Selasa, 02 Juni 2015

Pendakian Gunung Butak (Via Jalur Panderman)



Minggu, 18 januari 2015 aku bersama tim pendakian beranggotakan Ashe, Nyot, Desi dan Alfikk berangkat untuk mendaki gunung Butak 2686 mdpl. Gunung Butak ini terletak di kota Batu, bersebelahan langsung dengan gunung Panderman 2000 mdpl. Gunung Butak juga dikenal popular dengan sebutan “Putri Tidur”, karena memang saat dilihat dari kejauhan mirip seperti yang dimaksudkan. Aku sudah lama dambakan untuk segera bisa cumbui hidung mancung sang putri. Tiap sore saat rehat dari kuliah kusempatkan naik ke loteng kontrakan untuk kagumi kemolekan si putri. Ya, ya, harus segera didaki biar tak bikin ganjal di hati. Singkat cerita seluruh perlengkapan dan persediaan untuk pendakian telah disiapkan, anggota tim juga telah siap mendaki. Mari kita kemon…
Pendakian Butak dapat diawali dari 3 jalur, yakni: Dau, Panderman dan kebun teh Blitar (lokasi spesifiknya aku lupa semua). Pagi hari sekali setelah sarapan kami langsung berangkat menuju jalur Panderman yang kita pilih. Di pos Panderman (lokasi ada dipostingan yang kutulis dijudul sebelumnya) dikenai retribusi Rp. 5000 juga penitipan motor yang semalamnya sekitar kurang lebih Rp. 2000 saja. Jalur awal memang sama dengan jalur yang dilalui untuk mendaki Panderman. Kami harus hati-hati karena memang banyak sekali percabangan untuk menuju jalur utama pendakian Butak. Setelah bertanya sana-sini pada petani setempat di ladangnya, akhirnya kami temukan jalur utama namun dengan tetap harus waspada takut seandainya nanti tersesat dan salah jalur. Dari pos gerbang menuju pos 1 dan 2 trek pendakian relatif aman, hanya sesekali bergelombang dan menanjak setelah itu kontur relatif naik turun. Dibutuhkan waktu kisaran 2 jam untuk sampai di pos 2. Di kanan-kiri banyak petani sedang berladang. Kemudian berjalan lebih jauh memasuki hutan yang lebih rimbun dan lama-kelamaan makin gelap.
Kami lanjutkan perjalanan, dari pos 2 menuju pos 3 memakan waktu sekitar 1 sampai 2 jam. Sesampainya di pos 3 ada percabangan ke kiri dan kanan. Awalnya kami sempat kebingungan, tapi si Alfikk bilang hari sebelum pendakian pernah browsing bahwa jalur utama yakni kiri dan kami mengiyakan. Jalur ke kiri awalnya menurun, kemudian landai dan nanjak lagi. Trek pendakian Butak relatif aman dan santai, ditegah-tengah jalan seringkali kami jumpai mata air menyembul dan menggenangi trek.
 
 

Pos selanjutnya yakni pos 4, memakan waktu 1 jam 30 menit dari pos 3. Pos 4 ini berupa tempat lapang yang luas dan teduh karena dilindungi pohon besar yang rindang bambang gurindang. Kami beristirahat lumayan lama disini, menghabiskan bekal makanan cemilan yang kami bawa dan minum susu. Setelah beristirahat lumayan lama dan letih terusir, lanjut untuk perjalanan. Yang sedikit mengagetkan adalah seketika trek dari pos 4 ini menanjak tajam, lumayan jauh dan cukup menghabiskan tenaga.

Perjalanan masih berlanjut, dan hari makin sore. Kami sampai di pos 4 setelah 1 jam perjalanan. pemandangan sembari perjalan tadi memang tiada taranya membikin hati damai, memanjakan mata. Pos 5 merupakan persimpangan antara jalur Dau dan Panderman. Cukup mudah mengenalinya, kiri jalur yang menurun dan kanan trek menanjuak sudah tentu menuju puncak. Karena hari sudah gelap dan kami kewalahan, akhirnya diputuskan untuk bermalam sebelum mencapai tempat dari awal kami targetkan yakni di Oro-oro Ombo. Tempat yang agak lapang didapatkan dan kami bermalam di tenda.
 

