Sabtu, 11 Juli 2015

Skripshoooootttt



Tulisan kali ini akan sedikit menceritakan mengenai skripsi yang telah kuselesaikan sebagai syarat meraih gelar strata-1 sarjana pertanian. Sedikit saja, karena memang otak ini sudah benar-benar muak dengan angka-angka perhitungan regresi, revisi, dan segala yang berhubungan dengan skripsi. Penulisan kali ini juga ditulis seingat saja, males kalau harus buka-buka file skripsi lagi, pakai gaya bahasa santai biar ndak methenteng terus. Baiklah, ini dia.
Skripsi yang kukerjakan berjudul “Analisis Faktor-faktor Sosial Ekonomi yang Mempengaruhi Diversifikasi Konsumsi Pangan pada Rumah Tangga Petani Padi (Studi Kasus di Desa Sedeng, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro)”. Kata kunci dari judul diatas terletak pada Diverisifikasi konsumsi pangan. Yang dimaksud diversifikasi konsumsi pangan menurut bahasaku sendiri, yakni konsumsi pangan guna mencukupi energi untuk aktivitas sehari-hari yang didapatkan dari berbagai sumber pangan. Sebenarnya akar permasalahannya terletak pada topik utama yakni ketahanan pangan. Kemudian ketahanan pangan dibagi dalam 4 aspek, yakni sisi ketersediaan (availability), konsumsi (consumption), stabilitas (stability), dan keterjangkauan (accessibility). Diversifikasi pangan merupakan salah satu penguat ketahanan pangan dari aspek konsumsi, karena sejatinya pertanian Indonesia tak hanya melulu tentang padi. Dengan mempertimbangakan berbagai kompleksitas di bidang pertanian yang tak perlu kujelaskan dalam tulisan ini, konsumsi dari satu jenis bahan pangan saja akan membahayakan keadaan pangan pada suatu wilayah. Kluster wilayah cakupan dalam membahas pangan yakni dari tingkat paling makro hingga ke mikro, dari tingkat nasional, daerah, kota, dan sampai kemudian yang terkecil yakni tingkat rumah tangga. Secara gampangnya, ketahanan pangan bisa dikatakan kuat bila sampai tingkat rumah tangga mampu memenuhi kecukupan pangannya dengan baik sesuai 4 aspek ketahanan pangan diatas,
Sumber pangan yang secara umum dikonsumsi orang modern jaman sekarang tentu sudah kita sama-sama tahu, kalau tidak dari nasi juga gandum-ganduman (roti dan mie), karena kedua pangan ini memiliki energi Kkal (kilo kalori) yang tinggi. Secara ilmiah pada skripsiku ada 8 bahan pangan, yakni padi-padian, umbi-umbian, pangan hewani, minyak dan lemak, biji berminyak, kacang-kacangan, gula, sayuran dan buah. Kesemua bahan pangan ini haruslah dikonsumsi berimbang sesuai dengan anjuran yang telah ditetapkan para ahli, takarannya akan sangat merepotkan kalau kutulis ulang. Kalau mau tahu bisa dicari sendiri di internet, atau kalau mau lengkapnya hubungi saja disini firmansentotap@gmail.com nanti kukasih file skripsiku lengkap dengan syarat benar-benar dibaca.
Sasaran penelitianku adalah para petani padi tetangga rumah, kebetulan lokasi penelitian adalah kampong halaman sendiri. Petani disini menanami sawahnya selalu padi penuh dalam setahun, yang sebenarnya tidak baik dilihat dari segi ekologis. Dari sisi usahatani pun mungkin juga kurang menguntungkan, maka dari itu dipilihlah responden rumah tangga petani padi.  Alasan lain yang kubuat-buat waktu konsultasi ke bu Fah (dosen pembimbing skripsiku yang suuuuuper ridgit), kalau rumah tangganya saja nanam padi selama setahun penuh, pasti akan banyak berimbas pada konsumsi rumah tangga yang didominasi mutlak oleh bahan pangan padi-padian kan. Ini alasanku yang syukur benar bisa diterima kanjeng mami (kupanggil demikian bu Fah), padahal menurutku masih klise hehe.
Selanjutnya konsumsi pangan suatu rumah tangga dipengaruhi dan dibentuk juga oleh faktor-faktor sosial ekonomi atau karakteristik internal masing-masing rumah tangga. Faktor sosial meliputi Pendidikan kepala keluarga dan ibu rumah tangga, umur kepala keluarga dan ibu rumah tangga, jumlah anggota rumah tangga dan pengetahuan ibu tentang gizi. Sedangkan faktor ekonomi terdiri dari pendapatan perkapita rumah tangga dan pemanfaatan lahan pekarangan. faktor sosial-ekonomi yang didapatkan dari penggalian data primer ini nantinya digunakan sebagai variabel dalam model regresi linear berganda.

