Tak pernah terbersit
sekelebatanpun sebelumnya keinginan untuk dapat mengunjungi Masjidil Haram dan
shalat di depan Ka’bah dalam waktu dekat, kecuali mungkin besok saat sudah tua
dan berumur. Karena dulu kupikir Tuhan ada dimana-mana, dapat ditemui kapan
saja. Rumah Allah ada di masjid manapun yang bisa dijumpai di setiap sudut kota
dan daerah. Tak ada yang salah dengan anggapan itu, Allah memang maha besar. Menurut
Agus Mustofa dalam buku beliau berjudul “Pusaran Energi Ka’bah”, kemaha besaran
Allah meliputi segala bidang dan waktu, dari atom terkecil hingga jika dilihat
dari ilmu perbintangan Bima Sakti hanyalah satu dari miliaran galaksi yang
eksis di tata surya, dari masa lampau jauh sebelum Big Bang hingga saat ini sampai miliaran tahun ke depan, Dia tidak
hanya bertahta di dalam Arasy tetapi Allah meliputi segala yang ada di alam ini,
wallahu a’lam. Jadi kupikir waktu itu, tak ada urgensi mendesak untuk segera
berkunjung ke Ka’bah, sekedar memikirkannya pun sama sekali tidak, yang penting
shalat 5 waktu terjaga, kewajiban lain ditaati, berbuat baik ke sesama, seputar
itu-itu saja cukup. Mau ke Allah tinggal membatin, “ya Allah lagi kesusahan
ini, ya Allah lagi pingin ini-itu, ya Allah butuh bantuan…”, ngapain jauh-jauh
ke Ka’bah yang justru malah menimbulkan sebut saja pamer, riya, flexing sudah pernah Umroh, keliatan
religius dll, atau ngapain umroh mending uangnya dipakai kebutuhan lain yang
lebih pokok. Namun Allah dengan kemaha perkasaan-Nya dan seluruh hak prerogatif
yang melekat dalam sifatNya menghendaki siapapun yang hendak Dia undang untuk
berkunjung ke Baitullah untuk beribadah, termasuk hambaNya yang lancang dan berkelimpahan
dosa ini.
.jpeg)
Kamis, 19 September 2024 pamit
berangkat diantar keluarga, dari Bandara Internasional Juanda langsung menuju
King Abdulaziz International Airport di Jeddah, Arab Saudi dengan penerbangan
kurang lebih 10 jam bersama Lion Air. Lumayan melelahkan, untungnya sudah
download film buat membunuh kebosanan. Sampai di Jeddah sebelum subuh sekira
pkl 02 WAS langsung melanjutkan perjalanan menuju Madinah dengan waktu tempuh
kira-kira 7 jam melampaui 408 km menggunakan bus. Kesan pertama sesampainya di
Saudi Arabia adalah, negerinya tertata dengan baik, fasilitas umumnya bagus,
jalanan yang mulus, bahkan bus yang ditumpangi jamaah umroh kami terawat dengan
baik, suspensinya mentul-mentul, jauh
jika dibandingkan dengan bus-bus antar kota antar provinsi di Indonesia. Makin
lama perjalanan dilalui, dan hari mulai terang sehingga makin terlihat dengan
jelas lanskap alami Saudi Arabia, gurun berbatu dan padang pasir gersang sejauh
mata memandang ke segala sudut horizon. Yang terlintas pertama di benak adalah,
Nabi Muhammad dan seluruh sahabatnya hidup, berdakwah, berperang, beribadah dan
tinggal di tempat seperti ini sejak zaman dulu? Betapa sengsaranya namun
alangkah tangguhnya mereka. Ya Allah, salam sejahtera bagi beliau dan muliakan
Muhammad SAW beserta para sahabatnya.