Senin, 19 Januari, pagi-pagi sekali kami bangun dan memasak. Setelah perut kenyang, lanjut kami dalam perjalanan. Tenda dan perlengkapan berat lainnya kami tinggal saja di tenda karena rencananya tidak bermalam lagi setelah sampai puncak. Ternyata tak sampai 45 menit berjalan kami sampai di oro-oro ombo. Tempat ini berupa savanna rumput yang luas, sesekali juga berkabut. Terdapat gubuk kecil dan sumber air yang mengalir asri. Kami segera mencari jalan setapak jalur menuju puncak. Ada banyak percabangan disini. Kami mencoba menjelajahi berbagai jalur dan setapak yang kami kirakan ke arah puncak, dan semuanya gagal. Pernah juga sampai di jalur yang benar-benar kami kira arah puncak karena memang tanjakannya yang tajam, namun ternyata hanya sebatas puncak bukit. Kami mencari dan mencari sampai hari tak terasa hampir sore. Dengan berat hati diputuskan untuk menghentikan pencarian dan kembali pulang ke tenda. Kurangnya informasi yang dikumpulkan sebelum pendakian membuat serbuan puncak Butak gagal namun tak total!

 

Awan pekat bergulung-gulung telah Nampak dari kejauhan, angin mulai menerpa sedikit kencang, hujan besar sebentar lagi datang. Ternyata benar, sebelum sampai di tenda kami telah basah kepayahan diguyur hujan yang benar-benar deras. Sampai kami tiba di tenda hujan terus saja tak kunjung reda derasnya. Setelah itu badai datang, angina yang menerpa kencang sekali. Kami tak bisa kemana-mana dan harus sembunyi di tenda sambal nyemil cemilan dan bekal makanan yang kami bawa. Sampai saat keesokan harinya di selasa, 20 Januari, hujan dan angin masih saja mengamuk riang. Setelah reda, kami bergegas berkemas dan turun pulang. Di jalur yang kemarin kami lewati tampak banyak pohon tumbang kemana-mana, untung saja jalur setapak yang kami lewati masih dapat dilalui walaupun dengan sedikit bersusah-susah. Disekitaran jalan Nampak banyak sekali ulat-ulat yang tersapu angina, dan kami harus berjalan berhati-hati.
Demikian saja catatan pendakian gunung Butak, walaupun toh akhirnya tak dapat sampai di puncaknya. Mungkin Tuhan belum mengizinkan kami cumbui hidung mancung sang Putri Tidur. Aku sendiri secara pribadi telah menyiapkan rencana untuk kembali lagi kesana dan memenangkan hati-Mu…

Senin, 18 Mei 2015

Bukan Mati tapi Mengangungkan Hidup

Rama Cluring mengangkat dagu tinggi-tinggi, mukanya telah berkilat-kilat karena keringat. "Ada kalanya katak berlompatan dikejar ular, ada kalanya dia mati kena terkam. Namun sebagian terbesar dari hidupnya yang pendek dia mengagungkan hidup, bukan mati. Mengerti kau apa maksudku? Boleh jadi kau sedang menunggu-nunggu datangnya kata-kataku yang bisa memperluas hatimu. Puh! Rama Cluringmu ini bukan pengluas hati."
(Pramoedya A. T., Arus Balik. Hlm. 535)
Melalui Rama Cluring dan kiasannya dalam buku ini, Pramoedya menceritakan tentang zaman kejayaan nusantara pra abad 16 dengan Majapahitnya, tentang praja-praja dan ksatrianya, tentang pemikiran dan pengetahuannya, keagungan kapal-kapal dan armada perangnya dibawah umbai-umbai merah putih yang mempersatukan nusantara. Sebuah epos besar dari seorang penulis besar!