Ada 2 (dua) tujuan yang hendak dicari jawabannya dalam penelitian ini, yakni untuk menganalisis tingkat diversifikasi konsumsi pangan dan menganalisis faktor-faktor sosial ekonomi yang berpengaruh (secara signifikan) terhadap diversifikasi konsumsi pangan rumah tangga petani padi. Untuk menjawab tujuan pertama digunakan perhitungan Angka Kecukupan Energi (AKE) terlebih dalu, baru kemudian dihitung kecukupan konsumsi pangan rata-rata perkapita perhari pada tiap rumah tangga responden dengan ketetapan Pola Pangan Harapan (PPH). Pada tahap perhitungan ini sebenarnya sederhana saja, namun banyaknya responden dan angka-angka yang harus dikaji buat kepala puyeng. Ada 42 responden dalam penelitian ini, jumlah tersebut didapatkan dari formula rumus Slovin. Mendapatkan AKE diperoleh dengan wawancara intensif terhadap ibu rumah tangga mengenai apa-apa dan berapa saja berat (dalam gram) bahan pangan yang dikonsumsi rumah tangga melalui metode food recall 1x24 jam. Jenis pangan dan berat pangan yang didapat kemudian ditransformasikan kedalam kkal/kap/hr agar lebih seragam dan mudah dianalisis. Dari anga tersebut kemudian dilakukan penghitungan lagi guna mendapatkan nilai PPH tiap rumah tangga. AKE dan PPH sudah memiliki ketetapan perhitungan baku, jadi hasil angka analisis yang didapati sudah pasti akurat dan kredibel, tak mungkin meleset.
Tujuan kedua dijawab dengan menggunakan analisis regresi linear berganda. Alat analisis software SPSS 16.0 kugunakan sebagai senjataku. Faktor sosial-ekonomi juga didapati dari wawancara intensif. Hasil yang didapat kemudian di input kedalam model, dan *jengjeng* hasil analisis akan muncul di layar leptop. Proses ini terlihat mudah, tapi pada tahap ini sungguh dulu aku merasa mau “patah”. Tak terjitung berapa ratus kali mencoba input data agar hasil analisis yang keluar setidak-tidaknya mendekati ketetapan teori yang berlaku, setidak-tidaknya mendekati. Permainan angka tak lagi berkutat, pada satuan, melainkan sekian 0 dibelakang koma. 0,00xx.., 0,0210xx…, dll. Waktu itu mau pataaaahhhhhhhh, KZL KZL KZZZLLLLL… huahahaha!

