpur, berkutat dengan masalah erosi pantai. Jika pria metroseksual memperbincangkan masalah mode terbaru, pria uberseksual memperbincangkan masalah moral yang makin parah di bangsa ini. Jika pria metroseksual lebih memilih berhura-hura di akhir pekannya, pria uberseksual memilih untuk menyambangi perpustakaan guna mengisi otaknya dengan berbagai wawasan.
Namun, walau mereka sekokoh karang dalam meyakini prinsip-prinsip hidupnya, mereka juga adalah pria-pria yang hangat dan tidak kaku. Mereka memang tidak menangis jika menonton sinetron-sinetron kacangan di TV atau ditolak oleh wanita yang dicintainya, tapi mereka akan menangis jika melihat ketidakadilan terjadi di mana-mana, atau sangat terharu jika ada bencana alam yang menghancurkan rumah-rumah penduduk yang miskin. Mereka begitu peduli dengan orangtua, keluarga dan kawan-kawannya.
👦Menurut Salzman, salah satu contoh pria uberseksual saat ini adalah Bono U2. Pria yang bernama asli Paul David Hewson ini sungguh stylish, kaya, dan terkenal -lihat saja profesinya sebagai vokalis U2. Namun, ia tidak berhenti di situ. Ia berbuat untuk dunia. Ia memanfaatkan uang dan ketenarannya untuk membuat dunia jadi tempat yang lebih baik untuk ditinggali. Ia mendirikan “DATA”, yang merupakan singkatan dari Debt, AIDS, Trade in Africa (Utang, AIDS, Perdagangan di Afrika). Fokus organisasi ini adalah membangkitkan kesadaran tentang apa yang diklaimnya sebagai utang Afrika yang tidak dapat dibayar, penyebaran AIDS yang tak terkendali, dan aturan-aturan perdagangan yang merugikan rakyat miskin benua itu.
Bersama Rogan Gregory, Bono meluncurkan EDUN, merek yang sadar sosial. Ia pernah berpidato di acara pelantikan Paul Martin sebagai Perdana Menteri Kanada dan mendorong Kanada untuk ikut mengatasi krisis global. Ia mendampingi George W Bush dalam pidato di Gedung Putih tentang bantuan $5 milyar untuk negara-negara termiskin di dunia. Ia berperan besar dalam mengorganisasikan Live 8, sebuah 10 rangkaian konser di seluruh dunia untuk menggugah para pemimpin dunia menggelar pertemuan negara-negara industri Kelompok Delapan. John William Snow, mantan menteri Keuangan AS, pernah berkomentar tentang Bono di ABC This Week, “Saya mengagumi dia. Dia banyak berbuat baik dalam pembangunan ekonomi dunia ini”. Pada Desember 2005, ia terpilih oleh TIME sebagai Tokoh Tahun Ini, bersama-sama dengan Bill Gates dan istrinya, Melinda Gates. Pada Februari 2006, ia menjadi salah satu dari 150 kandidat penerima Nobel Perdamaian yang akhirnya anugerah itu diserahkan kepada Muhammad Yunus dengan Bank Grameennya.
Selain dari luar negeri, negeri kita sendiri pun menyimpan banyak pria uberseksual. Bukalah mata lebih lebar dan perluas pergaulan, maka kamu akan menemukan mereka ada di mana-mana. Di Media Sosial misalnya, mereka akan konsisten membagi konten positif, memfollow orang-orang hebat, dan menghindari hal-hal negatif menyentuh tweet mereka.
🌏Di dunia nyata, karya mereka lebih terlihat lagi. Mereka bisa di mana saja –media, perusahaan multinasional, organisasi masyarakat, pebisnis, inisiator gerakan, dan sebagainya. Kuncinya adalah cari mereka di rentetan gerakan, organisasi, ataupun startup yang tengah menjamur saat ini. Temui founder dan inisiatornya –hampir pasti mereka adalah pria uberseksual. Pantau juga media, mereka biasanya terliput akibat karya yang mereka telurkan. Temukan salah satu dari pria uberseksual dan mereka akan menuntunmu ke pria uberseksual yang lain. Biasanya, mereka ini berjejaring tanpa mereka sendiri sadari. Di tengah aktivitas sehari-harinya, pria uberseksual terus berkarya tanpa letih, membantu dan menginspirasi masyarakat, dan menciptakan startup-startup baru. Lihat juga teman-temanmu, pasti ada di antara teman-teman priamu yang tak henti berkarya dengan apa yang dia bisa. Tentu mereka memiliki kekurangan atau kesalahan di masa lalu, tetapi itu tertutup oleh perbuatan-perbuatan positifnya. Kata kuncinya adalah karya!
✨itulah kualitas seorang lelaki uberseksual. Merekalah yang pantas disebut “true gentlemen.” Mereka baik hati dan memanfaatkan kebaikan hatinya untuk kebaikan dunia. Mereka tenar dan memanfaatkan ketenarannya untuk mengajak orang lain berbuat baik. Mereka cerdas dan memanfaatkan kecerdasannya untuk menjadi bagian dari solusi permasalahan dunia. Mereka stylish dan rapi, tetapi tidak berlebihan. Mereka berhati hangat tetapi tidak cengeng. Mereka tidak hanya pikirkan penampilannya, keluarganya, karir atau bisnisnya, tetapi juga memikirkan bangsanya. Mereka memiliki mimpi-mimpi besar untuk dunia...