Rabu, 13 Mei 2015

Dalam Senja

Engkau dan aku duduk diatas batu
sama-sama memandangi takjub kabut tipis-tipis di kejauhan sana
engkau bercericau riang, bercerita mengenai senja
dan aku diam saja...

Engkau menunjuki pohon, gemunung, rumputan, burung, matahari, langit
dan aku diam saja...

Engkau mengernyitkan dahi dan mengomel merajuk tentang kebisuanku
dan aku diam saja...

Engkau kemudian diam,
dan aku masih diam saja...

Minggu, 10 Mei 2015

Saking Gersangnya

Sore ini memang sedang gabut, materi bimbingan teknis Upaya Kusus dalam rangka pencapaian target swasembada Pajale (Padi Jagung Kedele) tak kunjung selesai.
Aku melongok keluar jendela, betapa saat itu kurasai jiwa sedang kering dan gersang. Kerinduan akan teduh dan jujurnya alam menyelinap diam-diam dalam hati. Hanya bisa menggambar dan sedikit berimajinasi, semoga bisa segera terbang bebas kembali dalam pelukan alam raya...

Kamis, 30 April 2015

Diskusi 30 April

Sore tadi ada seorang teman berkunjung ke kontrakan, namanya Aris Indallah. Dia teman baikku, junior di organisasi, senior dalam pendakian, lawan dalam diskusi dan penggalian ilmu-ilmu baru. Malam sebelumnya Aris mengirimkan pesan ke aku bahwa untuk sorenya dia akan main untuk diskusi dan minjam buku. "Mas, ada bukunya Tan?" begitu tanyanya, dan langsung kujawab ada, main saja besok sore ke kontrakan.
Sore ini kami berdiskusi banyak hal mengenai seorang Tan Malaka, mulai kehidupannya, pemikiran, sikap, ideologi, riwayat hidup juga kemudian merembet ke hal-hal lain dari yang penting maupun tak kalah tak pentingnya. Pembahasan mengenai Tan Malaka ini kurasa memang sangat tepat dilakukan sore ini, karena esoknya 1 Mei adalah Hari Buruh. Tak dapat disangkal memang, Tan adalah seorang kader ideologi sosialis yang selalu menggenggam tinggi cita-cita kesejahteraan para buruh. Ideologi Sosialisme-Komunisme dicetuskan oleh Karl Marx di akhir abad 19 di Jerman. Didasari dari ketimpangan ekonomi yang semakin hari semakin menjurang dalam antara si buruh dan pemilik modal (kaum kapitalis). Ideologi yang ditulisnya dalam Das Kapital kemudian menghasilkan sebuah manifesto yang melegenda itu. Dan Tan Malaka yang hidup pada zaman pergerakan tak kalah kecipratan sebuah ideologi yang berbahaya namun menurutku tak kalah bercita-cita mulia saat diambil intisari yang baik-baiknya saja itu.
Menarik membahas dan mengkupas tuntas semua mengenai Tan Malaka, kami menghabiskan waktu hampir dua jam, dan itupun kurasa belum semua pertanyaan tuntas terjawab. Diskusi kami begitu berapi-api, Aris menanyakan apa yang dia ingin ketahui mengenai Tan Malaka dan aku menjawab dan memberi semua pengetahuan yang pernah kupelajari dan ingat dari buku-buku yang pernah dibacai dengan tak kalah berapi. Aku senang ada seorang teman yang walaupun dengan dadakannya menanyakan dan ingin mengetahui lebih dalam tentang pahlawan Indonesia. Ketika kutanya mengapa begitu mendadak, jawab seorang Aris karena malam sebelum berkunjung saat iseng browsing Youtube dia banyak mendengar mengenai Tan Malaka disebut-sebut, karena penasarannya datanglah dia padaku untuk mendengar pula apa yang kuketahui tentang Tan Malaka. Terakhir kusuruh Aris bawa buku Madilog (Materialisme Dialektika Logika) dari rak bukuku. Buku Madilog ini buku yang benar-benar legendaris yang ditulis oleh seorang datuk Tan Malaka, pahlawan Indonesia paling berjasa yang paling tak dikenal (begitu banyak orang menyebutnya). Akan sangat memakan waktu lama saat membicarakan mengenai Tan Malaka, namun kujamin waktu lama yang ditempuh akan sangat berharganya karena yag dibahas merupakan orang yang tak main-main ngeri sepak terjangnya!
Sore itu aku merasa luwes menyampaikan ke Aris segala pengetahuanku, pundakku terasa ringan dan otak tak terbelenggu rasa-rasanya karena dihari itu juga pada paginya telah kuselesaikan sidang skripsi (ujian komprehensif). Meskipun belum selesai dan lulus benar, setidak-tidaknya aku puas  dengan hasil kerjaanku. Ujian skripsi kuselesaikan dalam waktu tak kurang dari sejam, dari jatah "pembantaian" yang diberikan yakni dua jam. Mungkin kalau boleh sombong ini adalah ujian kompre tercepat di sejarah Fakultas Pertanian UB, huaaaaahahahaha... Tak hanya itu, bolehlah berbangga sedikit karena pak Dekan sendiri pengujiku yang meminta file skripsi dan jurnalku untuk dimasukkan dalam jurnal internasional yang sedang disusunnya, lumayan nama "Abintara" besok eksis di skripsi-skripsi hahaha songong.
Demikian saja catatan ini, bulan ini adalah bulan sibuk dengan hanya berhasil apload dua tulisan tak mutu di blog ini. Semoga semua urusan segera selesai dan semangat dan cita-cita untuk menulis dan jadi penulis senantiasa menyala.
Sebagai penutup, selamat hari buruh 1 Mei 2015, semoga sejahtera untuk semua...