Berdasarkan hasil penelitian konsumsi pangan didapatkan rata-rata konsumsi pangan berada pada angka 2001,67 Kkal/kap/hari atau 93,1% dari standar ketetapan AKE yakni 2150 Kkal/kap/hari. Jumlah angka yang diperoleh menandakan bahwa jumlah berat maupun konsumsi pangan energi pada rumah tangga petani padi masih kurang baik walaupun sudah mendekat ketetapan AKE. Namun berdasarkan indikator cut of  points dimana hasil proporsi konsumsi dari AKE sebesar 70-100% atau diatas 1505 kkal/kap/hari menunjukkan kondisi tahan pangan dan sekurangnya menunjukkan kondisi sebaliknya. Dari 42 responden rumah tangga petani padi ditetapkan keseluruhannya tahan pangan. Kemudian dari perhitungan PPH didapatkan rata-rata skor yakni 71,71. Hasil ini masih jauh dari skor PPH normatif yang ditetapkan yakni 100. Bila skor PPH terpenuhi atau berkualitas sama sama dengan proyeksi skor Pola Pangan Harapan yang hendak dicapai pada tahun 2014 yakni sejumlah 93,3 maka masuk karakteristik rumah tangga PPH terpenuhi. Sayangnya dari 42 responden tak ada satupun rumah tangga yang bahkan skornya mencapai skor yang ditetapkan pemerintah untuk dicapai. Maka dinyatakan tak ada satupun rumah tangga petani padi di lokasi penelitian yang masuk kategori PPH terpenuhi.
Angka Kecukupan Energi (AKE) mewakili kuantitas pangan, sedangkan Pola Pangan Harapan (PPH) menggambarkan kualitas pangan yang dikonsumsi. Kesimpulannya adalah dari segi kuantitas tak perlu diragukan bahwa rumah tangga petani padi di lokasi penelitian mampu memenuhinya dengan baik. Hal sebaliknya terjadi ketika dihadapkan dari sisi kualitas konsumsi pangan. Tujuan analisis pertama terjawab, menginjak ke tujuan kedua yang bahasa gampangnya adalah para rumah tangga petani padi ini mengkonsumsi makanan dipengaruhi oleh faktor apa saja.
Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan ada 4 faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan rumah tangga dalam memilih pangan yang lebih beragam, yakni pendidikan ibu rumah tangga, pengetahuan ibu tentang gizi, pendapatan perkapita rumah tangga dan pemanfaatan lahan pekarangan. Tak perlu kujelaskan lebih mendetail bagaimana bisa kudapatkan hasil demikian karena kepalamu bisa pecah kalau mau nyerna penelitian ini (*sombooonggg*), akan kujelaskan singkat saja. Jadi semakin tinggi pendidikan ibu rumah tangga maka akan semakin baik pula preferensi pemilihan pangan yang lebih beragam bagi keluarga. Pengetahuan ibu tentang gizi akan sangat berpengaruh pada pemilihan jenis pangan, makin banyak tahu makin baik pula pangan yang dipilih. Pendapatan perkapita rumah tangga yang tinggi akan memberikan dampak bagi alokasi lebih pembelanjaan pangan sehingga kondisi pangan keluarga dapat lebih dikondisikan dan berkualitas. Kemudian pemanfaatan lahan pekarangan dinilai menggunakan variabel dummy, dan rumah tangga yang memanfaatkan lahan pekarangannya untuk pertanaman akan lebih baik pula kondisi pangan keluarga petani padi.

Skripsi ini kuselesaikan dalam waktu 7 bulan, terhitung mulai dari pembuatan (revisi proposal lama) proposal pada oktober 2014. Nopember 2014 seminar proposal, Desember penelitian, Januari-februari 2015 olah data dan analisis input serta pengerjaan hasil dan pembahasan, maret seminar hasil dan april ujian siding komprehensif. Sebenarnya proposal sudah selesai dibuat pada april 2014, namun kala itu masih terjebak dengan “Zona berbahaya”, bawaannya pingin urusi organisasi dan pingin mbolang. Padahal sudah semester 8, dan aku belum juga ke dosen pembimbing untuk konsultasi proposal. Sudah pula kubilang bapak bahwasannya diri belum siap lulus disemester 8. Ketika ditanya kenapa, alasannya karena masih banyak hal yang belum dikerjakan. Untung babe memaklumi, dan kujanjikan wisuda disemester 9. Ternyata tembus sampai semester 10, wkwkwk kampret bener.
Skripsi ini dibawah bimbingan prof. Nuhfil dan bu Fahriyah. Prof. Nuhfil pada waktu itu mencalonkan diri jadi rektor UB namun gagal, kemudian jadi Dekan Fakultas Pertanian UB. Sedangkan bu Fah adalah dosen Prodi Agribisnis yang terkenal ridgit dan teliti, kualitas dosen lulusan terbaik kampus IPB. Bangga sekali diri ini digembleng 2 orang “legend” milik Faklutas Pertanian. Walaupun lulus dengan bersusah-susah payah, namun banyak juga manfaat yang dituai. Juga lulus tercepat diantara para Rebels (rekan-rekan sepertongkrongan), huahaha…

 Ada cerita unik yang ingin juga kubagikan. Ujian sidang skripsiku mungkin adalah yang tercepat dalam sejarah Fakultas Pertanian, hanya sekitar 50 menit dari jatah waktu “pembantaian” yang diberikan yakni 2 jam. Entah karena keberuntungan atau memang karena pancene-aku-sangar-tenan, tapi setiap pertanyaan yang terlontar waktu itu terjawab dengan baik. Sidang berjalan cepat, lugas, dan sesekali lucu, kemudian berakhir. Kebetulan memang Prof. Nuhfil adalah juga expert dibidang ketahanan pangan. Di akhir sesi sidang skripsi, Prof. Nuhfil meminta kesediaanku untuk berbagi data skripsi, mau disadur dalam jurnal tulisannya, katanya seperti itu. bayangkan saja namaku nanti akan muncul di jurnal internasional milik beliau, Putra (2015). Sayange kok jenengku akhire Putra, nek Abintara (2015) kan ketok keren yo to hahaha…
Sekian saja, selamat tinggal skripshot, skrip yang sudah di shot!
Saatnya gunakan gelar kesarjanaan guna menapak ke level yang lebih tinggi, mari bersaing…