Madinah, seperti yang kita
ketahui, adalah kota tempat Rasulullah hijrah dari Mekkah pada 622 M karena
perlakuan buruk masyarakat Mekkah yang tak mau mengimani Islam. Di Madinah,
dakwah Islam berpusat dan berkembang pesat hingga sekarang, di Madinah pula
Rasulullah wafat, sehingga kota ini merupakan satu dari dua kota yang harus
diziarahi sebab pernah tinggal manusia mulia disana yang berkat dakwahnya dapat
menjadi pedoman dan cahaya bagi keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Madinah
Al-Munawwarah secara harfiah berarti kota yang bercahaya, dinamai Rasulullah
setelah hijrah, dari sebelumnya bernama Yatsrib. Di kota ini juga banyak
tempat-tempat bersejarah yang menjadi saksi heroiknya perjuangan Rasulullah dan
para sahabat menegakkan panji Islam. Kami berkesempatan melaksanakan shalat
Jumat di masjid Nabawi, satu dari tiga masjid agung selain Masjidil Haram
(Mekkah) dan Al-Aqsa (Palestina) yang menjadi impian setiap Muslim di seluruh
dunia untuk dapat dirikan shalat di dalamnya. Pertama kali menginjakkan kaki di
Masjid Nabawi langsung terenyuh dengan keagungan masjid pusat Rasulullah
berdakwah. Arsiterkturnya khas timur tengah, di area luar terdapat payung
ikonik masjid Nabawi yang dapat mengembang dan menutup otomatis, luassssss
sekali kompleks masjidnya apalagi kalau sudah masuk didalamnya, tiang-tiang
besar dengan kubah hitam putih khas masjid nabawi sejauh mata memandang.
Didalam masjid terdapat Raudhah, makam Rasulullah, Allahumma shali alaa sayyidina Muhammad, bersama dengan makam Abu
Bakar dan Umar, dua sahabat yang selalu tegak lurus mendukung perjuangan nabi
dalam suka maupun duka. Dahulu, Raudhah adalah rumah tinggal nabi, dan sekarang
terletak dekat dengan mimbar masjid.

.jpeg)


Diriwayatkan dari Jabir
Radhiyallahu Anhu, Rasulullah SAW bersabda: “Shalat di masjidku (Masjid
Nabawi) lebih baik dari 1000 (seribu) kali shalat di masjid lainnya kecuali di
Masjidil Haram, Makkah, dan sholat di Masjidil Haram lebih baik dari 100.000
(seratus ribu) shalat di masjid lainnya.” (HR Ibnu Majjah, dishahihkan oleh Al-Bani).
Tentunya banyak sekali pula
tempat-tempat bersejarah di Madinah. Diantaranya masjid Quba, masjid pertama
yang dibangun oleh Rasulullah SAW. Keutamaan dari masjid Quba seperti yang
diriwayatkan oleh sahabat Ibnu Majjah dalam sebuah hadist Rasulullah, “shalat
dua rakaat di dalam masjid Quba pahalanya senilai ibadah umrah”. Kemudian ada
pula Jabbal Uhud, tempat terjadinya salah satu peperangan paling ikonik dan
bersejarah bagi umat Islam yang terjadi pada 625M atau 3 tahun setelah
hijrahnya Rasulullah. Salah satu tempat yang ingin sekali kukunjungi, ini pula
yang membuat rangkaian ibadah umrah bersemangat. Aku menyenangi sejarah, dan
bisa mengunjungi Jabbal Uhud rasanya seperti ditarik ke masa Rasulullah
berperang melawan kafir Quraisy dimana saat itu beliau kehilangan paman yang
disayanginya, Hamzah ra yang ditombak oleh budak bernama Wahsyi, kemudian
jenazahnya diperlakukan dengan biadab oleh Hindun binti Utbah isteri Abu
Sufyan, yakni dengan merobek dada syuhada Hamzah dan mengunyah jantungnya.
Rasulullah, manusia paling penyabar dan mulia akhlaknya di seluruh alam sampai
kehilangan kontrol atas kesabaran sebab kedukaan yang begitu mendalam atas
kepergian sang paman yang melindunginya sebagai garda paling depan menegakkan
dakwah Islam, hingga Rasulullah bersumpah akan memenangkan peperangan
selanjutnya dan melakukan kejahatan terhadap musuh yang tak pernah dilakukan
oleh bangsa arab sebelumnya, kemudian turun firman Allah yakni surah an-Nahl
ayat 126-127, “Dan jika kamu membalas,
maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang ditimpakan
kepadamu. Namun, jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi
orang yang sabar. Dan bersabarlah (Muhammad) dan kesabaranmu itu semata-mata
dengan pertolongan Allah dan janganlah engkau bersedih hati terhadap
(kekafiran) mereka dan jangan (pula) bersempit dada terhadap tipu daya yang
mereka rencanakan.”