"Labour from all lands, unite!"
Buruh dari seluruh dunia, bersatulah!
(Pesan tertulis di makam Karl Marx)


Sabtu, 11 April 2015

Ada Hutang

Akhir-akhir ini banyak sekali yang harus kuselesaikan. Skripsi sudah mendekati akhir, tinggal sidang. Aku jadi harus selalu aktif ke kampus mengecek perkembngan terkini, juga konsultasi dengan dosen pembimbing. Banyak juga kegiatan di luar kampus, nongkrong dan bermain bersama teman, juga sibuk menyendiri selami buku-buku tulisan Pram, karena itu aku jadi jarang menulis. Ah piciknya aku.
Kedepan masih banyak hal yang harus kutulis, 3 catatan perjalanan pendakianku belum juga kutulis, Butak, Merbabu, dan Penanggungan. Setelah sidang akan kukerjakan. Ada juga catatan-catatan kecil berupa paper untuk bahan bacaan teman-teman di organisasi. Sudah terpikirkan judulnya, tinggal eksekusinya yang masih menunggu waktu. Kemarin juga sempat dapat kabar dari seorang teman yang sedang ngopi dengan salah satu penerbit buku lumayan ternama, dan aku ditawarinya untuk jadi penulis, belum juga terpikirkan untukku menulis sebuah buku. Boro-boro buku, paper yang hanya beberapa lembar saja sulitnya untuk selesaikan minta ampun. Tawaran ini akan tetapi sedikit banyak memberi cambuk buatku untuk terus menulis. Untuk sempat bermimpi? Pastilah aku sempat. Ingin juga ciptakan buku seperti Multatuli dengan Max Havelaar-nya, hash ngigau haha.
Setelah April, aku akan kembali menulis.
Ayo Tuhan, beri aku kekuatan berimajinasi...

Sabtu, 21 Maret 2015

Jangan Membaca: Lestarikan Kebodohan!