Minggu, 05 Juli 2015

Kartu Joker



Tulisan ini kupersembahkan untuk seorang teman baik, yang dari perbincangan dan pengamatanku selama ini bersamanya menginspirasi menetasnya tulisan kecil ini.Ya, memang aku hendak mengkisahkan teman baikku, yang namanya harus tetap menjadi rahasia.
Aku mengenalnya sejak lama, kami bersahabat dengan baik. Dia sekilas terlihat seperti pribadi biasanya, tak ada yang menonjol. Dari segi fisik posturnya lumayan tinggi, badannya tegap berisi, tak gendut dan tak kurus. Wajahnya biasa saja, dengan hidung mancung dan gigi yang sedikit tak rapi, namun terlihat bersahabat dan serasi. Rambutnya hitam lurus, nampak kadang tak beraturan dan terlihat alami. Tidak bisa dikatakan ganteng namun sedap dipandang. Dia selalu menjaga penampilan, namun tak pernah habis-habisan untuk tampil oke. Disaat yang lainnya mempermak habis penampilan dengan banyak uang agar tampil lebih parlente, dia lebih suka tampil jujur, menjaga kerapian penampilan sekedarnya. Secara keseluruhan temanku ini memang terlihat menarik dan good looking.
Sesuatu yang tergolong lain dari pribadi biasanya baru bisa dilihat saat ditelusuri pedalamannya. Aku berani bilang, dia seorang yang lain dari lainnya, extraordinary dan mungkin menurutku hanya sedikit yang bisa menyamai. Yang akan aku ceritakan adalah, dia tampak berbakat dalam semua bidang, tampaknya memang seperti itu. Lama aku mengenal dia, hampir tak pernah kujumpai satupun kelemahan. Di bidang pelajaran dia tergolong maju, nilai-nilai dari setiap jenjang pendidikan acapkali diatas rata-rata teman sepertongkrongannya. Waktu main dia gunakan untuk main, belajar untuk belajar, begitu seterusnya. Memang tak pernah dapat nilai terdepan, namun dengan kebiasaanya yang slengek’an cukup membuat kami beserta teman-teman terheran-heran.
Temanku ini, dia orang yang memperhatikan kesehatan fisik. Terlihat dari badannya yang selalu nampak bugar. Setauku dia jarang sekali sakit. Olahraga masuk dalam salah satu hobinya. Dia tak punya preferensi olahraga spesifik yang disenangi, dan sepengetahuanku hampir semua olahraga bisa dikuasai dengan baik kalau tak bagus. Futsal, bulu tangkis, voli, renang, penyuka jogging, dan semua yang berhubungan dengan olahraga umumnya, bahkan billiarpun. Kredit khusus diberikan pada cabang futsal, pernah aku main ke tempatnya dan menjumpai ada satu piala disana. Juara 3 futsal dekan cup se-fakultas, dan tropi itu ada dikamar sebagai penghormatan teman-teman setim pada dirinya sebagai pencetak angka terbanyak dalam kompetisi. Cukup mengagumkan.
Temanku ini termasuk orang yang ramah dan punya banyak sekali teman. Sering sekali saat kita nongkrong ada yang memanggil namanya, bersalaman walau kemudian hanya untuk bercipiki sejenak. Memang pribadinya supel dan asyik diajak bicara, ramah dan gemar jadi pemecah suasana dengan guyonan renyah. Guyonan yang dilontarkan pun seringkali cerdas dan segar, ngobrol dengannya seakan tak kehabisan topik untuk diperbincangkan. Luasnya bahan obrol yang dimilikinya tak lepas dari pengetahuannya yang juga setahuku luas. Dari sini kemudian aku berasumsi, orang semakin luas pergaulannya semakin pula luas pengetahuannya. Mungkin bisa dibenarkan. Luasnya pertemanan yang dimiliki juga dibuktikan dengan berbagai kegiatan ekstra yang diikuti. Banyak kegiatan organisasi dan kepanitiaan yang pernah digeluti, pernah juga dia jadi ‘tukang damprat’ pada kepanitiaan penerimaan mahasiswa baru fakultas. Posisi sebagai tukang damprat ini kunilai sedikit berkelas karena memang diseleksi khusus. Yang jelas, temanku ini punya banyak sekali teman, social skill yang tergolong mumpuni dan keren.