.jpeg) |
Masjid Bukhari |
 |
Masjid Quba |
.jpeg) |
Masjid Abu Bakr |
.jpeg)
.jpeg) |
Disclaimer 1: Abi Dujanah Al-Ansari Street. Abu Dujanah adalah salah satu sahabat Nabi yang pemberani. Saat perang Uhud, Rasulullah bersabda “siapa yang mau mengambil pedangku dan memberikan haknya?” sahabat Ali maju, namun Rasulullah masih bertanya pertanyaan yang sama. Umar maju, Rasulullah masih bertanya pertanyaan yang sama. Lalu Abu Dujanah bertanya “wahai Rasulullah, apa kiranya hak dari pedang itu?” Rasul menjawab, “adalah hendaknya kau babatkan pedang ini ke muka para musuh Allah dan memenangkan pertarungan atas nama Allah”. Abu Dujanah maju menerima pedang itu, mengikatkan surban merahnya di kepala yang mana para sahabat tahu bahwa jika Abu Dujanah telah mengeluarkan sorban merah dan diikatkan pada kepalanya, tandanya dia sudah siap bertempur hingga mati. Abu Dujanah sembari memamerkan pedang yang baru diterimanya dari Rasulullah, berjalan berlagak dengan sok jagoan didepan pasukan muslim yang telah berhadap-hadapan dengan pasukan Quraisy, kemudian Rasulullah bersabda “sungguh jalannya orang yang seperti ini sangat dibenci Allah, kecuali pada saat-saat seperti ini (perang, dengan maksud membuat nyali musuh ciut)”. Namun demikian sahabat Abu Dujanah juga merupakan orang yang zuhud, cinta akhirat dan tidak terlalu mencintai dunia. Pernah suatu ketika, nabi mengamati Abu Dujanah yang selalu tergesa-gesa pulang pada beberapa waktu terakhir usai shalat berjamaah subuh di masjid Nabawi. Karena penasaran, Nabi mengikuti Abu Dujanah hingga sampai ke rumahnya. Tak lama, Nabi mengamati Abu Dujanah sedang menyapu pekarangan rumah yang dipenuhi buah kurma berjatuhan. Ternyata buah kurma tersebut adalah milik tetangga Yahudi yang buahnya menggantung melewati pagar rumah Abu Dujanah dan sering gugur masak jatuh ke pekarangan rumahnya. Nabi yang penasaran terhadap apa yang dilakukan Abu Dujanah pun akhirnya bertanya kenapa. Abu Dujanah menjawab “wahai Rasulullah, seperti yang telah engkau lihat, buah kurma yang berjatuhan ini adalah milik tetanggaku, dan pernah kujumpai anakku memakan buah yang bukan hak kami ini sehingga aku harus memasukkan jari ke tenggorokannya. Kami memang miskin dan tak setiap hari bisa makan, akan tetapi siksa api neraka akibat memakan makanan yang tak halal dan bukan hak adalah lebih kami takuti daripada hanya sekedar kelaparan”. Rasulullah yang takjub akan keteguhan Abu Dujanah untuk menjaga keluarganya dari siksa neraka tersebut, kemudian memutuskan untuk membeli pohon tersebut untuk Abu Dujanah dan keluarganya. Abu Dujanah gugur dalam perang Yamamah setelah berhasil membunuh Musailamah si nabi palsu. Semoga kesejahteraan selalu terlimpah curahkan untuk para sahabat Nabi. |
Banyak sekali tempat-tempat
bersejarah dan seru di Madinah untuk dijelahi, seperti Masjid Abu Bakr, Masjid
Utsman, Masjid Bukhari tempat Imam Bukhari (pemimpin para ahli Hadist) merawi
hadist, hingga pasar krempyeng serba 5 riyal untuk berbelanja oleh-oleh. Senin,
23 September 2024 rombongan jamaah harus berpisah dan bertolak ke Makkah
Al-Mukarramah. Sepanjang perjalanan panjang dengan bebatuan besar sejauh mata
memandang, kembali pikiran dibawa ke masa lampau kepada perjalanan hijrah
Rasulullah ditemani Abu Bakr. Rombongan jamaah sepakat tidak naik kereta api
cepat Haramain Express Madinah-Makkah dengan alasan cukup mengharukan, ingin
berlama-lama mentadaburi perjalanan hijrah tersebut. Setelah mengambil miqat di
masjid Aisyah yang terletak sedikit diluar batas tanah Haram, akhirnya sampai
kami di Makkah, tanah impian setiap muslim di dunia. Setelah mampir sejenak ke
hotel, kami lanjut bergegas menuju Masjidil Haram dan melaksanakan umroh, Labbaik
Allahumma labbaik…
Ibadah umroh berlangsung
khidmat. First sight on Ka’bah just like
love at the first sight, terharu, terkesima, merinding, mbliyut-mbliyut badan rasanya, takjub
oleh kebesaran Allah. Doa-doa yang telah lama dipersiapkan mulai doa minta A
sampai minta Z, semuanya luruh diganti “Ya Allah, mohon ampunannnnn…” Setelah
Thawaf, lanjut lari kecil Sa’i antara Safa dan Marwah, kemudian bertahalul
dengan mencukur beberapa helai rambut. Nikmat tiada tara bisa melihat dan
shalat langsung di depan Ka’bah, tempat dimana lima waktu setiap muslim
menghadapkan shalatnya ke arah kiblat. Atas kebesaranMu ya Allah, kami dapat
tunaikan ibadah umrah dengan hikmat.