Malam-malam, ditengah lautan menuju selat Manila sebuah kapal tertabrak badai. Begitu besar sampai-sampai terlihat kapal tua itu akan terjengkang kesamping. Kru kapal sibuk berlarian menyelamatkan kapal dengan menarik tali-temalian layar kesana kemari. Sebagian penumpang mencoba menyelamatkan barang-barang yang bisa diselamatkan, sebagian lain hanya bisa berdoa. Karena sebuah keajaiban, kapal beserta semua penumpang selamat. Di dalam kapal itu ada seorang lelaki paruh baya, tubuhnya terlihat ringkih, namun raut matanya tajam, dan kuat. Ada yang aneh, dia tak merasa senang walau badai telah berlalu. Matanya tersorot pada satu titik, sebuah peti tua yang berada di pojok ruangan kamar dek kapal. Baginya badai belum berlalu. Beberapa hari yang lalu lelaki ini memutuskan untuk hijrah dari Tiongkok menuju Manila. Dibawanya barang-barang seadanya, namun yang ada dalam peti baginya lebih berharga dari mata uang manapun. Ternyata dalam peti itu bertumpuk berbuku-buku tulisan karya Machiavelli, Marx, Freidrich Engels, Shakespeare, Rumi dan penulis-penulis lain juga Al-qur’an Karim, dan berlembar-lembar tebal kertas hasil tulisan sendiri baik yang ditulis tangan maupun yang telah diketik. Waktu berlalu dan kapal akan segera sampai di pelabuhan, lelaki itu tak punya waktu lagi untuk menyesal. Dia harus menenggelamkan peti berisi buku-buku miliknya, merelakan dengan berat hati berbagai pustaka yang telah dikumpulkan dengan bersusah payah di masa lampau, byurr hilang tenggelam begitu saja ditengah laut yang sepi. Sampai di pelabuhan Manila, tampak berderet polisi melakukan pemeriksaan. Lelaki tadi turun dari kapal dengan menjinjing koper berisikan baju-baju dan piranti lain untuk hidup di Manila. Setelah tiba antriannya untuk diperiksa, polisi menemukan sebuah buku catatan kecil yang terselip di saku kemeja lusuh yang dipakai. Buku itu bertuliskan kumpulan abjad yang acak, seperti ACMSK (singkatan dari Army, Capital, Machine, Source, Knowledge. Ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan mengenai apa saja yang dibutuhkan untuk memenangkan perang, metode berpikir seperti ini kelak disebut “Jembatan Keledai”) dan lain sebagainya. Awal mulanya Polisi-Polisi tadi curiga, namun setelah perbincangan yang alot akhirnya lelaki pemilik buku catatan dibebaskan.
Lelaki yang diceritakan diparagraf atas adalah Tan Malaka, Muhammad Yamin menyebutnya sebagai bapak bangsa Indonesia. Cerita diatas bukan fiksi, namun benar terjadi. Cerita berkejadian sekitar tahun 1920-an, waktu itu dunia sedang bergejolak akibat perang. Krisis terjadi dimana-mana. Buku yang harus ditenggelamkan milik datuk Tan juga akibat imbas perang, lebih tepatnya perang ideologi. Saat itu peredaran buku sangat dijaga ketat, utamanya untuk buku-buku berbau ideologi, ekonomi, komunisme dan sastra revolusi. Bahkan sebagian buku dilarang untuk dibaca, untuk kemudian orang yang membacanya dicap pembangkang dan berdosa. Di Manila, buku-buku berbau komunisme dilarang dan pemilik ataupun pembaca yang terbukti harus dijatuhi hukuman mati, ditembak dilapangan disaksikan beramai-ramai masyarakat awam agar buku tertentu tidak dibacai lagi selama-lamanya. Pertanyaannya, kenapa buku?