Ada hobi lain yang dimilkinya, tergolong unik dan antimainstream menurut pandanganku secara pribadi. Dia adalah seorang bocah yang gemar membaca, terjejer rapi cukup banyak buku bacaan di rak buku dalam kamarnya. Bagi orang “se-umum” dia, yang memang benar-benar terlihat biasa-biasa saja, fakta ini kurasai sangat mengejutkan. Bacaannya pun sedikit berat, bukan novel-novel metro-pop tentang cinta-cintaan. Dia suka membaca genre sejarah, filsafat, sosial-politik, sastra dan roman klasik. Selain membaca temanku ini juga suka menulis, walaupun setelah kuperiksa banyak tulisannya yang berbobot ringan-ringan. Tapi hebatnya, dia pernah memenangkan sebuah kompetisi menulis, aku tak tahu detilnya, dia juara 2. Membaca dan menulis, apalagi? Puisi dan sastra, temanku adalah penikmat nomor satu keduanya. Sering kulihat dia cobai buat puisi, namun lucu dan terlalu kotak. Pernah aku tertawa kencang dibuatnya. Bagaimana dengan seni? Ahh sering kulihat dia mengambil gitar, dipetiknya sambil nyanyi-nyanyi. Petikannya lumayan, suaranya lumayan, dan lagu yang dibawakan pun tergolong “tak umum”, keren. Seni musik pun dia bisa, aku tak bisa, banyak temanku tak bisa meski banyak pula temanku yang bisa (sekedarnya).
Diatas sudah kujelaskan sedikit bagaimana temanku ini punyai banyak teman. Teman baikku ini kuamati dia punyai kemampuan komunikasi yang baik. Perbendaharaan katanya lumayan luas, mungkin didapatkan dari banyaknya buku yang telah dia bacai. Kemampuan berbahasa asingnya juga bagus, terutama bahasa inggris. Pernah dalam sebuah tes kami dibuat ternganga oleh kemampuannya, hasil tesnya mencapai angka tinggi. Padahal setauku dia tak pernah ikut kursus Bahasa inggris, apalagi yang berbiaya mahal. Sudah kubilang, temanku ini orang yang slengek’an, dan aku mempadahalkan ke-slengek’an-nya ini. Sejak saat itu aku tak pernah lagi meremehkan kemampuan berbahasanya. bahasa induk, bahasa jawa ngoko dan krama inggil (dia asli jawa) dikuasainya dengan baik.
Tak cukup hanya dengan itu, dia mulai mengembangkan keingintahuannya akan berbagai hal. Seakan melihat ladang yang subur disana-sini, dia bersiap menyebar benih sebanyak-banyaknya. Aneh-aneh pula yang ingin digarapnya. Dan kemauannya yang kuat untuk berkembang bermuara pada satu hobi baru, mendaki gunung. Kukira ini hobi yang tak umum dan tergolong sedikit ekstrim pada waktu itu (karena sekarang sudah menjamur akibat film 5km). Dalam pendakian gunung, sejauh ini kutahu sudah banyak gunung yang pernah didaki. Disaat teman sepertongkrongan hanya sekedar ala kadarnya main ke pantai, ke mall, ke tempat-tempat yang ada wahana permainannya, dia malah memilih main yang jauh-jauh, rekreasi ke tempat-tempat bahaya dan extraordinary, hebat benar kurasai (dan akhirnya diri ikut-ikutan tertular). Lama aku berteman dengannya, tak hanya gunung saja yang ingin dia kunjungi, masih banyak tempat-tempat lain yang ingin dia jamahi. Bahkan dalam perkara menikmati hidup pun, makin jauh aku terasa ketinggalan olehnya…
Setelah jauh-jauh aku rasai ketinggalan, ternyata tak cukup sampai disitu kekalahanku. Satu pengakuan yang membuat kami terkaget-kaget, ternyata dia adalah seorang pendekar silat. Dia berangkat dari desa dibekali dengan keahlian bela diri yang tentu tak semua dari kami teman sepertongkrongan punya (aku bisa). Bela dirinya pun tak tanggung-tanggung, perguruan silat dengan nama mentereng yang terkenal hebat-hebat dan tangkas lulusannya. Aku kenal sedikit dengan perguruan silat itu, porsi latihan yang diberikan sangat keras dan intensif, latihan berangkat malam pulang pagi seminggu dua kali. Baru ditasbih menjadi pendekar setelah lulus dan mampu menyerap semua ilmu dan ketangkasan khas pendekar silat dalam pendadaran selama 2 tahun yang melelahkan. Diri merasa ciut, makin ciut lagi saat dia ceritakan kelulusan pendadarannya yang tanpa pernah bolos latihan selama 2 tahun, tanpa pernah KO (pingsan) saat dihajar pelatih, tanpa pernah muntah pula. Sekarang predikatnya adalah pendekar tingkat I sekaligus pelatih silat di perguruannya. Dia sampaikan padaku hendak lanjut ke tingkat II, namun belum ada waktu. Pernah juga dia jadi atlit silat, terpilih seleksi ranting untuk hendak maju di kejuaraan Kejurda Kabupaten kota B, namun karena sebuah insiden yang menyebabkan tulang tangan kanannya dislokasi, akhirnya sampai saat ini kutahu dia sudah tak berminat terjun lagi menjadi atlit silat. Namun kurasai ketangkasannya tetap saja ada, mungkin berkembang malahan. Hebat!
Kemampuannya yang serbabisa ini memang unik, namun serbabisa yang melebihi kemampuan orang pada umumnya ini benar-benar tak lucu, mendekati jenius! Mungkin kelebihan itu tak lepas dari dia yang selalu keras terhadap dirinya. Disaat yang lain sudah bersantai-santai, dia masih umek sendiri dengan pengembangan diri. Jenius dalam berkerja keras yang patut kucontoh…