.jpeg) |
Allahu akbar! |
 |
Para pencari Tuhan |
.jpeg) |
Every moslem dream! |
Hari-hari setelahnya kami
menghabiskan waktu dengan banyak-banyak beribadah di masjidil Haram,
mendengarkan kumandang adzan dan bacaan merdu imam besar memimpin shalat. Ada
kisah menarik yang tak terlupakan. Pernah suatu ketika saat itu sambil menunggu
Isya, perut rasanya keroncongan sekali. Mau balik ke hotel untuk makan, jauh
dan tanggung. Akhirnya lanjut baca buku shirah nabawi karya Sheikh
Al-Mubarakfuri sambil menahan lapar dan bergumam “andai di Indonesia,
masjid-masjidnya banyak sekali makanan apalagi di bulan Ramadhan”. Tak sampai 5
menit kemudian, ada jamaah membagi-bagikan kurma. 3 butir kurma saja, yang
memang merupakan sunnahnya nabi memakan kurma dalam jumlah ganjil, cukup untuk
membuat perut berhenti keroncongan. Masya Allah.
.jpeg)
 |
Disclaimer 2: Berkunjung ke kota Thaif selalu menjadi impian sejak dulu. Kota dimana kesabaran dan keluasan hati seorang Muhammad SAW diuji. Nabi Muhammad SAW hijrah ke Thaif pada tahun 619 M untuk mencari perlindungan dari tekanan kaum Quraisy di Mekkah. Beliau ditemani oleh Zaid bin Haritsah RA. Akan tetapi penduduk Thaif menolak Nabi dan Zaid mentah-mentah, mereka melempari Nabi dengan batu hingga berdarah. Setelah berhasil kabur dan mengistirahatkan diri sembari bersandar di pohon kurma, Rasulullah mengutarakan doanya yang sarat dengan kesedihan kepada Allah, “In lam takun ‘alayya Ghodlobun fala ubali”, asalkan engkau ya Allah tak marah padaku, menang atau hancurpun aku tak peduli… (diceritakan oleh Emha Ainun Najib). Melihat penolakan yang membuat hati nabi tersebut, malaikat penjaga gunung Akhsyabain yang terletak dipinggiran kota Thaif menawarkan seandainya Nabi mau, niscaya Thaif beserta penduduknya akan hancur lebur luluh lantak digencet oleh 2 gunung berbatu, namun Rasulullah justru berdoa agar kelak penduduk Thaif diisi oleh orang-orang soleh, dan doa Rasulullah tersebut memang benar menjadi kenyataan. |
Mungkin cukup sekian catatan
kali ini, sebab sebagian besar pengalaman disana merupakan perjalanan yang tak
bisa banyak dituliskan dengan kata. Maha besar Dzat yang jiwaku ada dalam
genggaman-Nya, yang telah memperjalankan dan membimbing langkah kaki dan
memudahkannya. Semoga Allah memanggil kami lagi di lain kesempatan, Bismillah
bersama keluarga lengkap. Bismillah, Medina-Macca till we meet again…
.jpg) |
Zam-zam Tower. Seperti Big Ben di London, tapi magis. Waktu nyebut zam-zam tower di depan Ka'bah, lidah keplicuk tanpa sadar nyebut Big Ben. Semoga itu dikasih pertanda sama Gusti Allah besok suatu saat bisa ke London sekalian nonton Chelsea tanding di Stamford Bridge. |
.jpeg) |
Jabbal Rahmah alias bukit kasih sayang, tempat Adam as dipertemukan Allah kembali dengan Hawa |
.jpeg) |
Zam-zam tower di malam hari, simply mesmerizing! |
.jpeg) |
Bersua kembali dengan Dr. Hammis Syafaq di BNI Jembatan Merah untuk mengisi pengajian, beliau pemandu rombongan kami pada saat Umroh. Sehat selalu gurunda... |
 |
Saat keberangkatan. Sengaja fotonya ditaruh paling akhir sebagai tanda doa untuk mengunjungi tanah suci bersama anggota keluarga lengkap. Semai rindu kami untuk kembali... |