Itu kisah mengenai Tan Malaka. Ada juga banyak cerita yang menggambarkan betapa sulitnya orang-orang di masa lampau dalam menggali pengetahuan atau bahkan untuk sekedar membaca. Dulu-dulu yang sangat dulu, tentara Persia akan membakar seluruh buku dan perpustakaan dari daerah jajahan baru yang berhasil ditaklukkan. Pertanyaannya, kenapa buku?
Menarik sekali membahas arti pentingnya buku, sampai-sampai wakil presiden RI pertama, Moh. Hatta bekata dalam sebuah catatan, “Aku rela dipenjara asal bersama buku, karena bersama buku aku bebas!” Sebuah kalimat yang sungguh bertabrakan namun mengandung arti yang sangat mendalam keluar dari seseorang yang semasa hidupnya dihabiskan untuk semata-mata kemerdekaan bangsa.
Melompat jauh ke masa kini, dimana langsung saja para pemuda-pemudinya dapat belajar dengan baik tanpa takut kehabisan uang saku, dengan gadget di tangan kiri dan leptop dikanan, tanpa takut dipenjara dan terbebas dari kerasnya popor senjata tentara-tentara yang siap dihantamkan andai saja ketahuan membaca buku-buku tertentu. Mendapatkan pustaka tentu akan sangat mudah, tinggal menekan tombol “OKE Google” internet dan semua beres. Jaman memang berubah, semuanya menjadi lebih praktis ketika membaca langsung pada poin yang dituju, dan juga tak perlu menenteng buku kemana-mana karena dengan gadget semua buku bisa ditampung, sangat praktis memang. Kenyataannya tak seindah itu, banyak godaan yang terpasang di aplikasi pembantu gadget-gadget saat ini. Instagram, Facebook, Twitter, Path, BBM, Foursquare, Line, bahkan Let’s Get Rich dll. Penulis paper ini juga menggunakan smartphone, dan jujur saja saat membuka kunci pada smartphone untuk pertama kali yang terlintas adalah menyelami media sosial, surfing in the Internet untuk bahasa gaul generasi gadget saat ini. Sungguh tak bisa dielak bahwa kumpulan media sosial tadi memang benar betul menggoda. Alih-alih digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, jujur saja mungkin proporsi untuk stalking sosial media yang membuang waktu dan kurang bermanfaat akan lebih banyak.
Aku, ah aku, maaf aku menggunakan kata “aku” karena lebih nyaman daripada menggunakan “saya” untuk menunjukkan bahwa aku adalah penulis paper ini, lebih kurangnya merasakan lunturnya budaya membaca di lingkungan sekitar. Coba saja amati apa-apa saja yang dilakukan teman-teman saat sedang rehat istirahat, atau saat sedang menunggu, atau saat sedang sendirian mungkin, lihat saja apa yang dilakukan, pasti tidak jauh-jauh dari gadget. Tidak-tidak, aku tidak memusuhi dan menganggap gadget sebagai sesuatu yang harus diberangus, tidak. Tapi kurang lebih itulah yang membuat buku atau apapun yang dapat dibaca, sedikit dicampakkan saat ini.
Selain faktor pengalihan perhatian seperti diatas, ada juga alasan yang menjadikan malasnya membaca sebagai hobi yang patut diselami. Ini adalah alasan klasik, alasan yang amat-sangat-basi-sekali-banget, alasan tidak suka membaca. Bahkan ada juga yang bilang membaca itu membosankan, terlihat kuno dan old-fashioned, kuper dan sebagainya. Kenyataannya adalah kalau kita mengambil contoh dari orang-orang “besar” yang telah berhasil dari masa ke masanya, baik disemua bidangnya, orang-orang  tersebut adalah mereka yang diotak dan hatinya sangat mencintai dan menjunjung tinggi kehadiran buku. Sebutlah bung Karno, Tan Malaka, Abraham Lincoln, Stephen Hawking, Gibran, Che Guevarra, Soe Hok Gie atau tokoh-tokoh saat ini seperti Prabowo, Anies