Namun kulihat, ternyata dia bukan tanpa kelemahan. Dan dia sadar benar akan kekurangannya ini. Pernah dia bilang ke aku, untuk memiliki spesialisasi skill khusus sebagai bekal menghadapi masa depan. Karena dirasai saat ini semua kemampuan yang dimilikinya akan selalu kalah oleh orang yang secara khusus mengasah kemampuannya dalam satu bidang. Ketika ditanya seperti itu, limbung juga aku. Selama ini diri merasa dengki dengan kemampuan yang dimilikinya, ternyata secepat itu juga dia sadari kekurangannya sendiri. Dan sebagai seorang teman yang baik, sudah jadi kewajibanku carikan berbagai pemecahan atas kegamangan hatinya.
Malam ketika aku dan teman-teman bermain kartu poker, kusadari ada dua sosok kartu yang menyerupai temanku. Sosok pertama adalah kartu joker sebagai temanku yang sekarang, dan kedua kartu as, apa yang ingin dijadikan senjata oleh dirinya. Jadi begini kujelaskan, joker adalah dua kartu hitam dan merah yang mampu memenangkan angka berdasarkan warnanya. Kelebihannya kartu Joker yakni punyai fleksibilitas yang tinggi, tak tergantung pada bentuk kartu (love merah, love hitam, keriting, jajar genjang simetris) untuk menutup kartu, juga nilai yang dimiliki sangat tinggi. Namun ada satu kekurangan yang tak bisa dielakkan, sebagaimana seampuh-ampuhnya kartu juga punyai kelemahan. Joker akan selalu kalah dari kartu as. Demikian juga kartu as yang nilainya tertinggi, namun memiliki fleksibilitas rendah, tak seperti karto joker.

Kubilang padanya, terserah kau ingin jadi kartu joker atau kartu as, itu pilihan. Tapi sebelum kupaksa dia untuk memilih, kuberi dia sedikit asumsi lagi. Anggap saja ada 5 skill yang harus dimiliki sebagai pemuda, yakni: pelajaran, olahraga, seni, pergaulan, rekreasi. Setiap kemampuan yang dimiliki diberikan kredit poin 1-10 dari tigkatan terkecil sampai terendah. Berikut asumsi ngawurnya:
Kartu Joker
Pelajaran         : 9
Olahraga         : 9
Seni                 : 9
Pergaulan        : 9
Rekreasi          : 9 Jumlah= 45

Kartu As
Pelajaran         : 10
Olahraga         : 7
Seni                 : 7
Pergaulan        : 7
Rekreasi          : 7 Jumlah= 38