Baswedan, SBY, Bob Sadino, Mark Zuckerberg, Steve Jobs, Hugo Chavez, tokoh-tokoh tersebut adalah contoh orang-orang besar dalam bidangnya dari masa ke masa, dan masih banyak beribu tokoh lain yang jelas tak akan mungkin diceritakan bagaimana sayangnya mereka pada perpustakaan dan tumpukan buku-bukunya. Bahkan kalau kalian mengenal Eminem, rapper keren asal Amerika penge-rap lagu “Love the Way You Lie”, kosakata dalam setiap lagunya yang begitu kaya adalah tak lepas dari kegemaran Eminem yang merupakan seorang pembaca berat buku kamus semacam KBBI-nya Amerika.
Adalah sebuah kesalahan fatal jika menganggap membaca buku adalah hal yang tak banyak membantu. Selain menambah wawasan dan pengetahuan, membaca buku juga dapat memperhalus budi pekerti, mencairkan kebekuan hati, mempertajam fokus, memperkokoh kepercayaan diri, dan merubah cara berpikir untuk lebih menjadi pribadi yang positif. Kuberitahu kalian sebuah rahasia, bahwa menurut akun twitter @FaktaGoogle mengungkapkan dalam sebuah penelitian bahwasannya laki-laki yang suka membaca buku terlihat lebih seksi dibandingkan dengan laki-laki lain yang tidak gemar membaca dengan asumsi tingkat kekerenannya seimbang, begitu juga dengan perempuan. Masih menurut @FaktaGoogle, laki-laki terlihat lebih “Gentle” saat mereka memiliki pengetahuan yang luas dan berkepribadian baik. Premis 1: Lukman (misalkan saja) seorang laki-laki keren yang gemar membaca buku, Premis 2: Dari membaca buku Lukman memiliki wawasan yang luas. Silogisme dari kedua premis tersebut adalah Lukman seorang lelaki yang gemar membaca buku dan memiliki wawasan yang luas, yang kemudian akan sampai pada sebuah hipotesis bahwa Lukman disukai/ditaksir oleh banyak teman perempuannya. Hal tadi tentu saja adalah sebuah permisalan, karena memiliki pengetahuan luas bukanlah sesuatu yang hanya bisa dicapai dengan melulu membaca buku, tapi juga dari berbagai hal lainnya.
Ada lagi hasil survey yang diadakan oleh Hipwee.com mengenai hal-hal apa saja yang dapat menghibur sebuah kedukaan atau disaat takut mengenai hal yang akan datang. Hasil survey yang telah dikompilasi menunjukkan bahwa membaca buku adalah obat paling ampuh untuk melupakan kesedihan, disusul ditempat kedua dan seterusnya yakni mendengarkan musik favorit (yang kukira menjadi obat nomor satu), pergi ke tempat-tempat indah atau tempat yang ingin dikunjungi, bercerita dengan teman dan lain sebagainya. Ini bagi kalian para generasi gadget yang ababil, yang seringkali galau karena ditinggal pacar mungkin, atau ditelikung orang lain mungkin. Aku tak menuduh, karena aku juga masih ababil seumuran dengan kalian.
Tak ada salahnya kita mulai kembali menyenangi buku, mulai bacai buku, mulai kembali lagi ke buku. Buku apa saja boleh dan halal, buku bacaan yang lepas konteks dari buku perkuliahan seperti novel atau lain-lain. Ambillah contoh sederhana, kemanapun pergi harus terselip sebuah buku bacaan di dalam tas terlepas nantinya akan sempat dibacai atau tidak. Saat senggang, “bermainlah” dengan bukumu, kesampingkan gadget atau lainnya barang sejenak saja. Jelas kita tak bisa langsung istiqamah dalam membaca seperti apa yang dilakukan Paulo Coelho yang tak pernah hari-harinya di jalani dengan tidak membaca buku selain hanya satu hari saat hari pernikahannya. Setidaknya dengan sedikit meluangkan waktu dan menggebrak rasa malas, buku akan selesai terbaca.
Buku bacaan yang patut dibaca tidak terpatok pada buku-buku pelajaran. Untuk awalnya coba bacai buku-buku yang menghibur diwaktu senggang, seperti novel, sastra, motivasi atau yang lainnya. Saat ini memang sangat banyak yang menggemari buku-buku macam tulisan Raditya Dika, Dee Lestari, atau lain-lainnya yang tergolong genre romanso metro-pop. Selanjutnya saat dirasa cukup kuat dan mantap dalam membaca, tinggalkan sedikit-sedikit dan mulailah beranjak ke sastra romansa klasik atau yang berkaitan dengan sejarah, Sospol (sosial politik), Teologi, filsafat, sosiologi dan masih banyak aliran buku yang lain. Percayalah, saat sudah merasa nyaman dengan membaca, bagaikan meminum air laut, akan semakin haus untuk “meminum” buku-buku selanjutnya.
Beberapa fakta diatas mungkin masih belum bisa menguatkan niat untuk langsung gemar membaca, semua pastinya membutuhkan proses. Tapi ingatlah, bahwa perintah pertama Tuhan kita dalam surat Al-Alaq adalah Iqra’, membaca. “Bacalah… Bacalah… Bacalah… Bacalah dengan nama Tuhanmu…” sekiranya seperti itu yang disampaikan malaikat Jibril kepada nabi Muhammad. Perintah membaca yang ditekankan sampai tiga kali menandakan pentingnya sebuah aktivitas membaca, membaca dalam arti yang seluas-luasnya. Kenapa bukan perintah pertama yang disuruh Tuhan kepada kita adalah tulislah, atau syahadat, atau shalat, atau tersenyum, atau berlari, atau menolong, atau berwudlu, dan atau-atau lainnya? Tentunya ini kewajiban untuk merenungkan dan mengupas apa yang diperintahkan Tuhan kepada kita sebagai makhluk yang berpikir.
Terakhir kalinya, aku mewakili para pembaca buku yang egois, antagonis, yang ingin menang dan ingin pintar sendiri. Menulis paper ini sebenarnya bagiku sebuah paksaan dengan setiap baris kalimatnya yang bagiku sangat menjemukan. Aku ingin tak seorangpun dari kalian yang bacai tulisan singkat ini setelahnya berubah menjadi gemar membaca. Kosongkan perpustakaan kalian, kosongkan isi tas kalian dan isilah dengan gadget atau piranti-piranti yang tak membawa kebaikan itu seperti kartu Uno, remi, berbagai kosmetik dan piranti lainnya. Karena pada saatnya nanti, kalian akan kecolongan dan merasa tertinggal jauh dari kami para pembaca-pembaca buku yang individualistis dan ingin pintar sendiri. Jadilah kalian pada akhirnya generasi yang tak berkompas, tak tentu arah, membebek dan membeo oleh trend-trend hedonis dan sekularis dengan segala tipu daya dan kemewahannya, yang sengaja diciptakan untuk menghancurkan mental kalian, membius kalian dalam kesenangan masa muda yang penuh ranjau dan jebakan. Kami para pembaca buku akan benar-benar berdiri sebagai pemenang, sementara kalian, hanya ini pesan yang kami tinggalkan: Jangan membaca, lestarikan kebodohan! Salam.
Kupinjam dari Tan Malaka, ditulis pada 22 Maret hari puisi, Padi tumbuh tak berisik…

                                                                                               Penulis:
                                                                                               Abimanyu Permadi (Nama Pena)


Paper ini ditulis dalam kaitannya memberi sumbangsih dan ikut berpartisipasi mengembangkan bidang kepenulisan ADKES HMI Komisariat Pertanian UB. Semoga bermanfaat, dan juga untuk pembaca lepas, semoga mencerahkan. Yakin Usaha Sampai...