Asumsi ngawur diatas mencoba berbicara begini: seorang kartu joker memiliki skill kemampuan yang lengkap, namun kalah dalam satu hal dari kartu as (di kehidupan nyata bisa satu-dua hal), contoh saja pelajaran. Namun di bidang lainnya, kartu joker unggul dari As. Kartu Joker menggambarkan keseimbangan, sedangkan As lebih kepada ketajaman dalam hal khusus. Namun dari segi jumlah keseluruhan, akhirnya Joker pula yang menang dari As. Jumlah keseluruhan ku ibaratkan sebagai kualitas diri sebagai pribadi secara keseluruhan, tidak secara parsial dilihat dari segi bidang tertentu. Dan Joker tentunya akan selalu jauh lebih baik disbanding kartu lain macam King, Queen, dan Jack.

Aku mengambil contoh dari kartun Eyeshield 21 (kami sama-sama suka nonton kartun ini), disana ada seorang tokoh yang bernama Kongo Agon. Agon adalah seorang atlit American football yang lengkap. Sebagai runningback larinya cepat, sebagai center dia kuat, dan sebagai quarterback dia cerdas dan mampu mengambil keputusan cepat dengan tepat. Seolah Agon adalah seorang atlit yang komplit dan mumpuni kemampuannya, memang dalam Eyeshield dikisahkan dia seorang yang jenius congkak, menakutkan karena memiliki skill yang hebat diatas atlit lainnya. Namun si Agon ini, dia akan selalu kalah dari Sena Kobayakawa yang larinya nomor satu, dari Shin Seijurou yang kekuatan spear tackle-nya belum terkalahkan, juga dari Hiruma Youichi yang selalu mampu menemukan cara memenangkan pertandinga lewat akalnya yang bulus. Dan seperti itulah seorang Joker, hebat seperti Kongo Agon namun tak pernah luar biasa dalam satu bidang seperti rivalnya. Namun ada cerita unik dikisahkan dalam Eyeshield21, Agon jadi penentu kemenangan timnas American football Jepang melawan musuhnya lewat fleksibilitas dan komplitnya kemampuan Agon saat Hiruma, Sena dan Shin dimatikan pergerakannya. Hiruma ternyata juga mengasumsikan Agon sebagai kartu Joker, “Jack for all trades, trump for nothing…”


Makin lama aku kenal dia, makin dia maju dalam semua bidang. Aku berani bilang bahwa kemampuan belajarnya sangat mengerikan. Dulu awal kenal aku tahu dia tertinggal banyak dari teman-teman baru dalam lingkungan baru, dan sekarang secara tiba-tiba kami sudah melihat tembok besar dihadapan kami dengan bayang-bayangnya yang sedikit angkuh. Fleksibilitas adaptasi dan keinginan tak ingin kalah membuatnya selalu bisa bangkit mengejar dan terbendung sampai saat ini. Kuakui akhirnya kami sekarang sejajar, atau bahkan bisa dibilang sedikit tertinggal dari laju larinya. Dan untungnya dia tak merasa seperti telah berhasil mengejar ketinggalan, meninggalkan kami malah. Bukan, temanku ini malah menjadi liar akan ambisi pribadi, dia makin ingin mengencangkan larinya untuk segera mengejar lain-lain yang lebih besar lagi, seolah tak punya lelah. Keadaan pertongkrongan yang dulu adem-ayem sekarang berubah, suasana kompetisi menyerbak dimana-mana gegara temanku ini. Dan kami senang, karena akhirnya dengan kondisi yang begini, menjadikan persahabatan kami tak hanya membuat nyaman tapi juga menjadi saling memaksa berkembang. Kami sudah sedia ancang-ancang agar makin tak ketinggalan jauh darinya.
Sepertinya aku harus berdamai dengan diriku sendiri dan sepakat untuk berkata bahwa temanku ini memiliki keunikan tersendiri dalam menjalani hidup ditengah segala-gala yang serba biasa, disaat yang lainnya hanya menjalani hidup dengan sekedarnya, semaunya.
Sekarang terserah kau, teman baikku, pilih jadi Joker atau As. Yang jelas, jangan lupa nikmati hidupmu sedalamnya. Dan kau tau, I had a vision, kau akan menjadi orang besar di masa mendatang. Jadilah semua cita-citamu, jadilah semua apa yang ingin kau genggam, jadilah…